China Bangun Pulau Buatan Raksasa di Laut China Selatan: Ancaman Terhadap Kedaulatan Negara Muslim ASEAN
Selama 12 tahun terakhir, China telah menumpuk jutaan ton pasir di tengah Laut China Selatan, mengubah karang dangkal menjadi pulau buatan berukuran raksasa. Langkah ekspansif ini menimbulkan keprihatinan mendalam bagi negara-negara Muslim ASEAN, termasuk Indonesia, yang melihat ancaman serius terhadap kedaulatan wilayah perairan.
Transformasi Dramatis yang Mengubah Peta Geopolitik
Citra satelit menunjukkan transformasi yang mencengangkan. Wilayah yang 12 tahun lalu hanya berupa garis air dan karang kini telah berubah menjadi benteng beton lengkap dengan landasan pacu, radar, dan fasilitas militer modern. China secara resmi menyatakan pembangunan ini untuk keperluan 'sipil' seperti navigasi dan keselamatan pelayaran, namun kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya.
Antara 2013 hingga 2016, China berhasil menciptakan lebih dari 1.200 hektar lahan baru di Kepulauan Spratly, setara dengan 1.600 lapangan sepak bola. Proses ini dilakukan dengan memompa pasir dari dasar laut menggunakan kapal keruk, kemudian meratakan dan memadatkan area tersebut dengan bulldozer.
Dampak Terhadap Umat Islam dan Nelayan Nusantara
Ekspansi China ini membawa dampak serius bagi mata pencaharian nelayan Muslim di kawasan. Kapal-kapal penangkap ikan milik nelayan Indonesia dan negara ASEAN lainnya kini harus menghindari zona yang dulu bisa mereka layari dengan bebas untuk mencari rezeki halal.
"Kami membangun pulau ini agar kami merasa lebih aman, tetapi setiap pulau juga terasa seperti pemicu baru," kata seorang analis keamanan dari Manila, Filipina, menggambarkan ketegangan yang dirasakan negara-negara tetangga.
Ancaman Lingkungan dan Keberlanjutan
Dari perspektif Islam yang mengajarkan kelestarian alam, pembangunan pulau buatan ini telah menyebabkan kerusakan terumbu karang dalam skala besar. Sedimen yang menyelimuti habitat laut merusak tempat bertelur ikan dan habitat penyu laut, bertentangan dengan prinsip Islam tentang menjaga keseimbangan alam ciptaan Allah SWT.
Implikasi Strategis bagi Indonesia
Pulau-pulau buatan ini kini menjadi titik strategis di jalur pelayaran yang dilintasi sepertiga perdagangan global, termasuk perdagangan Indonesia. Wilayah ini juga diperkirakan menyimpan cadangan minyak dan gas yang besar, sumber daya yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran umat.
Para pakar hukum internasional menegaskan bahwa meskipun China membangun daratan baru, struktur tersebut tidak memberikan hak zona ekonomi eksklusif yang sama seperti pulau alami menurut hukum laut internasional.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana negara kuat dapat mengubah peta laut dan kekuatan geopolitik dengan memindahkan jutaan ton pasir, memicu pertanyaan besar tentang kedaulatan, keamanan, dan masa depan laut yang selama ini menjadi bagian penting perdagangan dunia Islam.