Pernahkah Anda merasa dekat dengan seorang sahabat, namun di saat yang sama sering membandingkan diri dengannya? Anda turut bahagia ketika ia meraih pencapaian, tetapi ada sedikit gundah di hati ketika keberhasilannya terasa jauh lebih tinggi. Hubungan semacam ini memang tidak selalu mudah dipahami, karena di dalamnya bercampur rasa sayang, kagum, iri, dan juga kompetisi. Dalam Islam, menjaga hati dan silaturahmi adalah bagian dari keimanan, sehingga penting bagi kita untuk merenungkan dinamika ini dengan jernih.
Apa yang dimaksud dengan frenemy dalam pertemanan?
Istilah frenemy merupakan gabungan dari friend dan enemy. Dalam kajian tentang hubungan frenemy, relasi ini digambarkan sebagai hubungan yang dari luar tampak seperti pertemanan, tetapi di dalamnya menyimpan persaingan, kecemburuan, atau rasa tidak percaya. Lantas, apakah dinamika seperti ini mungkin terjadi dalam pertemanan kita? Jika frenemy effect mulai terasa, cobalah merenungkan lima pertanyaan berikut ini dengan hati yang tenang.
Bagaimana reaksi Anda saat teman meraih keberhasilan?
Coba perhatikan reaksi Anda ketika teman mendapatkan sesuatu yang selama ini juga Anda inginkan. Mungkin Anda tetap mengucapkan selamat dan benar-benar bangga kepadanya, tetapi setelah itu muncul bisikan hati seperti, “Mengapa ia sudah sampai di sana, sedangkan aku masih di sini?” Perasaan tersebut tidak otomatis menjadikan Anda teman yang buruk. Membandingkan diri dengan orang terdekat adalah respons yang manusiawi, terutama ketika usia, lingkungan, atau tujuan kita mirip.
Yang perlu diperhatikan adalah apa yang terjadi setelah rasa itu muncul. Apakah Anda menjadikannya bahan evaluasi untuk berkembang, atau justru mulai berharap pencapaiannya tidak bertambah? Ketika keberhasilan teman terasa seperti ancaman terhadap harga diri, hubungan tersebut mulai mengandung unsur kompetisi tersembunyi yang kerap ditemukan dalam dinamika frenemy.
Apakah percakapan Anda terasa seperti perlombaan?
Pertemanan sejatinya menjadi ruang untuk bercerita tanpa harus membuktikan siapa yang lebih hebat. Namun, coba ingat kembali, apakah setiap kali Anda bercerita, teman Anda merasa perlu membalas dengan cerita yang lebih besar? Anda mendapat promosi, lalu ia menceritakan pencapaiannya. Anda membeli sesuatu yang lama diinginkan, lantas ia menunjukkan barang yang lebih mahal. Bahkan obrolan sederhana tentang pekerjaan, keluarga, atau gaya hidup bisa berubah menjadi perlombaan kecil.
Satu-dua kali membicarakan pencapaian tentu bukan masalah. Yang patut direnungkan adalah apakah pola tersebut membuat Anda merasa harus terus “menyamai” atau “mengalahkan” teman? Dalam hubungan frenemy, orang lain tidak lagi sepenuhnya dilihat sebagai sahabat yang ingin didukung, tetapi juga sebagai rival yang perlu dilampaui. Ketika percakapan terasa seperti papan peringkat yang tak pernah berhenti, sudah saatnya kita mengevaluasi pertemanan tersebut.
Bagaimana perasaan Anda ketika teman menjadi pusat perhatian?
Ada kalanya rasa tidak nyaman muncul bukan karena pencapaian besar, tetapi karena perhatian yang diterima teman. Misalnya, ketika ia lebih sering dipuji, lebih mudah menjadi pusat perhatian dalam kelompok, atau tampak memiliki lebih banyak kawan. Anda mungkin tetap bersikap ramah, tetapi diam-diam merasa kesal setiap kali ia menjadi sorotan. Bahkan, bisa muncul dorongan untuk mencari kekurangannya agar keberadaannya tidak terasa terlalu menonjol.
Perasaan seperti ini penting untuk dikenali tanpa buru-buru menghakimi diri sendiri. Persoalannya bukan sekadar merasa iri, melainkan ketika rasa iri tersebut memengaruhi cara kita memperlakukan teman. Penelitian mengenai frenemy menemukan bahwa kecemburuan terhadap koneksi sosial maupun hal-hal yang dimiliki orang lain dapat menjadi bagian dari dinamika tersebut. Jadi, pertanyaannya bukan “Apakah aku pernah iri?”, melainkan “Apa yang kulakukan ketika rasa iri itu muncul?”
Apakah Anda merasa nyaman berbagi kabar baik?
Coba pikirkan, apakah Anda bisa dengan nyaman membagikan kabar baik kepada teman tersebut? Jika justru muncul kekhawatiran bahwa cerita Anda akan dibandingkan, diremehkan, atau dijadikan bahan kompetisi, mungkin ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Begitu pula sebaliknya, apakah Anda sengaja mengecilkan pencapaian sendiri karena takut teman merasa tersaingi? Pertemanan yang seharusnya menjadi tempat berbagi akhirnya terasa seperti ruang yang perlu dijaga terus-menerus.
Hubungan yang dipenuhi sinyal campuran seperti ini memang membingungkan, karena dari luar semuanya tampak baik-baik saja. Padahal, riset menunjukkan bahwa hubungan semacam ini dapat bertahan karena orang masih mendapatkan manfaat sosial tertentu, meskipun di dalamnya terdapat rasa tidak percaya atau ketegangan. Karena itu, rasa harus “berjalan di atas kulit telur” saat berbagi kebahagiaan bisa menjadi bahan refleksi yang penting.
Apakah Anda tulus ingin teman terus berkembang?
Ini mungkin pertanyaan yang paling sulit dijawab dengan jujur. Bayangkan teman Anda mendapatkan pekerjaan impian, memiliki keluarga yang bahagia, mencapai sesuatu yang selama ini Anda kejar, atau bahkan melampaui Anda dalam bidang yang sama. Apakah Anda tetap ingin melihatnya berkembang meski pencapaiannya membuat Anda merasa tertinggal? Atau ada bagian dalam diri yang berharap ia berhenti sampai di titik tertentu agar jarak di antara kalian tidak terlalu jauh?
Tidak ada manusia yang harus selalu bebas dari rasa iri atau insecure. Namun, dalam pertemanan yang sehat, keberhasilan teman pada dasarnya tidak perlu menjadi ancaman bagi keberadaan kita. Sebagai umat yang diajarkan untuk saling mendoakan dalam kebaikan, kita bisa menjadikan keberhasilan saudara kita sebagai motivasi, bukan sumber kecemburuan. Frenemy effect menjadi relevan ketika hubungan yang tampak akrab mulai dipengaruhi oleh keinginan untuk mengungguli, kecemburuan, dan ketidakpercayaan.
Bagaimana cara menyikapi frenemy effect dengan bijak?
Memiliki sedikit rasa iri atau rasa kompetitif bukan berarti terdapat frenemy effect dalam pertemanan. Yang perlu diperhatikan justru pola yang terus berulang dan cara perasaan tersebut memengaruhi hubungan. Dengan mengenalinya lebih awal, kita bisa membedakan mana kompetisi yang mendorong pertumbuhan dan mana yang perlahan membuat pertemanan terasa seperti pertandingan tanpa garis akhir.
Dalam perspektif Islam, pertemanan adalah amanah yang harus dijaga dengan keikhlasan. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk saling mencintai karena Allah, saling menasihati dalam kebaikan, dan menjauhkan diri dari hasad yang dapat merusak hati. Semoga dengan merenungkan lima pertanyaan ini, kita dapat menjaga hati tetap bersih, silaturahmi tetap erat, dan pertemanan menjadi ladang pahala yang membawa keberkahan di dunia dan akhirat. Wallahu a'lam bish-shawab.
