Manisnya Pernikahan di Akhir Bulan: Bahagia Itu Kita yang Ciptakan
Banyak orang mengira kebahagiaan pernikahan bergantung pada kelancaran rezeki, terutama saat awal bulan tiba. Padahal, manisnya pernikahan sejatinya lahir dari rasa syukur, kesabaran, dan keyakinan bahwa Allah SWT telah menetapkan pasangan sebagai sumber ketenangan. Di tengah keterbatasan akhir bulan, justru di situlah ujian dan peluang untuk menciptakan kebahagiaan yang hakiki.
Apakah Bahagia Itu Harus Selalu Butuh Syarat?
Kadang semua orang memiliki alasan bagaimana membuat pernikahan itu bahagia. Seakan untuk bahagia itu perlu syarat. Tapi, itu semua benar. Pernikahan yang bahagia itu benar-benar membutuhkan syarat. Karena bahagia itu dirasakan, bukan sekadar dilihat orang lain.
Ketika seorang perempuan memiliki suami dan anak-anak, bagi pandangan orang di luar sana, ah si A sudah berbahagia karena sudah punya suami dan anak. Sesuai apa yang terjadi pada perempuan pada umumnya. Namun apakah perempuan itu berbahagia atau tidak? Harus ditanyakan pada orangnya. Bagaimana rasa dan perasaannya saat ini semenjak menikah dan punya anak.
Bahagia di Akhir Bulan: Antara Rezeki dan Rasa Syukur
Jika awal bulan mungkin semua berjalan mulus. Uang ada, keperluan tinggal beli. Ketika tengah dan akhir bulan mungkin sudah mulai mengais bahan yang tersisa di kulkas? Atau mulai mengulik uang tabungan atau simpanan?
Sejatinya bahagia itu tidak hanya karena uang. Kesehatan yang dimiliki keluarga, anak-anak yang aktif dan riang pun bisa jadi sumber kebahagiaan. Fenomena Marriage is Scary yang beberapa waktu lalu ramai di sosial media, hastag itu muncul bersama kisah sedih orang yang berumah tangga. Entah perselingkuhan, pengkhianatan, atau suami atau istri yang memiliki watak buruk. Membuat sebagian anak muda yang sudah berada di usia menikah memikirkan ulang. Apakah ia akan menikah atau tidak.
Menikah Itu Ibadah: Dalil dari Al-Quran dan Hadis
Walau bagaimana pun, menikah adalah sunnah yang diajarkan nabi terakhir kita Nabi Muhammad SAW. Menikah adalah ibadah seumur hidup. Sesuai dalam Al-Quran surah Ar Rum ayat 21 yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri... agar kamu merasa tenteram, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
Ada pula tertulis dalam hadis berikut:
“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian sudah mampu menikah, maka menikahlah. Karena sesungguhnya nikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu bagaikan perisai baginya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (H.R. Al-Baihaqi)
Bagaimana Cara Menciptakan Bahagia dalam Pernikahan?
Pernikahan yang bahagia, manisnya pernikahan itu kita yang buat. Kita jua yang rasakan. Ketika memilih pasangan, bukankah kita pula yang menentukan menerima atau tidak pinangan itu. Bagi lelaki ia akan menilai sendiri calon istrinya, dan tentu perlu keberanian untuk meminang calon istri ke orangtuanya. Pilihan itu kita yang tentukan, maka bahagia kita pula yang ciptakan.
Di usia pernikahan yang hampir 7 tahun ini aku merasakan pernikahan itu memang tak selalu berjalan mulus. Ada saja dramanya. Dari berbagai aspek. Kata orang pernikahan itu seperti berada di dalam bahtera (kapal besar). Itulah mengapa sering disebut bahtera pernikahan. Kadang ombak menerjang, kadang lautan tenang, kadang angin menghempas. Ego dari masing-masing yang tinggi kadang membuat semua menjadi makin runyam.
Namun jika satu sedang membara, usahakan pasangan satunya menjadi es yang mendinginkan.
Akhir Bulan dengan Tenaga Terakhir: Kebersamaan di Rumah
Setelah 7 tahun aku menyadari bahwa kebahagiaan atau manisnya pernikahan kita yang ciptakan. Seperti di akhir bulan seperti ini, pada akhir minggu kami tak ke mana-mana. Melainkan mengerjakan apa saja yang ada di rumah. Mungkin urusan rumah tak akan pernah selesai, ditambah adanya 3 orang anak yang membersamai kami. Ketiganya saat ini belum bisa membantu orangtuanya merapikan, atau pun mencuci piring. Belum. Mereka masih sibuk dengan proyek masa kecil. Bermain. Main rumah-rumahan. Tak heran jika ditanya sedang apa, dengan lantang anak lelakiku bilang, “Atan lagi sibuk!” Sambil buat rumah-rumahan dari buku.
Di akhir bulan dengan tenaga terakhir, kami hanya di rumah saja. Namun justru di sanalah kami merasakan manisnya pernikahan: bukan pada gemerlap dunia, melainkan pada ketenangan hati yang Allah titipkan di antara kami.
FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Kebahagiaan Pernikahan
Apakah pernikahan yang bahagia harus selalu kaya?
Tidak. Kebahagiaan pernikahan tidak diukur dari harta semata. Kesehatan, keharmonisan, dan rasa syukur adalah sumber kebahagiaan yang lebih hakiki menurut ajaran Islam.
Bagaimana cara menjaga keharmonisan rumah tangga di tengah keterbatasan?
Perbanyak sabar, saling mendoakan, dan fokus pada kebersamaan sederhana. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa menikah adalah menyempurnakan separuh agama, sehingga setiap ujian adalah ladang pahala.
Apa dalil tentang pernikahan sebagai ibadah?
Dalilnya terdapat dalam Al-Quran surah Ar Rum ayat 21 dan hadis riwayat Bukhari, Muslim, serta Al-Baihaqi yang menjelaskan bahwa pernikahan adalah sunnah Nabi dan ibadah seumur hidup.