Aktivis Media Sosial Dapat Teror Kepala Anjing di Ramadan
Bulan suci Ramadan yang seharusnya menjadi waktu refleksi dan kedamaian justru ternoda oleh aksi teror yang mengguncang ketenangan keluarga Muslim. Palti Hutabarat, seorang pegiat media sosial dan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, menerima kiriman bangkai kepala anjing di halaman rumah orang tuanya di Kecamatan Namo Rambe, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara pada Rabu pagi, 18 Maret 2026.
Palti yang sedang berada di Jakarta mendapat kabar mengejutkan tersebut melalui foto dan video yang dikirimkan kakaknya lewat grup WhatsApp keluarga. Dokumentasi yang diterima memperlihatkan kepala anjing berbulu cokelat yang dipenggal, terletak begitu saja di depan rumah tanpa penutup apapun.
Kronologi Kejadian yang Meresahkan
Menurut keterangan Palti, pada Selasa malam 17 Maret 2026, kakaknya mendengar suara benda jatuh di depan rumah namun baru diperiksa keesokan harinya. "Rabu paginya Mama bangunkan Kakak untuk cek ada benda apa di depan rumah. Itulah kepala anjing yang dikirim Kakak di grup WhatsApp keluarga," ungkap Palti saat dihubungi pada Kamis, 19 Maret 2026.
Upaya pelacakan pelaku terhambat karena kamera pengawas di pos keamanan dalam kondisi rusak. Di sekitar rumah pun tidak terdapat kamera pengawas yang dapat membantu identifikasi pelaku.
Dari informasi yang dikumpulkan melalui kepala keamanan kompleks, masyarakat yang beraktivitas hingga Selasa pukul 23.00-00.00 WIB tidak melihat adanya orang yang mencurigakan. Palti menduga pelaku mengirim bangkai tersebut sebelum pukul 23.00 atau setelah tengah malam.
Rangkaian Teror yang Mengkhawatirkan
Kejadian ini bukanlah yang pertama dialami Palti. Beberapa hari sebelumnya, keluarganya mengalami serangkaian gangguan yang mencurigakan. Pada Rabu, 11 Maret 2026, ada orang tak dikenal yang menanyakan keberadaan penghuni rumah orang tuanya.
Kemudian pada Jumat, 13 Maret, datang paket belanja fiktif dengan sistem bayar di tempat. Disusul pada Sabtu, 14 Maret 2026, kurir mengantarkan paket atas nama mendiang ayahnya. Karena mencurigai paket-paket tersebut berisi ancaman, Palti meminta keluarga tidak membuka dan mengembalikan ke kurir.
Kecurigaan ini berawal dari teror melalui pesan WhatsApp yang diterima Palti pada 25 Februari 2026. Pesan dari dua nomor berbeda melampirkan gambar dengan foto Palti disertai tulisan merah yang menudingnya sebagai penyebar hoaks.
Dugaan Motif dan Harapan Keadilan
Palti menilai teror ini berkaitan dengan aktivitasnya di media sosial yang kerap mengkritik kebijakan pemerintahan. "Kalau melihat konten saya yang sering mengkritik pemerintah, dugaan saya kemungkinan untuk memberikan rasa takut," kata Palti.
Dia berharap kasus ini dapat diusut tuntas oleh aparat penegak hukum karena telah menimbulkan rasa takut dan cemas bagi keluarganya. Kekhawatiran semakin besar mengingat kejadian serupa menimpa aktivis KontraS, Andrie Yunus, yang mendapat serangan air keras pada 12 Maret 2026, serta DJ Donny yang mengalami teror bangkai ayam dan bom molotov.
Saat ini Palti mendapat pendampingan dari Badan Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat PDIP. Anggota BBHAR PDIP, Wiradarma Harefa, mengecam keras pengiriman teror bangkai hewan, apalagi terjadi di bulan suci Ramadan.
"Kami mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengungkap kasus ini dan menangkap pelakunya," tegas Harefa saat dikonfirmasi pada Rabu malam, 18 Maret 2026.
Kejadian ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keamanan dan ketentraman, terutama di bulan suci yang seharusnya dipenuhi dengan kedamaian dan refleksi spiritual.