Ketika Rencana Menjatuhkan Tehran Justru Berbalik ke Washington
Sejak hari pertama Operation Epic Fury, narasi resmi Washington sangat sederhana: operasi militer ini dimaksudkan untuk melumpuhkan ancaman Iran sekaligus membuka jalan bagi perubahan rezim.
Namun jika seluruh perkembangan politik, biaya perang, dan reaksi publik Amerika Serikat yang berkembang sejauh ini dibaca secara dingin, justru muncul satu ironi strategis yang sangat kuat. Bahwa proyek menjatuhkan Tehran perlahan berbalik arah menjadi tekanan politik yang menggerus legitimasi Presiden Donald Trump di dalam negeri.
Dengan kata lain, rencana menggulingkan rezim Revolusi Islam Iran berubah menjadi krisis politik yang mengancam posisi politik Trump sendiri.
Tujuan Ambisius, Hasil Minimal
Tujuan resmi yang disampaikan oleh Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sangat ambisius mulai dari penghancuran program nuklir, pelumpuhan kemampuan rudal, penghancuran jaringan proksi regional, hingga membuka peluang perubahan rezim.
Namun, sudah lebih dari seminggu berlalu, operasi ini justru memperlihatkan jurang yang lebar antara tujuan politik dan hasil strategis.
Berdasarkan battle damage assessment awal yang muncul sejauh ini, pencapaian keseluruhan terhadap tujuan militer-strategis tersebut diperkirakan baru mencapai kisaran 35-45 persen. Angka ini masih jauh dari degradasi total karena banyak aset bawah tanah, dispersi, dan kemampuan adaptasi IRGC yang tersisa.
Iran Justru Menguat
Target perubahan rezim bahkan lebih rendah, hanya berada pada kisaran 20-30 persen, meskipun pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta puluhan elite militer dan politik senior gugur di tahap awal operasi.
Nyatanya, sistem pemerintahan dan represi rezim tetap berjalan dengan relatif stabil melalui mekanisme suksesi darurat dan kontrol IRGC/Basij yang terdesentralisasi. Alih-alih melemah, kekuatan politik internal justru menunjukkan konsolidasi cepat melalui narasi perlawanan nasionalis.
Dalam literatur hubungan internasional, kegagalan seperti ini bukan anomali. Rezim jarang runtuh hanya oleh kekuatan udara. Tanpa invasi darat, tanpa fragmentasi elite yang masif, dan tanpa oposisi domestik yang terorganisir, serangan eksternal justru lebih sering memicu konsolidasi kekuasaan.
Memori Kolektif Perlawanan
Dalam konteks Iran, efek ini jauh lebih kuat. Memori kolektif tentang intervensi asing, mulai dari kudeta 1953 hingga perang Iran-Irak, menciptakan sensitivitas nasionalisme yang sangat tinggi. Serangan Amerika Serikat dan Israel justru memperkuat solidaritas internal, bukan mempercepat keruntuhan.
Gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei memang merupakan guncangan politik yang luar biasa. Namun guncangan tersebut tidak berujung pada disintegrasi negara. Dewan Kepemimpinan Sementara terbentuk dengan cepat, dan struktur keamanan tetap solid di bawah Korps Garda Revolusi Islam.
Dalam empat hari pertama konflik, tidak terlihat fragmentasi elite yang signifikan. Aparat keamanan tetap mampu mengendalikan situasi domestik. Bahkan, efek "rally around the flag" justru semakin kuat ketika serangan asing datang secara terbuka.
Biaya yang Membengkak
Jika kita turunkan konflik ini ke level yang lebih teknokratis, persoalannya menjadi semakin telanjang. Dalam seminggu pertama operasi, biaya gabungan militer Amerika Serikat dan Israel sudah berada pada kisaran 6 hingga 9 miliar dolar AS.
Pengeluaran harian mencapai sekitar 891 juta dolar AS untuk AS saja, ditambah estimasi mingguan Israel sekitar 3 miliar dolar AS serta dampak ekonomi awal akibat lonjakan harga energi global yang mencapai miliaran dolar tambahan.
Inilah titik buta utama Washington. Mereka mengasumsikan bahwa tekanan militer akan memicu delegitimasi rezim. Yang terjadi justru sebaliknya. Tekanan eksternal memberi justifikasi politik dan moral bagi negara untuk mengeras, mempersempit ruang oposisi, dan mengkonsolidasikan loyalitas aparat.