ART Nur Kabur dari Majikan, Gaji Tertunda dan Hati Tak Nyaman
Kisah seorang pekerja rumah tangga kerap menyimpan cerita derita yang tersembunyi di balik pintu rumah majikan. Hal ini dialami oleh Nur, seorang asisten rumah tangga (ART) yang bekerja di kediaman Erin Anthony, mantan istri Andre Taulany. Nur akhirnya memilih meninggalkan tempat kerjanya karena tidak lagi kuat menahan beban psikologis. Kasus ini menjadi renungan bagi kita semua tentang pentingnya memelihara keadilan dan keberpihakan terhadap hak-hak pekerja sebagaimana fitrah kemanusiaan dan tuntunan agama.
Tekanan Psikologis dan Hak untuk Pulang
Kuasa hukum Nur, Basuki, mengungkapkan bahwa kliennya memutuskan pergi bukan tanpa alasan yang jelas. Sejak awal bekerja, sekitar 15 hari, Nur sudah merasa tidak kerasan karena situasi yang membuat hatinya tidak nyaman. Ia sudah beberapa kali meminta izin untuk dipulangkan, namun pihak majikan menolak dengan alasan harus menunggu pengganti dari yayasan.
Ditunggu tidak ada, ditunggu tidak ada, dan puncaknya sudah tidak tertahan lagi sampai hampir dua bulan di sana. Akhirnya melarikan diri. Melarikan diri bukan bermaksud apa pun, karena adanya tekanan psikologis akibat rentetan peristiwa yang terjadi di rumah itu.
Dalam pandangan Islam, menahan seseorang yang ingin pulang dan merasa tidak nyaman adalah bentuk ketidakadilan. Kondisi ini memuncak hingga hampir dua bulan, dan membuat Nur mengalami tekanan psikologis yang berat.
Sikap Suami: Cermin Pelindung Keluarga
Sebelumnya, pihak Erin menyebutkan bahwa suami Nur menjadi salah satu faktor penyebab kepergiannya. Menanggapi hal ini, Basuki menilai sikap suami Nur adalah sesuatu yang sangat wajar dan patut diapresiasi. Seorang suami memiliki tanggung jawab sebagai pelindung bagi istrinya.
Setiap orang boleh menyampaikan versinya masing-masing. Tapi faktanya, seorang suami mana pun kalau mendapatkan curhatan dari istrinya, apalagi istrinya jauh dari dirinya dan tinggal di rumah orang lain, tentu akan mengambil sikap bagaimana istrinya ini selamat.
Basuki menegaskan bahwa kepedulian suami terhadap keselamatan istrinya tidak bisa serta-merta dijadikan kambing hitam atas keputusan Nur pergi. Di rumahnya sendiri, Basuki memiliki ART yang bekerja bertahun-tahun tanpa masalah karena dilandasi rasa saling menghormati.
Persoalan Gaji yang Tertunda
Selain masalah rasa nyaman, isu pembayaran gaji juga menjadi sorotan utama. Dalam ajaran agama, mempercepat pembayaran upah pekerja adalah kewajiban yang sangat ditekankan. Basuki mengungkapkan bahwa gaji Nur untuk bulan April sudah dibayarkan, namun gaji bulan Mei yang seharusnya diterima pada 3 Juni 2026 belum juga masuk ke rekening kliennya.
Pihak Erin mengklaim telah melakukan transfer, namun setelah dicek di rekening koran dan buku tabungan, tidak ada dana yang masuk hingga saat ini.
Menariknya, pada Jumat siang kemarin, Basuki menerima telepon dari seseorang yang diduga sebagai asisten Andre Taulany. Penelepon tersebut meminta nomor rekening terkait pembayaran gaji yang tertunda.
Tadi setelah salat Jumat kami ditelepon oleh seseorang yang menanyakan nomor rekening dan lain sebagainya. Kondisi Teh Nur sendiri belum stabil, jadi kami belum bisa memberikan nomor rekeningnya.
Telepon tersebut awalnya masuk ke suami Nur sebelum akhirnya diarahkan ke kuasa hukum. Pihak asisten Andre menyampaikan bahwa ia diperintahkan oleh Ibu E untuk segera melakukan pembayaran. Semoga dengan tersingkapnya kebenaran ini, hak Nur sebagai pekerja dapat dipenuhi dengan adil, dan kita senantiasa diingatkan untuk memuliakan setiap pekerja di bumi Nusantara ini.