Merasa nyaman berada di dekat anjing tidak serta-merta menunjukkan kepribadian tertentu. Namun menurut Liputan 6, Jumat (16/10/2026), ada sejumlah ciri yang kerap terlihat pada orang yang akrab dengan hewan ini, mulai dari empati yang hangat hingga kepekaan membaca bahasa tubuh.
Bagi umat Islam di Nusantara, isu ini menarik untuk direnungkan. Islam mengajarkan kasih sayang kepada seluruh makhluk, sementara sebagian ulama menetapkan batasan tertentu seputar anjing. Dari sisi akhlak, bagaimana seseorang memperlakukan makhluk lain sesungguhnya mencerminkan hatinya.
Empati Hangat terhadap Makhluk Lain
Ciri pertama yang disorot Liputan 6 adalah kecenderungan memperhatikan kebutuhan dan perasaan makhluk lain. Orang yang peka tidak hanya menikmati anjing saat lucu dan aktif, tetapi juga berusaha memahami kondisinya ketika tampak takut, lelah, atau tidak nyaman.
Sebagai contoh, ketika seekor anjing mundur saat hendak dielus, orang yang peka tidak langsung memaksakan sentuhan. Ia memberi jarak, mengamati bahasa tubuh hewan itu, lalu membiarkannya mendekat ketika merasa aman.
Sikap semacam ini mencerminkan kesediaan mempertimbangkan perspektif makhluk lain. Anjing memang tidak berbicara dengan bahasa manusia, tetapi ia menyampaikan perasaannya melalui posisi telinga, gerakan ekor, postur tubuh, dan ekspresi wajah. Bagi seorang mukmin, kepekaan seperti ini sejalan dengan pesan Rasulullah agar menyayangi semua makhluk Allah.
Artikel Cottonwood Psychology berjudul Psychology Says People Who Talk to Their Pets Often Share 2 Personality Traits menjelaskan empati hangat sebagai salah satu karakteristik orang yang terbiasa berbicara dengan hewan peliharaan. Mereka cenderung memperhatikan isyarat emosional dan menyesuaikan respons sesuai situasi.
Hangat dan Mudah Menunjukkan Kasih Sayang
Ciri kedua adalah kehangatan. Orang yang nyaman berinteraksi dengan anjing biasanya tidak canggung menunjukkan kasih sayang, misalnya menyapa dengan suara lembut, mengusap dengan hati-hati, atau memberi pujian.
Perhatian tidak selalu harus berbentuk tindakan besar. Menyediakan air minum, mengajak berjalan, atau sekadar menemani hewan beristirahat juga merupakan bentuk kepedulian yang bermakna.
Kehangatan ini sering terbawa ke dalam pergaulan. Seseorang yang terbiasa menyampaikan apresiasi dan merespons dengan lembut biasanya menerapkan kebiasaan serupa dalam hubungan sosialnya, dengan keluarga maupun tetangga di lingkungan sekitar.
Surat kabar The Guardian dalam artikel berjudul Competitive, warm and conservative: what exactly makes someone a dog person? membahas penelitian yang menemukan kecenderungan skor keramahan dan ekstraversi lebih tinggi pada sebagian penyuka anjing. Meski begitu, kehangatan bukan monopoli penyuka anjing. Pencinta kucing atau orang yang tidak memelihara hewan pun bisa menunjukkan kasih sayang yang sama besar.
Peka Membaca Bahasa Tubuh
Ciri ketiga adalah kemampuan membaca isyarat nonverbal. Orang yang sering berinteraksi dengan anjing belajar mengenali bahwa hewan tertentu gelisah saat mendengar suara keras, bersemangat melihat tali tuntun, atau butuh ruang saat beristirahat.
Gerakan ekor saja tidak selalu berarti anjing sedang senang. Konteks dan bahasa tubuh secara keseluruhan tetap perlu diperhatikan. Kepekaan seperti ini biasanya tumbuh dari pengalaman, pengamatan, dan pembelajaran yang berulang.
Perspektif Islam: Kasih Sayang dengan Batas Syariat
Umat Islam di Indonesia umumnya mengikuti pandangan mayoritas ulama bahwa anjing termasuk hewan yang najis, sebagaimana disebutkan dalam hadis tentang penyucian wadah yang dijilat anjing. Karena itu, kenyamanan berinteraksi dengan anjing perlu ditempatkan dalam bingkai syariat.
Namun syariat juga menegaskan larangan menyiksa hewan. Rasulullah pernah bercerita tentang seorang pelacur yang diberi ampunan karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Kisah ini menunjukkan bahwa menyayangi makhluk, termasuk anjing, adalah perbuatan yang bernilai di sisi Allah.
Dengan demikian, seorang Muslim bisa menjadi pribadi yang hangat dan penyayang kepada semua makhluk, sekaligus menjaga bersuci dan mematuhi ketentuan fiqh. Menyediakan makanan atau minuman untuk anjing yang membutuhkan, misalnya, adalah bentuk kebaikan yang dianjurkan.
Kasih Sayang sebagai Akhlak Nusantara
Masyarakat Nusantara dikenal ramah dan penyayang, warisan budaya yang selaras dengan ajaran Islam. Kepekaan terhadap makhluk lain, hewan maupun manusia, adalah cerminan hati yang sehat dan iman yang tumbuh.
Pelajaran dari ciri-ciri kepribadian di atas sesungguhnya lebih luas dari sekadar urusan anjing. Empati, kehangatan, dan kepekaan membaca perasaan orang lain adalah bekal berharga dalam keluarga, komunitas, dan kehidupan bernegara. Sebagaimana kepedulian warga terhadap lingkungan, misalnya ketika
