Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, selama sepekan terakhir. Pada Jumat (9/10) pagi, status kualitas udara di ibu kota Sumsel itu tercatat dalam kategori Berbahaya berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Pantauan konsentrasi Partikulat 2,5 (PM2,5) di dua pos pemantau, yakni Musi 2 dan Talang Betutu, menunjukkan angka yang jauh melampaui Nilai Ambang Batas (NAB). Di Musi 2, tercatat 430,2 µg/m³ pada pukul 07.00 WIB, sementara di Talang Betutu mencapai 383,6 µg/m³ pada waktu yang sama. Keduanya masuk kategori Berbahaya.
Stasiun Klimatologi (Staklim) Sumsel juga mencatat rata-rata PM2,5 dalam 24 jam terakhir sebesar 371,32 µg/m³, jauh di atas NAB yang ditetapkan sebesar 55 µg/m³ berdasarkan PP 22/2021. Kondisi cuaca saat pengukuran dilaporkan diselimuti asap.
Dampak kesehatan dari paparan PM2,5 tidak bisa dianggap sepele. Dalam jangka pendek, partikel halus ini dapat memicu penyakit jantung, gangguan paru-paru, bronkitis, hingga serangan asma. Kelompok yang paling rentan adalah bayi, anak-anak, dan lansia.
Hujan Diprakirakan Turun Malam Ini
Di tengah keprihatinan akan kualitas udara, ada kabar baik. Staklim Sumsel memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga ringan akan turun di Palembang pada Jumat malam, sekitar pukul 22.00 hingga 01.00 dini hari WIB. Angin diperkirakan bertiup ke arah utara dengan kecepatan maksimal 12 km per jam, dan kelembaban udara berada di rentang 40 hingga 99 persen.
Semoga hujan ini menjadi rahmat yang membersihkan udara dan meredakan kabut asap yang telah lama membelenggu warga.
Hotspot Meningkat di Sumatra dan Kalimantan
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat peningkatan titik panas (hotspot) di sejumlah daerah, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Meskipun secara nasional jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) menunjukkan penurunan tipis, enam provinsi prioritas justru mengalami peningkatan signifikan.
Data Kemenhut pada Kamis (8/10) menunjukkan Kalimantan Tengah melonjak dari 182 menjadi 225 titik, Sumatera Selatan dari 71 menjadi 224 titik, Kalimantan Barat dari 34 menjadi 47 titik, dan Kalimantan Selatan dari 18 menjadi 31 titik. Sementara Jambi turun dari 21 menjadi 16 titik, dan Riau tetap nihil.
Kemenhut mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit, sehingga tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran atau luas area yang terbakar. Setiap indikasi tetap harus diverifikasi melalui pemeriksaan langsung di lapangan.
Upaya Pengendalian Karhutla Secara Terpadu
Pemerintah terus berupaya mengendalikan karhutla secara terpadu. Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dan dunia usaha bahu-membahu menangani kebakaran. Sebanyak 61 unit armada udara disiagakan, terdiri dari 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing.
Kemenhut juga terus memantau kualitas udara berdasarkan konsentrasi PM2,5 sebagai bagian dari upaya perlindungan kesehatan masyarakat. Sebagian wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang, namun sejumlah wilayah di Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Papua masih menunjukkan kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, sebagian wilayah Kalimantan masih memiliki kantong dengan kategori berbahaya.
Kondisi udara dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan kebakaran, konsentrasi partikulat, arah dan kecepatan angin, serta dinamika atmosfer lainnya. Mari kita bersama-sama menjaga lingkungan dan mencegah karhutla, agar udara yang kita hirup tetap bersih dan sehat untuk generasi mendatang.
