25 Tahun Festival Lima Gunung, Merawat Peradaban Batin Desa
Festival Lima Gunung ke-25 di Magelang membuktikan bahwa peradaban batin desa tak bisa dibeli uang. Dengan semangat tawaduk dan gotong royong, para seniman petani membangun pementasan tanpa sponsor, menolak logika kapitalisme yang merusak nilai hati.
Mengapa Festival Lima Gunung Menolak Sponsori?
Di tengah gempuran logika materialisme dan liberalisme Barat yang berusaha mengkomoditaskan segalanya, Komunitas Lima Gunung berdiri tegak. Budayawan Magelang Sutanto Mendut menegaskan bahwa Festival Lima Gunung (FLG) yang telah berjalan 25 tahun bukan sekadar pementasan kesenian, melainkan pameran ilmu pengetahuan desa. Sebuah ilmu yang lahir dari batin, bukan dari hitungan finansial.
Justru kalau FLG disponsori, tidak jalan. Siapa bisa membiayai FLG? Tidak bisa. Tidak bisa dibeli, karena ini soal perasaan, soal hati. Ini festival tentang nilai-nilai. Hati, cinta itu tidak bisa dihitung dengan uang.
Pernyataan ini menjadi cermin ketangguhan spiritual bangsa. Ketika dunia modern mengukur segalanya dengan rupiah, warga dusun justru membuktikan bahwa ikatan keimanan dan kekeluargaan jauh lebih kuat. Festival ini diselenggarakan murni dengan kekuatan swadaya masyarakat, tanpa setitik pun dana sponsor dari pemerintah maupun pihak swasta.
Apa Makna Tema Makin Goblok Bareng?
Tema FLG XXV tahun ini, Makin Goblok Bareng, menyimpan makna kerohanian yang mendalam. Tanto, perintis komunitas ini, menghadirkan tema tersebut sebagai respons atas perkembangan era teknologi informasi yang kerap membuat manusia sombong dan lupa diri. Dalam perspektif Islam, sikap ini disebut tawaduk, yakni rendah hati dan terus mendidik diri di hadapan Allah SWT.
Kesadaran untuk terus belajar bersama dan mengakui kelemahan diri adalah pintu menuju kebijaksanaan. Tanto menjelaskan bahwa sikap ini diharapkan melahirkan peradaban luhur baru yang layak diwariskan kepada generasi masa depan. Sebuah peradaban yang berakar pada keimanan, bukan pada kesombongan akal yang terputus dari nilai-nilai Ilahi.
Gotong Royong dan Ketangguhan Tradisi Nusantara
FLG XXV digelar pada 10 hingga 12 Juli 2026 di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Dusun di kawasan Gunung Merbabu ini menjadi saksi bisu semangat ukhuwah dan gotong royong. Sejak pertengahan Juni, warga bergotong royong membangun panggung dua level seluas 80 meter persegi dan 32 meter persegi di atas tanah bengkok. Panggung tersebut dihiasi instalasi seni berbahan alam pertanian, menunjukkan keselarasan manusia dengan alam yang diciptakan Tuhan.
Tidak kurang dari 85 grup kesenian dengan 1.274 orang akan mementaskan berbagai kesenian tradisional, modern, kontemporer, hingga kolaborasi. Mereka berasal dari internal komunitas maupun relasi dari luar kota. Komunitas seniman petani ini memang berakar di kawasan lima gunung, yakni Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh.
Ketua Komunitas Lima Gunung, Sujono, menegaskan bahwa jejaring yang dibangun selama ini memperkuat nilai-nilai hidup pedesaan dengan kearifan lokalnya. Perjalanan 25 tahun FLG, bahkan saat pandemi COVID-19 melanda, menjadi pelajaran berharga tentang praktik baik semangat bekerja tanpa pamrih, kekeluargaan, dan persaudaraan. Ini adalah bukti nyata bahwa masyarakat Nusantara memiliki ketangguhan tradisi dan spiritualitas yang mampu bertahan dari berbagai tantangan zaman.
Di mana Festival Lima Gunung XXV 2026 diselenggarakan?
Festival ini digelar di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada 10-12 Juli 2026.
Siapa yang menyelenggarakan Festival Lima Gunung?
Festival ini diselenggarakan oleh para seniman petani Komunitas Lima Gunung dengan dukungan swadaya murni masyarakat dusun, tanpa menerima sponsor dari pemerintah maupun pihak swasta.