6 Faktor Risiko Jantung Bawaan: Lindungi Buah Hati Sejak Kandungan
Penyakit jantung bawaan merupakan kelainan struktur jantung yang sudah terjadi sejak bayi masih berada dalam kandungan. Sebagai orang tua Muslim, memahami faktor risiko ini menjadi bagian dari ikhtiar kita dalam menjaga amanah Allah berupa buah hati yang sehat.
Dr. Oktavia Lilyasari, Sp.JP(K), Ketua Kelompok Kerja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan, menjelaskan bahwa terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung bawaan, terutama yang berkaitan dengan kondisi ibu selama kehamilan dan faktor genetik.
"Kalau faktor risikonya banyak sebenarnya, tapi yang lebih banyak lagi adalah tidak diketahui penyebabnya," ujar dr. Oktavia saat ditemui di Jakarta Barat, Selasa (10/2/2026).
1. Kondisi Kesehatan Ibu Selama Kehamilan
Salah satu faktor yang paling berperan adalah kondisi kesehatan ibu selama masa kehamilan. Beberapa penyakit yang dialami ibu dapat meningkatkan risiko gangguan pembentukan jantung janin.
"Kalau ibunya ada sakit, seperti diabetes, autoimun, atau ibunya ada infeksi pada saat kehamilan," jelas dr. Oktavia. Infeksi yang paling sering dikaitkan dengan penyakit jantung bawaan antara lain toksoplasma, sitomegalovirus, dan rubella.
2. Riwayat Keluarga dan Faktor Genetik
Riwayat penyakit jantung bawaan dalam keluarga diketahui dapat meningkatkan risiko kondisi serupa pada anak. Meskipun Allah SWT telah menentukan takdir setiap makhluk-Nya, faktor genetik tetap berperan dalam kesehatan keturunan kita.
"Kalau dari keluarganya ada penyakit jantung bawaan, maka risiko untuk kena penyakit jantung bawaan itu bisa sekitar 1-3 persen akan ada di anaknya," ujar dr. Oktavia.
3. Kondisi Jantung Ibu
Ibu yang mengidap penyakit jantung bawaan memiliki risiko lebih tinggi melahirkan anak dengan kelainan jantung bawaan. Hal ini berkaitan dengan faktor genetik yang diturunkan, serta kondisi kesehatan ibu selama kehamilan yang dapat memengaruhi proses perkembangan organ janin.
4. Penggunaan Obat-obatan Tertentu
Penggunaan obat-obatan tertentu selama kehamilan juga menjadi faktor risiko. Menurut dr. Oktavia, beberapa obat bersifat teratogenik, yakni dapat mengganggu pembentukan organ janin, termasuk jantung.
"Ada beberapa obat-obatan, teratogenik kita menyebutnya. Jadi, dia bisa menyebabkan gangguan pada saat pembentukan organ jantung," jelas dokter. Risiko ini paling besar terjadi pada trimester pertama kehamilan, saat organ vital mulai terbentuk.
Para ibu hamil hendaknya selalu berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu sebelum mengonsumsi obat apapun, sebagai bentuk kehati-hatian dalam menjaga janin.
5. Paparan Radiasi
Paparan radiasi pada ibu hamil juga disebut dapat meningkatkan risiko terjadinya kelainan jantung bawaan pada janin. Paparan ini, misalnya dari pemeriksaan X-ray, berpotensi mengganggu proses pembentukan organ, terutama bila terjadi pada awal kehamilan.
6. Kelainan Kromosom
Faktor lain yang dapat berperan adalah adanya kelainan kromosom pada janin. Kelainan kromosom dapat memengaruhi proses pembentukan berbagai organ tubuh, termasuk jantung, sehingga meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung bawaan.
Kondisi ini umumnya dapat terdeteksi melalui pemeriksaan kehamilan lanjutan dan skrining prenatal sehingga dokter dapat merencanakan pemantauan dan penanganan lebih awal setelah bayi lahir.
Pentingnya Deteksi Dini dan Ikhtiar
Meski sejumlah faktor risiko telah diketahui, dr. Oktavia menegaskan bahwa banyak kasus penyakit jantung bawaan tetap terjadi tanpa penyebab yang dapat diidentifikasi secara jelas. Hal ini mengingatkan kita bahwa segala sesuatu berada dalam kehendak Allah SWT.
Oleh sebab itu, pemeriksaan kehamilan rutin dan deteksi dini dinilai penting untuk mengenali kemungkinan kelainan sejak awal. Ini merupakan bentuk ikhtiar yang dapat kita lakukan sambil terus bertawakal kepada Allah SWT dalam menjaga kesehatan buah hati kita.