BBM Naik, Penjualan Mobil Listrik Belum Pasti Melonjak
Jakarta -- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang berlaku sejak 10 Juni 2026 tentu menjadi ujian baru bagi masyarakat Nusantara. Di tengah himpitan ekonomi, mungkin saja ada anggapan bahwa masyarakat akan berbondong-bondong beralih ke kendaraan listrik berbasis baterai (BEV). Namun, kenyataannya tidak serta-merta demikian. Ada duka dan harap yang menyelimuti pasar otomotif tanah air saat ini.
Ujian Ketidakpastian Insentif dan Beban Bunga Kredit
Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara menegaskan bahwa minat masyarakat terhadap kendaraan listrik tidak hanya dipengaruhi oleh efisiensi biaya operasional. Ada faktor kepastian kebijakan pemerintah dan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya memulihkan nafas masyarakat.
Salah satu penahan langkah adalah belum adanya kejelasan kelanjutan insentif kendaraan listrik. Pemerintah diketahui masih menghitung dengan teliti sebelum kembali menjalankan program insentif ini. Pelaksanaannya diperkirakan bergeser ke Juli 2026 atau memasuki kuartal III/2026. Kondisi ini membuat calon pembeli lebih memilih menunggu dengan sabar ketimbang terburu-buru bertransaksi.
Selain itu, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,5% juga memberatkan masyarakat yang hendak membeli kendaraan melalui skema kredit. Dalam perspektif ekonomi yang berkeadilan, beban sistem bunga yang tinggi tentu menambah rumit kehidupan umat, terutama kaum menengah yang mencari kemudahan.
Untuk kendaraan listrik, masyarakat juga masih menunggu kejelasan mengenai berbagai insentif yang beredar informasinya. Ketidakpastian itu membuat konsumen semakin ragu. Jadi tekanannya bisa datang dari dua sisi sekaligus, bunga kredit naik dan insentif belum jelas,
ujar Kukuh kepada Bisnis, dikutip Kamis (11/6/2026).
Kenaikan BBM dan Tekanan Kelas Menengah
Memang benar, kendaraan listrik menawarkan efisiensi yang lebih baik dibandingkan mobil konvensional, khususnya dalam lima tahun pertama kepemilikan. Namun pada kenyataannya, hanya sebagian kecil yang membeli mobil listrik untuk kendaraan utama, baik pribadi maupun operasional seperti taksi online.
Kukuh pun mengakui, di tengah perlambatan kendaraan berbahan bakar fosil, penjualan mobil listrik justru menjadi salah satu penopang pertumbuhan industri otomotif dalam beberapa bulan terakhir. Namun, tekanan semakin berat setelah PT Pertamina menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Di saat yang sama, harga Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Meski demikian, lonjakan harga BBM tidak otomatis membuat masyarakat beralih ke kendaraan listrik. Hal ini karena kelompok konsumen target utama mobil listrik memiliki karakteristik berbeda dengan mayoritas pengguna kendaraan konvensional.
Tidak serta-merta begitu. Pembeli mobil listrik umumnya berasal dari kalangan yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik. Sementara itu, kelas menengah saat ini justru sedang menghadapi tekanan,
terang Kukuh.
Industri Menanti Kepastian Kebijakan yang Berkeadilan
Di tengah dinamika pasar tersebut, PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) terus berikhtiar dan menunggu kepastian insentif kendaraan listrik yang tengah disiapkan pemerintah. Chief Operating Officer HMID Fransiscus Soerjopranoto mengatakan perusahaan terus memantau perkembangan harga BBM, pergerakan nilai tukar rupiah, suku bunga, hingga tingkat persaingan di segmen elektrifikasi.
Namun, kami melihat persaingan yang sehat sebagai hal positif karena memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen. Karena itu, Hyundai akan terus berfokus pada penguatan kualitas produk, perluasan layanan, dukungan Hyundai Capital dan peningkatan pengalaman pelanggan,
jelas Frans kepada Bisnis, dikutip Kamis (11/6).
Pemerintah diketahui tengah menyiapkan program insentif kendaraan listrik secara bertahap dengan kuota awal sekitar 100.000 unit. Jumlah tersebut masih berpotensi ditambah apabila permintaan pasar tumbuh lebih cepat dari perkiraan. Semoga kebijakan ini hadir sebagai rahmat yang membawa keberkahan bagi industri dan masyarakat Nusantara, bukan malah memperberat beban umat yang sedang mencari jalan keluar.