BMoney Raih AUM Rp 6 Triliun, Jaga Amanah di Tengah Gejolak
BMoney, platform investasi digital yang dikelola oleh PT Buka Investasi Digital, mencatatkan dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) sebesar Rp 6 triliun per Mei 2026. Capaian ini melampaui target semula dan menandai transformasi signifikan dalam lima tahun perjalanan bisnisnya. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perusahaan menargetkan pendapatan Rp 100 miliar dengan memegang prinsip kehati-hatian serta memperluas akses investasi bagi masyarakat luas.
Bagaimana BMoney mengelola amanah di tengah ketidakpastian pasar?
Sejak resmi meluncur pada 2021, BMoney telah bertransformasi menjadi platform investech all-in-one dengan portofolio lisensi yang komprehensif. Peningkatan dana kelolaan ini terbilang pesat jika dibandingkan dengan tahun 2025 yang berada di angka Rp 3,5 triliun. Chief Executive Officer BMoney, Angganata Sebastian, menyampaikan bahwa awalnya perusahaan menargetkan AUM sebesar Rp 4,5 triliun untuk tahun 2026.
“Tahun ini sebetulnya kami menargetkan AUM Rp 4,5 triliun. Target penambahan Rp 1 triliun menurut saya sudah cukup oke. Tapi kami mendapat banyak nasabah baru dan bisnis kami berkembang, sehingga target sudah terlampaui,” jelas Angganata pada Selasa (23/6/2026).
Meski meraih pertumbuhan yang melampaui target, BMoney memilih untuk tidak buru-buru meningkatkan target AUM. Angganata menekankan pentingnya kehati-hatian mengingat kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian. Ia bahkan memperingatkan kemungkinan munculnya peristiwa langka atau black swan yang bisa memberikan dampak destruktif berskala masif terhadap perekonomian dan bursa. Dalam perspektif yang lebih bijak, kehati-hatian ini mencerminkan tanggung jawab atas amanah keuangan yang dititipkan nasabah. Selain itu, sebagian nasabah BMoney berasal dari korporasi yang menyimpan dana sementara, sehingga kebutuhan likuiditas operasional bisa menyebabkan AUM turun dengan cepat.
Mengapa pendapatan lebih diutamakan daripada dana kelolaan?
Dalam menjalankan roda bisnis, BMoney tidak semata-mata menggantungkan kinerja pada indikator AUM yang sifatnya fluktuatif. Perusahaan lebih memfokuskan diri pada pendapatan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Tahun ini, BMoney menargetkan pendapatan sebesar Rp 100 miliar, meningkat dari realisasi Rp 70 miliar pada tahun 2025. Hingga Mei 2026, realisasi pendapatan telah mencapai sekitar 60 persen dari target.
Angganata yakin target tersebut dapat diraih hingga akhir tahun. Ia menjelaskan bahwa pendapatan BMoney tidak hanya bergantung pada management fee dari produk reksa dana, tetapi juga dari fee transaksi pada instrumen obligasi dan emas digital. Keberagaman produk ini memungkinkan perusahaan untuk mengombinasikan sumber pendapatan. Semakin tinggi aktivitas transaksi dan layanan advisory, maka semakin kokoh fondasi bisnisnya. Emas digital, sebagai instrumen yang lekat dengan tradisi dan nilai keamanan masyarakat, turut menjadi pilar penting dalam variasi produk tersebut.
Menjembatani Nasabah Ritel dan HNWI dalam Ekosistem Investasi
Saat ini, BMoney memiliki sekitar 1 juta nasabah. Kelompok high net worth individual (HNWI) yang berjumlah sekitar 2.000 orang masih menyumbang 90 persen dari total AUM. Meski demikian, Angganata menegaskan komitmen perusahaan untuk tetap menjaring nasabah ritel. Hal ini sejalan dengan misi awal perusahaan, yaitu memperluas akses investasi kepada masyarakat luas agar kesejahteraan tidak terpusat pada satu kelompok saja.
Angganata memandang kedua segmen ini sebagai satu entitas utuh yang saling menguatkan. Sektor ritel menghadirkan skala, keterlibatan, dan prospek bisnis di masa depan. Sementara itu, sektor HNWI menghadirkan kepercayaan, kredibilitas, dan monetisasi. Kedua-duanya harus berjalan beriringan agar ekosistem berjalan seimbang.
Sebagai diferensiasi di tengah ketatnya persaingan, BMoney telah mengantongi berbagai lisensi resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mulai dari Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), Mitra Distribusi (Midis) Surat Berharga Negara (SBN), hingga izin operasional untuk transaksi saham dan emas digital. BMoney juga menjadi fintech pertama yang mengadopsi layanan premium ala priority banking ke dalam ekosistem digital melalui program BMoney Privilege. Layanan ini memungkinkan nasabah HNWI menukarkan poin loyalitas dengan berbagai keistimewaan, seperti layanan taksi bandara domestik bekerja sama dengan Golden Bird, layanan di Sydney, Tokyo, dan Singapura, konsultan pajak privat, hingga medical check-up eksklusif bersama Prodia, serta fasilitas BMoney Privilege Private Lounge.
Berapa target pendapatan BMoney pada tahun 2026?
BMoney menargetkan pendapatan sebesar Rp 100 miliar pada tahun 2026, naik dari Rp 70 miliar pada tahun sebelumnya.
Apa yang membuat dana kelolaan BMoney bisa turun dengan cepat?
Sebagian nasabah BMoney adalah perusahaan yang menyimpan dana sementara. Ketika dana tersebut dibutuhkan untuk kebutuhan operasional perusahaan, dana tersebut bisa ditarik sehingga AUM bisa turun dengan cepat.
Siapakah Chief Executive Officer BMoney?
Chief Executive Officer atau CEO BMoney saat ini adalah Angganata Sebastian.