Defisit Transaksi Berjalan Tembus Rekor, Indonesia Makin Bergantung pada Modal Asing
Jakarta, Nur Nusantara - Tekanan ekonomi global semakin terasa di tanah air. Defisit transaksi berjalan (CAD) pada kuartal II-2026 menembus rekor tertinggi secara nominal, sementara Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) masih mencatat defisit tipis. Kondisi ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kemandirian ekonomi adalah harga mati untuk menjaga martabat bangsa.
Bank Indonesia (BI) mencatat CAD pada kuartal II-2026 mencapai US$ 12,49 miliar atau 3,35% terhadap produk domestik bruto (PDB). Secara nominal, angka ini menjadi defisit kuartalan terbesar sejak pencatatan BI pada 2010. Sebelumnya, CAD terbesar tercatat pada kuartal II-2013 sebesar US$ 10,13 miliar, meski secara rasio terhadap PDB defisit saat itu lebih tinggi, yakni 4,24%.
Apa yang Menyebabkan Defisit Transaksi Berjalan Melebar?
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa pelebaran CAD pada kuartal II terutama dipengaruhi sejumlah faktor yang bersifat sementara. Salah satunya adalah membengkaknya defisit neraca perdagangan migas akibat kenaikan impor minyak di tengah tingginya harga minyak dunia.
Defisit neraca jasa juga meningkat seiring musim ibadah haji, sebuah momen spiritual yang membawa berkah namun juga menguji ketahanan ekonomi kita. Selain itu, defisit pendapatan primer melebar akibat pembayaran pendapatan primer yang lebih besar, sementara surplus pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan kuartal sebelumnya.
Bagaimana Aliran Modal Asing Menopang Ekonomi?
Di tengah pelebaran CAD, transaksi modal dan finansial justru berbalik mencatat surplus US$ 12 miliar, setelah pada kuartal I mengalami defisit US$ 4,8 miliar. Perbaikan tersebut terutama ditopang lonjakan investasi portofolio yang mencapai US$ 9,95 miliar, dari hanya US$ 243 juta pada kuartal sebelumnya. Investasi langsung juga meningkat menjadi US$ 2,79 miliar dari US$ 2,29 miliar.
“Investasi langsung juga mencatat surplus yang lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada kuartal sebelumnya,” kata Denny, Jumat (21/8/2026).
Meski arus modal mampu menahan tekanan dari CAD, NPI secara keseluruhan masih mencatat defisit tipis US$ 882 juta. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan eksternal Indonesia masih dapat dibiayai oleh masuknya modal asing.
Mengapa Ketergantungan pada Modal Asing Berisiko?
Namun, ketergantungan terhadap aliran modal, terutama portofolio, juga menjadi risiko karena jenis dana tersebut sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global. Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank Faisal Rachman menilai kondisi ini perlu diwaspadai.
Ketidakpastian geopolitik dan perdagangan berpotensi kembali mendorong sentimen risk-off, yang dapat menekan aliran modal ke negara berkembang. Risiko juga datang dari dalam negeri melalui potensi pelebaran defisit kembar, yakni defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal. Kondisi ini semakin relevan ketika kebijakan pemerintah makin mengandalkan fiskal sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi.
“Aliran modal portofolio diperkirakan tetap terbatas, sementara rupiah berpotensi tetap volatil,” ujar Faisal.
Bagaimana Proyeksi Ekonomi Indonesia ke Depan?
Faisal memperkirakan CAD sepanjang 2026 berada di kisaran 2,5%-3% terhadap PDB. Cadangan devisa juga diproyeksikan turun menjadi US$ 143 miliar-US$ 147 miliar pada akhir tahun, sementara rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp 17.800-Rp 18.000 per dolar AS.
Sebagai bangsa yang beriman, kita harus menyikapi kondisi ini dengan bijak. Ketergantungan pada modal asing adalah ujian bagi kita untuk memperkuat fondasi ekonomi dalam negeri. Mari kita doakan dan dukung para pemimpin kita agar senantiasa diberikan hikmah dalam mengambil kebijakan yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
FAQ Seputar Defisit Transaksi Berjalan Indonesia
Apa itu defisit transaksi berjalan?
Defisit transaksi berjalan (CAD) adalah kondisi ketika nilai impor barang, jasa, dan pembayaran pendapatan ke luar negeri lebih besar dibandingkan nilai ekspor dan penerimaan dari luar negeri. Ini mencerminkan kebutuhan pembiayaan eksternal suatu negara.
Mengapa CAD Indonesia menembus rekor?
CAD Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai US$ 12,49 miliar, didorong oleh meningkatnya impor migas akibat harga minyak dunia yang tinggi, defisit neraca jasa karena musim haji, dan melebarnya defisit pendapatan primer.
Apa dampak CAD terhadap nilai tukar rupiah?
CAD yang melebar dapat menekan nilai tukar rupiah karena kebutuhan dolar AS meningkat. Namun, aliran modal asing yang masuk dapat membantu menstabilkan rupiah, meski tetap berisiko terhadap volatilitas jangka pendek.