Wakil Wali Kota Samarinda Minta Maaf, Karhutla di Lahan Gambut dan Batu Bara Belum Padam
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, masih menjadi ujian berat bagi warga dan pemerintah setempat. Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, turun langsung meninjau lokasi karhutla di kawasan jalur poros Samarinda-Anggana, tepatnya di Pelita 8, Kelurahan Sambutan, Kecamatan Sambutan, pada Senin (5/10/2026) sore. Dalam peninjauan itu, beliau didampingi Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda Suwarso, Camat Sambutan, dan Lurah Pulau Atas.
Atas nama Pemerintah Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada masyarakat atas musibah karhutla yang meluas dan belum sepenuhnya teratasi. Beliau mengakui bahwa seluruh tim dari BPBD, Damkar, Satpol PP, hingga para relawan telah berjibaku memadamkan api, namun titik api yang menyebar luas membuat petugas di lapangan masih kewalahan.
“Sebelumnya, atas nama Pemerintah Kota Samarinda, kami memohon maaf kepada warga atas kebakaran yang terjadi saat ini. Seluruh tim dari BPBD, Damkar, Satpol PP, hingga para relawan sudah berjibaku memadamkan api. Namun dengan segala upaya tersebut, petugas di lapangan masih kewalahan karena titik api menyebar luas,” ujar Saefuddin Zuhri di lokasi karhutla.
Mengapa Api Sulit Dipadamkan di Lahan Gambut dan Batu Bara?
Mantan anggota DPRD Kaltim ini menjelaskan bahwa tantangan utama pemadaman terletak pada karakteristik lahan gambut dengan kedalaman 1 meter, di mana api terus menjalar di bawah permukaan tanah. Beliau bahkan mendemonstrasikan dengan menusukkan tongkat kayu ke tanah untuk menunjukkan bahwa bagian dalamnya masih berupa gambut yang terbakar.
“Di atas kelihatannya sudah padam, tetapi di bawahnya terus merambat. Tadi saya coba tusuk pakai tongkat, ternyata bagian dalamnya tanah gambut. Jadi pemadamannya harus ekstra, di atas dan di bawah harus disiram bersamaan. Ibarat mobil, harus 'dobel gardan' penanganannya,” ungkapnya.
Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, menambahkan bahwa kondisi geologis wilayah Sambutan menjadi pemicu utama api cepat membesar. Selain semak belukar yang mengering akibat cuaca panas, informasi dari lapangan menunjukkan adanya lapisan batu bara di bawah permukaan tanah kawasan tersebut.
“Kondisinya sangat mudah terbakar karena semak belukar mengering. Selain sebagian berupa lahan gambut, informasi dari rekan-rekan di lapangan menunjukkan di bawah tanah kawasan Sambutan ini terdapat lapisan batu bara. Hal itulah yang membuat api sangat cepat menyebar dan bertahan di dalam tanah,” tuturnya.
Prioritas Penanganan dan Luas Lahan Terbakar
Dalam penanganan saat ini, pemerintah memprioritaskan pengamanan jalur-jalur vital agar tidak mengganggu mobilitas warga yang melintas menuju Makroman, Pulau Atas, Sindang Sari, maupun arah sebaliknya menuju pusat Kota Samarinda.
Suwarso membeberkan bahwa akumulasi luasan lahan yang terbakar di Kota Samarinda hingga kini mencapai 608,18 hektare, tersebar di beberapa wilayah seperti Kecamatan Sambutan, Palaran, hingga Samarinda Utara. Khusus di kawasan Sambutan, data lima hari terakhir mencatat sekitar 53 hektare lahan hangus terbakar, dengan rincian 34 hektare pada periode awal dan bertambah 19 hektare pada hari ini.
Harapan dan Doa untuk Keselamatan Bersama
Saefuddin Zuhri tak lupa mengapresiasi kerja keras seluruh personel gabungan yang telah berjuang di lapangan selama hampir dua bulan terakhir. Beliau juga berharap hujan segera turun secara merata untuk membantu meredakan titik api.
“Ini bisa segera diatasi, kita berdoa juga, moga-moga Allah selekasnya untuk memberikan hujan, karena kalau kita lihat hujan sudah ada, mulai ada di daerah-daerah tapi belum merata, moga-moga dengan hari ini Allah memberikan hujan dan kebakaran bisa redah,” ucapnya dengan penuh harap.
Sebagai bangsa yang beriman, kita semua tentu turut mendoakan agar musibah ini segera berakhir. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan bagi para petugas di lapangan dan menurunkan rahmat-Nya berupa hujan yang merata untuk bumi Kalimantan tercinta. Kebersamaan dan gotong royong yang ditunjukkan seluruh elemen masyarakat menjadi bukti nyata bahwa kita mampu melewati ujian ini dengan kekuatan iman dan persaudaraan.