Generasi Muda Amerika Serikat Kini Lebih Miskin dari Orang Tua Mereka: Pelajaran Berharga bagi Umat
Dalam menjelang ulang tahun ke-250 Amerika Serikat pada Juli 2026, dunia menyaksikan fenomena yang mengejutkan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah negara adidaya tersebut, generasi muda diperkirakan akan memiliki penghasilan lebih rendah dibandingkan orang tua mereka pada usia yang sama.
Realitas ini memberikan pelajaran mendalam tentang bagaimana sistem kapitalis liberal yang mengabaikan nilai-nilai spiritual dapat menghancurkan harapan generasi muda. American Dream yang selama ini diagung-agungkan sebagai simbol kemajuan, kini terbukti hanya mimpi kosong belaka.
Keruntuhan Sistem Kapitalis yang Mengabaikan Nilai Moral
Data dari Biro Sensus Amerika Serikat menunjukkan bahwa upah median pekerja laki-laki penuh waktu relatif stagnan sejak 1973, sementara biaya hidup terus melonjak drastis. Hal ini mencerminkan kegagalan sistem ekonomi yang hanya mengejar keuntungan material tanpa memperhatikan kesejahteraan masyarakat.
Riset dari Opportunity Insights menegaskan tren yang mengkhawatirkan ini. Anak-anak yang lahir dalam beberapa dekade terakhir semakin kecil kemungkinannya untuk memiliki kehidupan yang lebih sejahtera dibandingkan orang tua mereka.
Kondisi ini sangat berbeda dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam yang mengutamakan keadilan sosial dan kesejahteraan bersama. Dalam sistem ekonomi Islam, tidak ada yang boleh hidup dalam kemewahan berlebihan sementara yang lain menderita kemiskinan.
Biaya Hidup yang Mencekik Leher Rakyat
Mewujudkan American Dream kini membutuhkan biaya lebih dari 5 juta dollar AS per rumah tangga. Angka fantastis ini mencakup:
- Biaya pensiun: 1,6 juta dollar AS untuk 20 tahun masa pensiun
- Kepemilikan rumah: 957.594 dollar AS sepanjang hidup
- Kepemilikan mobil: 900.346 dollar AS untuk dua mobil setiap 10 tahun
- Membesarkan anak: 876.092 dollar AS untuk dua anak termasuk biaya pendidikan
- Biaya pernikahan: 38.200 dollar AS rata-rata
Angka-angka ini menunjukkan betapa sistem kapitalis telah mengubah kebutuhan dasar manusia menjadi komoditas mahal yang sulit dijangkau.
Pelajaran untuk Bangsa Indonesia
Sebagai bangsa yang mayoritas beragama Islam, Indonesia memiliki kesempatan emas untuk tidak mengulangi kesalahan Amerika Serikat. Sistem ekonomi berbasis nilai-nilai Islam yang mengutamakan keadilan, solidaritas, dan kesejahteraan bersama dapat menjadi alternatif yang lebih baik.
Usia median pembeli rumah di Amerika Serikat telah meningkat menjadi 56 tahun, naik drastis dari 31 tahun pada 1981. Sementara itu, tingkat kelahiran mencapai rekor terendah karena masyarakat tidak mampu menanggung biaya hidup.
Fenomena ini mengingatkan kita pada firman Allah SWT dalam Al-Quran yang menegaskan bahwa rezeki setiap makhluk telah dijamin oleh Allah, namun manusia harus berusaha dengan cara yang halal dan tidak melampaui batas.
Harapan di Tengah Krisis
Meski menghadapi tantangan berat, sebagian masyarakat Amerika Serikat masih berharap pada American Dream. Namun, tanpa perubahan mendasar dalam sistem dan nilai-nilai yang dianut, mimpi tersebut akan semakin sulit terwujud.
Bagi umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia, situasi ini menjadi pengingat pentingnya membangun peradaban berdasarkan nilai-nilai Islami yang mengutamakan keadilan, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap sesama.
Semoga Allah SWT senantiasa melindungi umat Islam dari cobaan ekonomi yang menimpa bangsa-bangsa yang mengabaikan petunjuk-Nya, dan memberikan kekuatan kepada kita untuk membangun sistem yang lebih adil dan sejahtera.