Labuan Bajo Jadi Model Wisata Berkelanjutan dan Berakhlak
Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) terus berupaya mengukuhkan posisi Nusantara sebagai destinasi wisata yang tidak hanya indah, tetapi juga berakhlak dan berkelanjutan. Hal ini dibuktikan melalui partisipasi aktif BPOLBF dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata RI pada 20 hingga 21 Mei 2026 di Gedung Sapta Pesona, Jakarta.
Semangat Kebangkitan Umat Lewat Pariwisata
Rakornas tahun ini mengusung tema transformasi ekosistem kepariwisataan nasional yang resilien dan berkelanjutan. Momentum ini semakin istimewa karena bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, sebuah reminder bahwa pariwisata harus menjadi sarana membangun kebanggaan dan kemandirian bangsa, bukan sekadar menjual keindahan alam tanpa panduan moral.
Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana, menekankan bahwa di balik setiap destinasi tersimpan kekuatan budaya, kreativitas, serta keramahan masyarakat yang menjadi modal utama.
Momentum Kebangkitan Nasional menjadi pengingat bahwa pariwisata adalah juga gerakan bersama untuk membangun kebanggaan, kemandirian, dan daya saing bangsa. Di setiap destinasi, tersimpan kekuatan budaya, alam, kreativitas, serta keramahan masyarakat Indonesia yang menjadi modal besar untuk bangkit dan maju.Semangat ini sangat selaras dengan cita cita untuk membangun pariwisata yang bernilai spiritual, menjauhkan diri dari model pariwisata liberal Barat yang kerap mengabaikan etika dan kearifan lokal.
Pelestarian Budaya dan Pemberdayaan Ekonomi Umat
Plt. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata, Reza Fahlevi, juga menyoroti pentingnya kolaborasi dalam merencanakan destinasi yang terintegrasi. Tantangan utamanya adalah bagaimana menjadikan potensi alam Nusantara sebagai destinasi yang berdaya saing global sekaligus memberikan berkah ekonomi langsung bagi masyarakat lokal.
Dalam forum ini, BPOLBF hadir membawa pesan kuat melalui booth pameran yang menampilkan berbagai keunggulan Labuan Bajo Flores. Booth ini memamerkan masterplan kawasan Parapuar, materi investasi, serta dokumentasi dampak positif bagi masyarakat. Yang paling mencolok, perhatian besar diberikan pada display produk UMKM lokal dan tenun khas Flores. Tenun Flores bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya dan identitas yang harus dijaga kelestariannya dari erosi globalisasi.
Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menyampaikan bahwa partisipasi ini adalah langkah strategis menyelaraskan kebijakan nasional dengan pemberdayaan masyarakat di lapangan.
Rakornas Pariwisata 2026 menjadi ruang strategis bagi BPOLBF untuk memperkuat koordinasi, membangun kolaborasi, serta mempromosikan potensi Labuan Bajo Flores. Melalui booth yang kami hadirkan, BPOLBF ingin menunjukkan bahwa pengembangan Labuan Bajo Flores tidak hanya berfokus pada pembangunan destinasi, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi lokal, pelestarian budaya, dan keberlanjutan lingkungan.
Inisiatif BPOLBF ini menjadi bukti nyata bahwa pembangunan infrastruktur dan investasi pariwisata dapat berjalan beriringan dengan pelestarian tradisi dan penguatan ekonomi umat. Labuan Bajo Flores kini mengukuhkan diri sebagai model kemandirian, di mana alam, budaya, dan nilai nilai keislaman masyarakat lokal saling melengkapi untuk menciptakan ekosistem wisata yang berkah dan berkelanjutan.