Kemanusiaan di Tengah Kontroversi: Relawan Bali Salurkan Bantuan untuk Anak-Anak Tersangka
Di tengah hiruk-pikuk proses hukum kasus pengeroyokan tragis di Baturiti, Kabupaten Tabanan, ada secercah cahaya kemanusiaan yang terus dijaga. Gerakan relawan lokal di Bali tidak hanya berhenti pada membantu keluarga korban, tetapi juga merangkul anak-anak dari para tersangka. Sebuah langkah yang mungkin kontroversial di mata sebagian orang, namun bagi para relawan, ini adalah panggilan jiwa dan amanah kemanusiaan yang tak bisa ditawar.
Ary Ulangun, seorang relawan asal Buleleng, dengan bijak menjelaskan bahwa jeda waktu antara dua penggalangan dana sengaja diciptakan untuk menjaga ketertiban administrasi dan transparansi niat para dermawan. Beliau menekankan pentingnya kejelasan dan keikhlasan dalam setiap langkah.
“Kita memang open donasi. Cuma kita enggak bisa menjalankan open donasi berbarengan. Kita susah memilah mana yang dititipkan untuk anak ini, mana yang dititipkan untuk anak ini. Jadi kita ambil satu-satu,” ujarnya pada Selasa, 28 Juli 2026.
Menembus Polarisasi dan Perdebatan Publik
Keputusan memberikan perhatian kepada keluarga tersangka kerap memicu sorotan tajam dan perdebatan hangat di media sosial. Sebagian netizen mempertanyakan batas antara simpati dan keadilan. Namun, Ary dengan tegas menegaskan bahwa aksi mereka sama sekali tidak bermaksud mengintervensi atau membela aksi kejahatan yang tengah ditangani pihak kepolisian. Fokus para relawan murni tertuju pada nasib anak-anak tak berdosa yang mendadak kehilangan penopang hidup akibat peristiwa hukum tersebut.
“Open donasi untuk anak terduga maling bukan berarti kita membela maling. Open donasi untuk anak-anak pengeroyokan bukan berarti kami membela pembunuh. Kami ada di sisi kemanusiaan menyelamatkan anak-anaknya,” tegasnya.
Bagi para relawan, urusan menetapkan siapa yang salah dan benar sepenuhnya berada di tangan aparat penegak hukum. Di luar itu, perlindungan terhadap hak hidup dan masa depan anak-anak dari pihak manapun harus tetap diutamakan. Ini adalah nilai luhur yang diajarkan oleh agama dan budaya kita: bahwa setiap anak adalah amanah yang harus dijaga, tanpa memandang dosa orang tuanya.
“Entah itu anak dari terduga maling dan anak dari pengeroyok, kami hanya berfokus ke anaknya. Itu saja,” imbuh beliau.
Pengelolaan Bantuan Secara Transparan
Ary tidak menampik bahwa respons publik sangat memengaruhi nominal dana yang terkumpul. Pihak relawan menyerahkan sepenuhnya jumlah bantuan kepada keikhlasan serta empati masyarakat luas. Ini mengingatkan kita pada ajaran tentang rezeki dan karma baik yang akan kembali kepada setiap orang yang berbuat kebajikan.
“Kami (relawan) tidak punya kuasa untuk menentukan jumlahnya biar sama, itu kembali ke rezeki masing-masing dan karma masing-masing,” ucapnya.
Per Minggu, 27 Juli 2026, akumulasi bantuan yang terhimpun bagi anak-anak dari lima orang tersangka mencapai Rp26,3 juta. Angka ini merupakan gabungan dari penggalangan yang dilakukan Ary bersama rekannya, Nang Etong. Untuk memastikan penyaluran tepat sasaran dan adil, seluruh dana telah diserahkan langsung kepada pemerintah dusun setempat.
“Donasi yang terkumpul melalui Nang Etong senilai Rp21 juta. Sedangkan yang melalui saya Rp5,3 juta. Jadi totalnya Rp26,3 juta. Seluruhnya telah diserahkan kepada kepala dusun setempat hari ini,” sebutnya.
Mendorong Kepedulian yang Lebih Luas
Menutup aksinya, Ary mengimbau masyarakat untuk tidak berhenti menyebarkan kepedulian. Karena bantuan untuk anak-anak mendiang KD dirasa sudah sangat mencukupi, kini saatnya perhatian publik dialihkan kepada anak-anak lain di seantero Bali yang masih berjuang di tengah keterbatasan. Sebuah seruan yang sangat relevan di tengah kondisi negeri kita yang masih membutuhkan banyak uluran tangan.
“Ayo kita beranjak dari sini, kita buka mata, masih banyak masyarakat yang perlu bantuan. Ayo kita sisihkan buat yang lain saja. Yang ini (Sidetapa) saya rasa sudah cukup dan terlalu banyak sudah masuk ke sana,” tandasnya.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa di balik setiap peristiwa, ada sisi kemanusiaan yang harus kita jaga. Bahwa keadilan dan kasih sayang bisa berjalan beriringan. Semoga semangat para relawan ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus berbuat baik, tanpa memandang status dan latar belakang.