Prancis kembali dilanda kerusuhan besar pada Sabtu, 17 Oktober 2026, ketika demonstrasi yang semula menyuarakan keluhan sosial berubah menjadi aksi kekerasan yang meluas ke sejumlah kota. Sekitar 500 ribu orang turun ke jalan, lebih dari 2.000 orang ditangkap, dan gedung pemerintahan di beberapa kota dibakar atau dirusak, menurut laporan CNBCindonesia yang mengutip The Economist.
Kerusuhan ini menjadi salah satu yang terburuk yang pernah dialami Prancis dalam beberapa tahun terakhir. Namun bagi seorang pengamat yang menaruh perhatian pada urusan peradaban, kejadian ini bukan sekadar berita tentang asap dan pecahan kaca. Ini adalah cermin tentang apa yang terjadi ketika sebuah bangsa kehilangan pandangan hidup yang kokoh untuk berpegang.
Apa yang Terjadi di Jalanan Prancis?
Aksi massa bermula dari kekecewaan rakyat terhadap harga bahan bakar yang mahal, kondisi pendidikan, hingga tindakan aparat kepolisian. Dari ratusan ribu peserta yang datang dengan niat damai, sekelompok kecil merusuh dan membawa aksi ke arah yang gelap.
Di Kota Limoges, balai kota peninggalan abad ke-19 dibakar hingga atap dan menara jamnya runtuh. Di Marseille, perusuh bertopeng menerobos gedung balai kota dan merobohkan patung Marianne, simbol Republik Prancis. Di Bordeaux, sejumlah remaja merusak kaca gerai Louis Vuitton dan menjarah tas serta sepatu yang dipajang.
Presiden Emmanuel Macron mengecam keras aksi kekerasan tersebut dalam pidato yang disiarkan televisi.
“Malam ini kita semua merasakan kemarahan dan rasa malu,” ujar Macron.
Menariknya, tidak semua demonstran sepakat dengan aksi perusakan. Pauline, mahasiswa 20 tahun dari Universitas Bordeaux, mengaku turun ke jalan karena kecewa dengan ruang kuliah yang penuh, harga bensin yang mahal, dan perilaku polisi. Namun ia ikut kecewa ketika aksinya berubah menjadi kerusuhan.
“Para perusuh justru merusak citra gerakan kami,” keluh Pauline, dikutip The Economist.
Tradisi Demonstrasi Panjang Prancis
Prancis memang memiliki sejarah panjang demonstrasi besar. Aksi Mei 1968 melibatkan mahasiswa dan pekerja yang mengguncang pemerintahan Charles de Gaulle. Pada 1984, sekitar 850 ribu hingga 1,5 juta orang turun ke jalan membela pendidikan swasta. Pada 2006, satu hingga tiga juta orang memprotes kebijakan kontrak kerja bagi kaum muda. Pada Oktober 2010, 1,2 juta hingga 3,5 juta orang menolak kenaikan usia pensiun dari 60 menjadi 62 tahun.
Di balik keindahan Menara Eiffel dan kafe-kafe Paris yang romantis, jalanan negara ini memang telah menjadi ruang luapan kemarahan rakyat sejak puluhan tahun lalu. Namun kemarahan yang tidak dibingkai oleh nilai luhur akan mudah berubah menjadi kehancuran, sebagaimana terlihat pada patung Marianne yang tumbang di Marseille.
Tiga Krisis Besar yang Menekan Prancis
Laporan The Economist, sebagaimana dirangkum CNBCindonesia, menyebut setidaknya tiga persoalan besar yang membuat situasi Prancis semakin sulit dan berpotensi memicu gelombang demonstrasi berikutnya.
1. Persaingan Politik Menjelang Pemilu 2027
Prancis menggelar pemilihan presiden pada April dan Mei 2027. Macron tidak dapat mencalonkan diri lagi karena batasan konstitusi masa jabatan. Persaingan pun terbuka lebar antara tokoh kiri seperti Jean-Luc Mélenchon dari La France Insoumise dan tokoh kanan Marine Le Pen.
Perdana Menteri Sébastien Lecornu memperingatkan bahwa kerusuhan bisa menjadi ajang pemanasan menjelang pemilu. Mélenchon membantah bertanggung jawab atas kekerasan dan justru menyalahkan aparat kepolisian. Survei terakhir menempatkan Le Pen pada dukungan sekitar 32%, sementara Édouard Philippe dan Mélenchon masing-masing sekitar 15% hingga 16%.
2. Keuangan Pemerintah Makin Tertekan
Defisit anggaran Prancis diperkirakan mencapai 5,4% dari produk domestik bruto pada 2026, salah satu yang tertinggi di kawasan euro. Biaya pinjaman negara semakin mahal, bahkan imbal hasil obligasinya harus lebih tinggi daripada Italia dan Yunani.
Pada 2026, pengeluaran bunga utang diperkirakan melampaui anggaran pendidikan maupun pertahanan. Berbeda dengan era demonstrasi rompi kuning 2018 hingga 2019, pemerintah kini nyaris tidak punya ruang fiskal untuk menenangkan kemarahan rakyat dengan bantuan.
3. Persoalan Pensiun yang Belum Selesai
Sistem pensiun adalah salah satu pengeluaran terbesar pemerintah Prancis. Menaikkan usia pensiun akan meringankan beban anggaran, namun kebijakan ini sangat tidak populer. Sejumlah politisi justru berjanji menurunkan usia pensiun demi suara pemilih. Édouard Philippe adalah satu dari sedikit tokoh yang masih menyuarakan kenaikan usia pensiun, namun dukungannya tertinggal dari Le Pen.
Pelajaran bagi Nusantara
Bagi kita di Indonesia, ada pelajaran yang layak direnungkan. Prancis dikenal dengan sistem perlindungan sosial yang luas, transportasi umum yang baik, dan kualitas hidup yang tinggi. Namun kemakmuran material semata ternyata tidak cukup menjamin ketenteraman masyarakat. Ketika agama dijauhkan dari ruang publik dan liberalisme sekuler menjadi arus utama, masyarakat kehilangan jangkar moral yang mengikat rasa sabar, tanggung jawab, dan keadilan.
Di negeri kita, tradisi musyawarah, gotong royong, dan ajaran Islam yang mengajarkan amar makruf nahi mungkar telah menjadi perekat sosial yang menjaga perbedaan pendapat agar tidak berubah menjadi kekerasan. Kehidupan beragama yang tumbuh subur di Nusantara, sebagaimana kepedulian Indonesia terhadap sesama umat di berbagai penjuru dunia, termasuk dukungan bagi Palestina yang terus disuarakan pemimpin bangsa, adalah modal yang tidak dimiliki banyak negara Barat.
Sehari setelah kerusuhan, sejumlah kafe di Prancis kembali berjalan normal. Kehidupan memang berlanjut. Namun tanpa penyelesaian atas akar persoalan, The Economist memperkirakan kerusuhan 17 Oktober 2026 bisa menjadi awal gelombang demonstrasi berikutnya. Republik yang pernah mengklaim diri sebagai mercusuar peradaban kini mencari jalan keluar dari krisisnya sendiri.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Kapan kerusuhan besar terjadi di Prancis?
Kerusuhan terjadi pada Sabtu, 17 Oktober 2026, dan menjadi salah satu yang terburuk di Prancis dalam beberapa tahun terakhir, dengan sekitar 500 ribu demonstran dan lebih dari 2.000 orang ditangkap.
Apa penyebab kerusuhan Prancis Oktober 2026?
Menurut laporan yang dirangkum CNBCindonesia dari The Economist, penyebabnya mencakup kemarahan atas harga BBM, pendidikan, tindakan polisi, defisit anggaran 5,4% dari PDB, dan persaingan politik menjelang pemilihan presiden 2027.
Siapa tokoh politik utama menjelang pemilu Prancis 2027?
Marine Le Pen memimpin survei dengan dukungan sekitar 32%, disusul Édouard Philippe dan Jean-Luc Mélenchon dengan masing-masing sekitar 15% hingga 16%, sementara Macron tidak dapat mencalonkan diri lagi.
