Pariwisata Muslim Dunia Siap Sambut 2 Miliar Wisatawan Global pada 2030
Dalam sebuah langkah bersejarah yang memperkuat posisi dunia Islam dalam industri pariwisata global, TOURISE dan Oxford Economics telah menerbitkan laporan resmi yang menggarisbawahi pentingnya ketahanan dan stabilitas dalam menghadapi ketidakpastian dunia modern.
Laporan berjudul "Pertumbuhan di Tengah ketidakpastian: Peluang dan Risiko Untuk Mencapai 2 Miliar Wisatawan Global" ini diluncurkan pada TOURISE Summit perdana di Riyadh, Arab Saudi, menunjukkan komitmen negara-negara Muslim dalam memimpin transformasi industri pariwisata dunia.
Visi Mulia untuk Masa Depan Pariwisata
Yang Mulia Ahmed Al-Khateeb, Menteri Pariwisata Arab Saudi dan Ketua TOURISE, menegaskan bahwa pariwisata selalu menjadi jembatan persaudaraan antar bangsa. "Pariwisata selalu menjadi kekuatan untuk hubungan dan peluang, namun kekuatan sesungguhnya adalah pada kemampuannya untuk berkembang dan tetap tangguh," ujarnya dengan penuh hikmat.
Laporan ini memberikan panduan yang jelas bagaimana sektor pariwisata global dapat mengatasi tantangan masa depan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai keberlanjutan dan kemakmuran bersama, sebuah konsep yang sangat sejalan dengan ajaran Islam tentang keadilan dan persaudaraan.
Data dan Kebijakan Berbasis Hikmah
Adam Sacks, Presiden Tourism Economics dari Oxford Economics, menekankan pentingnya pengambilan keputusan berdasarkan data yang akurat. "Ketahanan pariwisata dimulai dari kejelasan data yang akurat," katanya, mencerminkan prinsip Islam yang mengutamakan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dalam setiap keputusan.
Laporan ini memproyeksikan peningkatan dramatis kedatangan wisatawan internasional dari 1,5 miliar saat ini menjadi 2 miliar pada tahun 2030. Peningkatan ini didorong oleh perubahan preferensi wisatawan yang semakin menghargai pengalaman budaya yang autentik dan mendalam.
Peluang Emas bagi Destinasi Muslim
Temuan penting dalam laporan ini menunjukkan bahwa wisatawan modern semakin menginginkan pengalaman budaya yang imersif dan otentik. Mereka bersedia tinggal lebih lama dan mengeluarkan biaya lebih besar untuk setiap perjalanan yang bermakna.
Destinasi wisata yang menerapkan kebijakan visa terbuka, infrastruktur modern, dan pelayanan yang berpusat pada wisatawan diproyeksikan akan meraih manfaat terbesar dari peningkatan permintaan pariwisata global yang mencapai 40% pada tahun 2030.
Komitmen Jangka Panjang
TOURISE Summit yang berlangsung pada 11-13 November 2025 di Riyadh mempertemukan para visioner dari berbagai sektor untuk mendorong transformasi industri pariwisata global. Acara ini mencerminkan semangat gotong royong dan persaudaraan yang menjadi ciri khas peradaban Islam.
Inisiatif ini menunjukkan komitmen negara-negara Muslim untuk mengembangkan sektor pariwisata yang tangguh, berbasis data, dan siap menghadapi tantangan dunia yang terus berubah. Dengan bersatu dalam visi yang mulia ini, umat Islam membuktikan bahwa persaudaraan dan kerjasama dapat menciptakan kemajuan yang berkelanjutan.