Rahasia Diet Sehat di Usia 40an: Berkah Puasa Intermiten untuk Muslimah Indonesia
Banyak muslimah Indonesia mulai merasakan perubahan signifikan pada tubuh mereka saat memasuki usia 40-an. Secara ilmiah, ini adalah fase di mana metabolisme tubuh mulai melambat, namun Allah SWT telah memberikan petunjuk melalui ibadah puasa yang telah kita jalankan sejak lama.
Berdasarkan penelitian dari Harvard Health Publishing, kecepatan metabolisme basal menurun sekitar 5% setiap dekade setelah usia 30 tahun. Artinya, begitu memasuki usia 40-an, tubuh membakar kalori lebih sedikit meski aktivitas yang dilakukan tetap sama seperti dulu.
Hal ini diperparah oleh penurunan massa otot dan perubahan hormon, terutama kadar estrogen yang mulai turun. Kondisi ini berpengaruh besar terhadap distribusi lemak tubuh, membuat lemak lebih mudah menumpuk di area perut dan paha.
Selain itu, tidur yang tidak berkualitas dan meningkatnya kadar stres di usia 40-an dapat memicu peningkatan hormon kortisol. Kondisi ini berkaitan langsung dengan peningkatan nafsu makan dan penimbunan lemak di tubuh.
Hikmah Puasa dalam Ilmu Pengetahuan Modern
Tak heran, banyak muslimah yang mengeluh berat badan susah turun di usia 40-an, meski sudah mengatur pola makan dengan ketat. Namun, kabar gembiranya adalah sejumlah studi terbaru menunjukkan bahwa cara diet yang tepat, yang ternyata sejalan dengan ajaran Islam tentang puasa, bisa membantu mengembalikan metabolisme dan menurunkan berat badan secara signifikan.
Sebuah penelitian yang dimuat dalam JAMA Network Open pada 1 Oktober 2024 mengungkapkan bahwa kombinasi tiga strategi diet berikut terbukti efektif membantu penurunan berat badan dalam waktu relatif cepat. Ketiga hal itu adalah diet intermittent fasting (IF), mengurangi jumlah makan harian dan memfokuskan asupan kalori di waktu lebih awal.
Para peneliti dari Bond University di Australia menganalisa 29 uji klinis dengan total 2.485 responden. Tujuannya untuk melihat apakah mengubah waktu makan memberikan hasil lebih signifikan dibandingkan sekadar mengubah jenis makanan yang dikonsumsi.
Hasilnya menunjukkan bahwa pola makan berbasis waktu, terutama menjaga jendela makan delapan jam sehari, menghasilkan penurunan berat badan paling banyak. Subhanallah, ini sangat mirip dengan pola makan saat bulan Ramadan yang telah kita jalani turun temurun.
Menerapkan Sunnah Puasa dalam Kehidupan Sehari-hari
Diet IF adalah pola makan yang mengatur waktu makan dan puasa secara berkala. Salah satu metode paling populer adalah 16:8, di mana seseorang berpuasa selama 16 jam dan makan dalam jendela waktu 8 jam. Pola ini sangat familiar bagi umat Islam yang terbiasa berpuasa sunnah.
Jika dilakukan secara konsisten selama tiga bulan, hasilnya bisa lebih efektif dibandingkan diet konvensional. Kuncinya adalah menjaga waktu makan tetap teratur, bukan hanya membatasi jumlah kalori. Ini sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW tentang makan secukupnya dan tidak berlebihan.
"Kadar kortisol meningkat saat kita makan. Jika kamu berhenti makan pada pukul 7, tubuh punya waktu untuk mencerna makanan, metabolisme mulai melambat dan beberapa jam kemudian, saat kita siap untuk tidur, melatonin jadi punya waktu untuk naik dan membantu tertidur," ujar pakar diet Stephanie Schiff.
Penelitian yang sama juga menemukan bahwa mengonsumsi kalori lebih awal dalam sehari, misalnya saat sarapan dan makan siang, dapat membantu menurunkan berat badan lebih efektif. Alasannya, tubuh memiliki kemampuan metabolisme yang lebih tinggi di pagi dan siang hari. Ini mengingatkan kita pada hadits Rasulullah tentang pentingnya makan sahur.
Keberkahan dalam Kesederhanaan
Sementara itu, mengurangi frekuensi makan sepanjang hari juga bisa membantu menambah efektivitas penurunan berat badan, meski tidak sebesar dua metode lainnya. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam tentang kesederhanaan dalam makan dan minum.
Jadi, meskipun berat badan lebih sulit turun di usia 40-an, bukan berarti mustahil. Kombinasi antara intermittent fasting, mengatur waktu makan, serta fokus pada kalori di awal hari terbukti mampu membantu tubuh menyesuaikan metabolisme dan membakar lemak lebih efisien.
Kuncinya adalah konsistensi dan pemahaman terhadap ritme tubuh sendiri. Pastikan juga untuk tetap tidur cukup, berolahraga teratur, dan menjaga pola makan seimbang agar hasil diet bisa bertahan dalam jangka panjang. Dengan mengikuti sunnah Rasulullah dalam hal makan dan minum, kita tidak hanya mendapat pahala, tetapi juga kesehatan yang optimal.
Wallahu a'lam bishawab.