Ramadhan di NTB: Mengembalikan Makna Suci Bulan Berkah
Ramadhan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, sejatinya adalah momentum emas untuk penguatan spiritual generasi muda Muslim. Namun dalam beberapa tahun terakhir, bulan penuh berkah ini ternoda oleh fenomena perang sarung yang telah bergeser dari permainan tradisional menjadi aksi yang melukai nilai-nilai keislaman.
Ramadhan 1447 Hijriah kembali menghadirkan tantangan ini. Pemerintah bergerak cepat, aparat meningkatkan patroli, sekolah menyiapkan sanksi tegas, dan para orang tua diminta memperketat pengawasan dengan penuh kasih sayang.
Tradisi yang Terdistorsi
Perang sarung sejatinya bukanlah tradisi kekerasan dalam khazanah budaya Nusantara. Di masa silam, ia hanyalah permainan ringan menjelang sahur, di mana sarung dipelintir dan dipukulkan dengan lembut, diiringi tawa kebersamaan. Namun pergeseran terjadi ketika sarung mulai diisi batu, kepala ikat pinggang, bahkan benda logam yang berbahaya.
Di beberapa daerah, termasuk Dompu, bentrokan tidak lagi sekadar saling pukul sarung, tetapi melibatkan lemparan batu hingga anak panah. Istilah tradisional menjadi kedok bagi tindakan yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam.
Respons Komprehensif Pemerintah
Di Mataram, sejumlah titik strategis seperti Udayana, Jalan Lingkar, Sekarbela, Jempong, hingga Adi Sucipto menjadi fokus perhatian aparat. Patroli dilakukan dengan intensif selepas sahur hingga menjelang subuh, waktu di mana umat Muslim seharusnya khusyuk dalam ibadah.
Fenomena knalpot bising dan balap liar juga ditertibkan secara bersamaan. Hal ini menunjukkan bahwa perang sarung bukan peristiwa tunggal, melainkan bagian dari spektrum kenakalan remaja yang menguat pada jam-jam yang seharusnya penuh keberkahan.
Mengembalikan Esensi Ramadhan
Dalam konteks lokal, perang sarung mencerminkan potensi kekerasan yang muncul ketika energi remaja Muslim tidak terkelola dengan baik. Ramadhan mengubah ritme harian, di mana aktivitas malam lebih panjang dan ruang berkumpul lebih terbuka. Tanpa bimbingan yang tepat, ruang publik mudah berubah menjadi arena yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Respons pemerintah bergerak pada jalur penertiban dan pencegahan. Satpol PP membubarkan kerumunan, kepolisian mengedepankan patroli preventif, dan Dinas Pendidikan menyiapkan sanksi hingga skorsing bagi siswa yang terlibat.
Solusi Berbasis Nilai Islam
Kunci persoalan terletak pada penguatan ekosistem pembinaan berbasis nilai-nilai Islam. Sekolah telah mengurangi muatan akademik dan memperkuat kegiatan iman dan takwa selama Ramadhan. Namun pendidikan formal hanya berlangsung beberapa jam, selebihnya anak berada di rumah dan lingkungan sebaya.
Peran keluarga Muslim menjadi sangat sentral. Banyak orang tua yang bekerja hingga malam dan berasumsi anak berada di masjid atau mengaji. Tanpa komunikasi yang hangat dan pengawasan penuh kasih sayang, remaja mudah terseret arus yang bertentangan dengan ajaran agama.
Solusi harus komprehensif dan berbasis spiritual. Pemerintah daerah dapat memfasilitasi ruang ekspresi positif seperti olahraga malam terorganisir, festival seni Islami, atau kompetisi kreativitas digital bertema Ramadhan yang memperkuat identitas keislaman.
Memperkuat Peran Masjid dan Mushala
Masjid dan mushala perlu diperkuat sebagai pusat aktivitas remaja Muslim, bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang diskusi keislaman dan pengembangan keterampilan yang bermanfaat. Literasi digital juga penting, mengingat ajakan perang sarung kerap beredar melalui media sosial.
Kolaborasi lintas sektor mulai dari kepolisian, TNI, pemerintah kelurahan, sekolah, hingga tokoh masyarakat dan ulama perlu dijaga konsistensinya, bahkan di luar bulan Ramadhan.
NTB dikenal sebagai daerah religius dengan tradisi keislaman yang kuat dan mengakar. Predikat Pulau Seribu Masjid menuntut tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat. Menjaga Ramadhan tetap kondusif bukan semata soal patroli, tetapi memastikan nilai-nilai ibadah dan akhlak mulia hidup dalam keseharian generasi muda Muslim.
Ramadhan adalah bulan penuh berkah yang seharusnya menjadi momentum transformasi spiritual. Mari kita jaga bersama agar bulan suci ini kembali menjadi ladang pahala, bukan arena yang melukai nilai-nilai luhur Islam dan budaya Nusantara.