Jakarta, Nur Nusantara - Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN) menggelar forum daring Rembuk Bintoro bertajuk Demak 2045 pada Ahad (11/10). Forum ini menjadi ajang silaturahmi dan pemikiran bersama antara akademisi, praktisi, pengusaha, pemerhati pembangunan, serta masyarakat dan diaspora Demak. Tujuannya jelas: mencari solusi konkret dan terukur untuk mengatasi persoalan Kabupaten Demak, mulai dari banjir rob, pemulihan lahan pertanian, penguatan ekonomi rakyat, hingga peningkatan daya saing daerah menuju 2045.
Apa saja masalah utama yang dihadapi Demak?
Ketua Umum PDBN yang juga Anggota VI BPK RI, HM. Fathan Subchi, menegaskan bahwa forum ini harus menghasilkan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti, bukan sekadar pertukaran gagasan. Menurut beliau, persoalan rob di Sayung dan sekitarnya membutuhkan penanganan menyeluruh. Hal ini penting untuk melindungi warga, mencegah kerugian berulang, serta menjaga lahan dan mata pencaharian masyarakat.
Selain banjir rob, Fathan juga mendorong pengembangan potensi lokal seperti bawang, melon, dan semangka. Penguatan akses pasar serta keterlibatan petani dan pelaku usaha menjadi kunci agar potensi ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat.
Bagaimana strategi pemulihan ekonomi pasca bencana?
Guru Besar Universitas Terbuka sekaligus Ketua Dewan Pakar dan Litbang PDBN, Prof. Hanif Nurcholis, menekankan pentingnya peralihan dari penanganan bencana menuju pemulihan ekonomi rakyat.
“Keberhasilan penanganan rob tidak cukup diukur dari pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari pulihnya produktivitas sawah dan tambak serta meningkatnya pendapatan warga,”tandasnya.
Prof. Hanif mengusulkan program percontohan Demak Produktif yang mencakup pertanian adaptif, perikanan, pengolahan hasil, dan pemasaran. Program ini harus disesuaikan dengan kondisi lapangan, didukung data dan evaluasi, serta melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media.
Apa peran diaspora dan dunia usaha dalam pembangunan Demak?
Wakil Ketua Umum PDBN sekaligus pemerhati peluang usaha, H. Abdullah Taqwim, menegaskan pentingnya membangun pasar sebelum meningkatkan produksi pertanian. Petani perlu memperoleh kepastian permintaan, pembeli, standar kualitas, dan distribusi agar produksi terserap serta pendapatan meningkat. Penguatan pascapanen dan logistik menjadi bagian penting dari strategi ini.
Sementara itu, pengusaha sekaligus Sekretaris Jenderal PDBN, Edy Sayudi, mendorong Demak menjadi daerah yang melahirkan wirausaha dan pelaku ekonomi berdaya saing. UMKM perlu diperkuat melalui peningkatan kualitas, sertifikasi, digitalisasi, dan akses pasar agar mampu masuk ke rantai pasok industri. Terkait rencana Giant Sea Wall, Edy menilai pembangunan infrastruktur harus terhubung dengan pengembangan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Bagaimana pandangan tokoh lain tentang rencana pembangunan pesisir?
Ketua PGSI Kabupaten Demak, Noor Salim, menambahkan bahwa rencana tersebut perlu dikaji secara menyeluruh. Kajian ini harus mencakup potensi dampaknya terhadap lingkungan pesisir, mata pencaharian nelayan, mobilitas warga, dan akses pendidikan anak-anak.
Menutup rangkaian pemikiran, Rektor Universitas Terbuka sekaligus Dewan Pakar dan Litbang PDBN, Prof. Ali Muktiyanto, menekankan perlunya penanganan persoalan Demak secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Perencanaan harus komprehensif, terukur, dan berkelanjutan. Beliau mendorong penyusunan prioritas melalui program jangka pendek, menengah, dan panjang, termasuk quick win yang hasil awalnya dapat segera dirasakan masyarakat.
Prof. Ali juga mengusulkan penguatan kajian melalui seminar, simposium, diskusi kelompok terarah (FGD), dan publikasi ilmiah. Hal ini agar persoalan Demak menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis data.
Siapa saja tokoh yang hadir dalam Rembuk Bintoro?
Diskusi tersebut turut menghadirkan Prof. Dr. Purwanto, Guru Besar Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Kiai Fatkhur Rahman Alumni STAN yang berkecimpung di bidang pondok pesantren dan pertanian, serta Dr. Siswanto Kepala Biro BP BATAM sebagai penanggap pemateri.
Apa harapan untuk masa depan Demak?
Rembuk Bintoro menegaskan bahwa penyelesaian persoalan Demak membutuhkan sinergi pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan diaspora. Perencanaan terukur, program prioritas, serta tindak lanjut yang konsisten diharapkan mampu mengubah gagasan menjadi solusi nyata bagi kesejahteraan dan kemandirian Demak menuju 2045.
Semangat gotong royong dan ukhuwah yang terjalin dalam forum ini menjadi cermin bahwa dengan kebersamaan, segala tantangan dapat dihadapi. Demak, sebagai kota wali yang bersejarah, insya Allah akan bangkit menjadi daerah yang mandiri, produktif, dan sejahtera, menjadi teladan bagi daerah lain di Nusantara.
