Pertamina dan Ketahanan Energi Nasional: Strategi Ganda untuk Masa Depan Berdaulat
Oleh: Ahmad Fadli
Dalam pusaran dinamika global yang semakin kompleks, energi bukan sekadar kebutuhan. Ia adalah denyut nadi peradaban, fondasi kemandirian bangsa, dan amanah yang harus dijaga. Pemerintah Indonesia, di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, terus mendorong terwujudnya ketahanan energi nasional. Sebuah langkah strategis yang memastikan kebutuhan energi masyarakat terpenuhi secara berkelanjutan, mendukung aktivitas ekonomi, industri, dan kehidupan sehari-hari.
Presiden Prabowo dengan tegas menyatakan bahwa energi, bersama pangan, adalah sektor paling strategis bagi keberlangsungan sebuah negara. Beliau mengingatkan, “Negara yang sebesar kita kalau masih mau merdeka, kalau masih mau survive bertahan hidup, mau tidak mau kita harus mandiri dan energi adalah salah satu bidang yang sangat menentukan.” Pesan ini menggema di situs resmi presiden, mengingatkan kita pada nilai-nilai kemandirian yang diajarkan oleh para pendiri bangsa.
Sejalan dengan visi besar ini, PT Pertamina (Persero) hadir sebagai garda terdepan. Bukan sekadar perusahaan energi, Pertamina adalah pilar yang menopang cita-cita kemandirian bangsa. Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menjelaskan bahwa perusahaan menjalankan Dual Growth Strategy, sebuah pendekatan bijak yang memadukan penguatan bisnis inti dengan pembangunan masa depan yang lebih hijau. Strategi ini adalah wujud tanggung jawab untuk masa kini dan generasi mendatang.
Memperkuat Fondasi: Bisnis Inti Migas
Pada pilar pertama, Maximizing Legacy Business, Pertamina fokus memperkuat bisnis inti migas. Ini bukan sekadar soal produksi, melainkan tentang kedaulatan energi. Setiap tetes minyak dan gas yang dihasilkan dari bumi pertiwi adalah kontribusi nyata bagi ketahanan nasional.
Hingga semester I 2026, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mencatat produksi migas yang membanggakan, mencapai 935 ribu barel setara minyak per hari. Angka ini terdiri dari 459 ribu barel minyak per hari dan 2.756 juta kaki kubik gas per hari. Semua ini diraih melalui kerja keras dan pengelolaan aset yang andal, efisien, dan berkelanjutan.
Pertamina tidak berhenti di situ. Program Bring Barrel Home dijalankan untuk mengirimkan minyak mentah dari aset luar negeri ke Indonesia. Langkah ini cerdas, mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat posisi kita di panggung global. Pengembangan kilang, seperti proyek RDMP Balikpapan, juga terus digenjot untuk menghasilkan produk berkualitas setara euro 5. Semua ini adalah ikhtiar untuk memastikan energi yang lebih bersih dan efisien bagi rakyat.
Membangun Masa Depan Hijau: Bisnis Rendah Karbon
Pertamina juga tidak melupakan amanah untuk menjaga bumi. Pada pilar kedua, Building Low Carbon Business, perusahaan mengembangkan energi yang lebih ramah lingkungan. Ini adalah wujud keimanan kita untuk menjaga alam sebagai titipan Sang Pencipta.
Sejak awal Juli, pemerintah menetapkan mandatori B50, dan Pertamina menjadi ujung tombak kebijakan ini. Produk biofuel seperti Pertamina Renewable Diesel (HVO) dan Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) adalah inovasi anak bangsa. SAF, yang terbuat dari limbah minyak jelantah, mampu memangkas emisi karbon hingga 84 persen. Subhanallah, ini adalah bukti bahwa Indonesia bisa menjadi regional champion energi hijau.
Teknologi SAF ini sepenuhnya dikembangkan oleh insinyur dalam negeri. Ini membuktikan bahwa dengan niat dan kerja keras, kita mampu bersaing dan memberikan solusi bagi dunia. Pengembangan geothermal, CCUS, dan perdagangan karbon juga terus diperkuat. Semua langkah ini adalah bagian dari ikhtiar untuk menciptakan sistem energi yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkah.
Dual Growth Strategy: Kunci Ketahanan Energi Nasional
Strategi ganda Pertamina adalah cerminan dari kearifan lokal. Kita tidak perlu memilih antara masa kini dan masa depan. Keduanya bisa dijalankan secara bersamaan, dengan penuh tanggung jawab. Penguatan bisnis inti memastikan ketersediaan energi untuk rumah tangga, transportasi, dan industri. Sementara pengembangan energi rendah karbon menjaga kelestarian alam untuk anak cucu kita.
Bagi kita sebagai bangsa, ketahanan energi bukan hanya soal angka produksi. Ia adalah soal kemandirian, kedaulatan, dan keberkahan. Pertamina, dengan segala strateginya, telah menunjukkan bahwa kita bisa berdiri di atas kaki sendiri, sambil melangkah menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Semoga Allah meridhoi setiap langkah ini, dan menjadikan Indonesia sebagai negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.