Jawa Tengah Raih Penghargaan TPID Terbaik 2026, Bukti Kolaborasi Jaga Stabilitas Pangan
Jawa Tengah kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih penghargaan sebagai Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi berkinerja terbaik 2026. Penghargaan ini diterima langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, dalam acara Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia-Indonesia Fintech Summit and Expo 2026 sekaligus Rakornas Pengendalian Inflasi serta Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD) di Jakarta International Convention Center (JICC), Kamis, 24 September 2026.
Penghargaan ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi yang dibangun di Jawa Tengah mampu mengendalikan harga bahan pokok penting sekaligus menjaga daya beli masyarakat. Inflasi Jawa Tengah pada Agustus 2026 tercatat 3,08 persen (year on year), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,19 persen.
Peran BUMD dan Intervensi Hulu ke Hilir
Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari peran aktif Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam melakukan intervensi kebutuhan bahan pokok penting di seluruh kabupaten/kota. Hal ini dilakukan di samping intervensi dari dinas-dinas, Bank Indonesia (BI) Jateng, dan stakeholder terkait lainnya.
“Kita punya BUMD yang melakukan intervensi kebutuhan bahan pokok penting di seluruh kabupaten/kota, di samping intervensi yang dilakukan oleh dinas-dinas, Bank Indonesia (BI) Jateng, dan stakeholder terkait lainnya. Sehingga ketersediaan dan keterjangkauan terus terjaga,” kata Luthfi.
Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Jawa Tengah terus memperkuat produksi pangan dari hulu hingga hilir. Berdasarkan data tahun 2025, luas panen padi mencapai 1,67 juta hektare, meningkat sekitar 120 ribu hektare atau 7,73 persen dibandingkan 2024. Produksi gabah kering giling mencapai sekitar 9,3 juta ton, yang jika dikonversikan menjadi beras sekitar 5,35 juta ton. Angka ini berkontribusi 15,6 persen terhadap kebutuhan pangan nasional.
Produksi jagung juga mengalami peningkatan signifikan sebesar 13,37 persen, dari sekitar 2,43 juta ton menjadi 2,75 juta ton. Ini menjadi peningkatan produksi terbesar di antara provinsi-provinsi di Pulau Jawa.
Penguatan Infrastruktur dan Program New Champion
Intervensi dari sisi hulu dilakukan melalui perbaikan 108 daerah irigasi, penyediaan 5.400 pompa, penanganan banjir di 60 titik, penguatan pola tanam, sarana produksi, corporate farming, ketersediaan benih, dan pengendalian hama.
Jawa Tengah juga memperkuat komoditas cabai yang selama ini sensitif terhadap inflasi melalui program New Champion. Program ini dijalankan di lahan seluas 50 hektare di tujuh kabupaten, yaitu Kabupaten Semarang, Temanggung, Wonosobo, Cilacap, Blora, Batang, dan Boyolali. Dukungan greenhouse melalui CSR perusahaan juga terus didorong, dengan target produksi sekitar 54.500 kilogram untuk periode Oktober-Desember 2026.
Sementara di sisi hilir, penguatan rantai pasok dilakukan melalui supply chain champion, pelaksanaan Gerakan Pangan Murah sebanyak 1.053 kali, penguatan 368 kios pangan, dan penguatan BUMD sebagai off taker komoditas strategis. Kerja sama antardaerah dengan Lampung, NTB, Jawa Timur, Maluku Utara, dan daerah lainnya juga terus dijalin.
Subsidi Pangan dan Digitalisasi Daerah
Untuk menjaga keterjangkauan harga, pemerintah memberikan subsidi pangan untuk produsen dan konsumen senilai Rp5,135 miliar serta memanfaatkan e-Purchasing untuk pengadaan cadangan pangan pemerintah.
Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD) juga berperan penting dalam digitalisasi transaksi dan penguatan tata kelola ekonomi daerah. Indeks Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) Jawa Tengah pada 2025 mencapai 97,58, meningkat dari 96,25 pada 2024. Jawa Tengah juga meraih Peringkat II Championship P2DD 2025.
Implementasi digitalisasi sudah masuk ke berbagai layanan masyarakat, antara lain melalui pengembangan New Sakpole dengan berbagai kanal pembayaran seperti virtual account bank/agregator, QRIS, transfer antarbank, dan Laku Pandai Bank Jateng. Transaksi Samsat Budiman juga terus meningkat pada periode 2022-2025.
Sinergi Nasional untuk Ekonomi yang Tangguh
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa pemerintah daerah memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi daerah dan nasional, baik dalam sistem pengendalian inflasi maupun digitalisasi dan tata kelola ekonomi daerah.
Acara di JICC tersebut juga dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Ketua Dewan Komisioner Friderica Widyasari Dewi, serta perwakilan dari kementerian/lembaga lainnya dan gubernur atau wakil gubernur beserta bupati dan walikota.
Prestasi ini menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk terus bersinergi dalam menjaga stabilitas ekonomi, sekaligus membuktikan bahwa dengan kolaborasi yang kuat, kesejahteraan masyarakat dapat terwujud. Semoga keberhasilan ini semakin memperkuat ketahanan pangan nasional dan membawa berkah bagi seluruh rakyat Indonesia.