Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur yang diumumkan hari ini, Rabu (21/10/2026). Prediksi itu disampaikan di tengah tekanan ganda yang menghantam perekonomian nasional, yaitu rupiah yang terus melemah dan inflasi yang merangkak mendekati batas atas sasaran.
Bagi masyarakat Indonesia, keputusan suku bunga bukan sekadar angka di koran ekonomi. Ia menyangkut harga sembako di pasar, cicilan rumah bagi keluarga muda, dan nilai tabungan yang kita jaga demi sekolah anak. Dalam situasi seperti ini, kesabaran dan kehati-hatian menjadi kebutuhan, bukan pilihan.
Mengapa BI Diminta Menahan Suku Bunga?
Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai Bank Indonesia masih perlu memprioritaskan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya tekanan eksternal dan domestik. Menurut laporan CNBCindonesia, prioritas ini diambil meskipun inflasi umum Indonesia terus meningkat hingga mendekati batas atas sasaran inflasi BI.
Inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,28% secara tahunan pada September 2026, mendekati batas atas target BI sebesar 3,5%. Angka ini mengingatkan kita bahwa stabilitas harga adalah bagian dari kesejahteraan umat; Rasulullah sendiri mengajarkan agar pedagang tidak menimbun barang dan mempersulit hidup orang lain.
“Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur Oktober 2026 sambil terus memprioritaskan stabilisasi Rupiah melalui intervensi valuta asing dan langkah-langkah lainnya,” ujar Riefky dalam Seri Analisis Makroekonomi RDG BI Oktober 2026.
Bayang Panjang The Fed dan Aliran Dana Asing
Salah satu faktor yang membatasi ruang gerak BI adalah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve. Setelah menaikkan suku bunga acuannya ke kisaran 3,75% sampai 4% pada September 2026, The Fed menghadapi dilema antara meningkatnya tekanan inflasi dan melemahnya momentum pasar tenaga kerja AS.
Tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,2% pada September 2026 dari 4,1% pada Agustus 2026. Pada 16 Oktober 2026, Ketua The Fed Kevin Warsh menekankan ketahanan ekonomi AS, tetapi tidak memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga selanjutnya.
Ketidakpastian kebijakan The Fed ikut memengaruhi pergerakan modal asing di Indonesia. Pada pertengahan September hingga pertengahan Oktober 2026, Indonesia mencatat arus keluar bersih portofolio asing sekitar US$0,05 miliar. Arus masuk asing sebesar US$0,69 miliar ke pasar obligasi pemerintah tidak mampu mengimbangi arus keluar sebesar US$0,73 miliar dari pasar saham.
Rupiah Melemah, IHSG Anjlok
Tekanan arus modal tersebut membebani rupiah. Nilai tukar rupiah melemah 1,22% secara bulanan, dari Rp17.680 per dolar AS pada 15 September 2026 menjadi Rp17.895 per dolar AS pada 14 Oktober 2026. Sejak awal tahun, rupiah telah terdepresiasi sebesar 8,3%, menempatkannya sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di antara negara berkembang, hanya lebih baik dibandingkan lira Turki, menurut kajian LPEM FEB UI.
Tekanan lain datang dari keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 15 Oktober 2026 yang membuka konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. MSCI menyoroti persoalan transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, serta belum adanya bukti penegakan hukum yang dinilai efektif.
Pengumuman tersebut diikuti gejolak tajam di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,57% pada 16 Oktober 2026, menjadi penurunan harian terdalam sejak Januari 1998. Pada hari yang sama, investor asing mencatat penjualan bersih saham sekitar US$0,18 miliar, arus keluar bersih harian terbesar sejak 28 Februari 2025.
Menurut survei Reuters yang dikutip Kontan, BI memang diprediksi menahan suku bunga di 5,75% pada 21 Oktober 2026 meski rupiah tertekan dan pasar saham bergejolak. Sementara itu, konsensus 34 ekonom sebagaimana dilaporkan Sultramedia juga memperkirakan hal yang sama. Namun sebagian pengamat lain, seperti dilaporkan MediaKompeten, tidak menutup kemungkinan BI menaikkan suku bunga menjadi 6% bila tekanan makin memburuk.
Dilema yang Menuntut Kehati-hatian
Riefky menjelaskan, kombinasi ketidakpastian global dan tekanan pasar domestik membuat BI harus berhati-hati. Di satu sisi, tekanan inflasi baru di AS berpotensi membuat suku bunga negara tersebut bertahan tinggi lebih lama, yang dapat memperkuat tekanan terhadap rupiah dan arus modal ke Indonesia.
Di sisi lain, kenaikan harga pangan dan bahan bakar mendorong inflasi domestik mendekati batas atas sasaran BI. Persoalan transparansi pasar modal yang disorot MSCI menambah risiko terhadap partisipasi investor asing.
“Tekanan-tekanan yang saling bertentangan ini menuntut sikap moneter yang hati-hati, di mana Bank Indonesia perlu mempertimbangkan risiko depresiasi Rupiah lebih lanjut dan kenaikan inflasi terhadap kebutuhan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi,” ujar Riefky.
Bagi kita sebagai umat, momen seperti ini mengajarkan bahwa ekonomi yang sehat dibangun di atas kejujuran, transparansi, dan amanah. Sorotan MSCI terhadap praktik perdagangan yang tidak sehat adalah pengingat bahwa pasar yang adil bukan hanya tuntutan investor, melainkan juga nilai yang diajarkan agama kita sejak lama.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa prediksi suku bunga BI pada Oktober 2026?
LPEM FEB UI memperkirakan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur Oktober 2026 yang diumumkan Rabu (21/10/2026).
Berapa inflasi Indonesia pada September 2026?
Inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,28% secara tahunan pada September 2026, mendekati batas atas target BI sebesar 3,5%.
Berapa pelemahan rupiah sejak awal tahun 2026?
Rupiah telah terdepresiasi sebesar 8,3% sejak awal tahun, menjadi salah satu mata uang berkembang dengan kinerja terburuk, hanya lebih baik dibandingkan lira Turki.
