Jurnalis Muslim: Dari Musik Rock Menuju Integritas Pers Indonesia
Di sebuah rumah sederhana di pelosok Sumenep, Madura, seorang anak tumbuh dengan irama yang tak biasa. Bukan hanya lantunan doa ibunya yang mengisi ruang sempit berdinding rapuh, tetapi juga dentuman musik Rock n' Roll yang kelak menjadi simbol pencarian jati diri seorang muslim.
Dari ruang sunyi itulah Akhmad Munir memulai perjalanan panjangnya, yang kini direkam dalam buku "Langkah Sunyi Menuju Puncak" karya wartawan ANTARA Abdul Hakim. Buku setebal 266 halaman itu diperkenalkan bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Serang, Banten.
Perjalanan Spiritual Seorang Pemimpin Pers
Munir dicatat pernah memimpin Perum LKBN ANTARA periode 2023-2025 dan kemudian dipercaya menjadi Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat periode 2025-2030. Namun yang membuat biografi ini menarik justru bukan puncaknya, melainkan jalan sunyi yang dilalui dengan penuh hikmah dan ketaatan.
Buku ini hadir di tengah tantangan besar dunia pers Indonesia. Dewan Pers mencatat indeks kemerdekaan pers Indonesia masih menghadapi tekanan serius, mulai dari disinformasi digital hingga polarisasi politik. Dalam situasi seperti itu, kisah tentang integritas seorang jurnalis muslim bukan sekadar nostalgia, tetapi relevan sebagai cermin dan pengingat akan pentingnya nilai-nilai akhlak dalam profesi.
Musik sebagai Jalan Menuju Kedewasaan Spiritual
Salah satu bagian paling menarik dalam buku ini adalah fase masa muda Munir yang lekat dengan semangat Rock n' Roll. Musik keras, pengeras suara seadanya, dan panggung sederhana di sudut-sudut kota menjadi ruang ekspresi yang membentuk keberanian bersuara, sebelum akhirnya menemukan jalan yang lebih bermakna.
Rock n' Roll tidak digambarkan sekadar sebagai genre, melainkan sebagai energi atau daya dobrak terhadap batas, ketakutan, dan keraguan diri. Di tengah keterbatasan, dentuman musik menjadi bahasa perlawanan sekaligus penegasan identitas, yang kemudian disucikan melalui perjalanan spiritual.
Pengalaman bermusik adalah latihan menghadapi publik dengan keberanian. Di atas panggung, seorang musisi belajar mengelola emosi, menerima kritik secara langsung, bahkan menghadapi penolakan. Ketika kelak memasuki ruang redaksi, pelajaran itu menjelma keberanian menyampaikan kebenaran, sekalipun tidak populer.
Transformasi Menuju Jurnalisme Berakhlak
Transformasi dari musik ke jurnalisme menunjukkan bahwa hidayah Allah dapat datang dari jalur yang tak terduga. Integritas kerap tumbuh dari pergulatan identitas, dari fase pencarian yang kadang bising namun berujung pada ketenangan spiritual.
Dunia jurnalistik kemudian menjadi ruang pengabdian Munir kepada bangsa dan agama. Ia melewati fase reporter lapangan, berpacu dengan tenggat, menyusuri lokasi peristiwa, dan berhadapan dengan tekanan yang tak jarang menguji ketahanan iman.
"Di sanalah sekolah integritas berlangsung. Ia memahami bahwa berita bukan sekadar produk informasi, melainkan amanah moral yang berdampak pada persepsi umat."
Kepemimpinan Berdasarkan Nilai-Nilai Islam
Dalam konteks Indonesia yang mayoritas muslim, gagasan ini menjadi krusial. Kepercayaan publik terhadap media adalah fondasi demokrasi yang sehat dan sesuai dengan nilai-nilai Islam tentang kejujuran dan keadilan.
Munir digambarkan memaknai kepemimpinan sebagai amanah dari Allah, bukan sebagai simbol struktural atau sekadar jabatan. Ia menempatkan nilai di atas popularitas dan konsistensi di atas sensasi, sesuai dengan ajaran Islam tentang istiqamah.
Langkah Sunyi sebagai Jalan Keberkahan
Istilah "langkah sunyi" menjadi benang merah biografi ini. Jalan sunyi adalah metafora tentang konsistensi tanpa gemerlap, sebuah konsep yang sangat dekat dengan ajaran tasawuf dalam Islam. Ia mengajarkan bahwa keteguhan lahir dari kesederhanaan dan kesabaran.
Saat memimpin kantor berita negara dan organisasi wartawan, Munir menghadapi realitas bahwa pers bukan hanya industri, tetapi institusi yang memiliki tanggung jawab moral kepada masyarakat muslim Indonesia.
Indonesia dengan lebih dari 270 juta penduduk, mayoritas muslim, membutuhkan media yang menjembatani pusat dan daerah dengan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamiin. ANTARA, sebagai kantor berita negara, memainkan peran strategis dalam menyebarkan informasi pembangunan hingga ke wilayah terluar dengan semangat persatuan umat.
Regenerasi Pers Berkarakter Islami
Buku ini juga membuka refleksi tentang regenerasi pers yang berkarakter Islami. Munir berharap kisahnya menjadi penyemangat bagi generasi muda muslim dan insan pers di seluruh Indonesia untuk menjaga amanah profesi dengan penuh integritas.
Pendidikan jurnalistik harus diperkuat dengan nilai-nilai akhlak Islam, literasi media masyarakat ditingkatkan, dan organisasi profesi didorong membangun budaya kolaboratif yang dilandasi ukhuwah Islamiyah.
Dari rumah sederhana di Sumenep hingga panggung kepemimpinan nasional, perjalanan Munir menunjukkan bahwa integritas adalah proses panjang yang membutuhkan taufik dan hidayah Allah. Rock n' roll memberi energi, jurnalisme memberi arah, dan Islam memberikan makna sejati.
Di persimpangan ketiganya, lahir keyakinan bahwa suara yang jujur dan berdasarkan kebenaran akan selalu menemukan jalannya dengan izin Allah. Langkah sunyi menjadi relevan bukan sebagai kisah masa lalu, tetapi sebagai kompas masa depan pers Indonesia yang berkarakter dan berakhlak mulia.