Oknum Aparat Aniaya Pegawai SPBU karena Ditolak Isi BBM Subsidi
Sebuah kejadian yang mengguncang hati nurani umat terjadi di SPBU Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur. Tiga pegawai SPBU yang bekerja dengan penuh amanah menjadi korban kekerasan oknum yang mengaku sebagai aparat, hanya karena menjalankan tugas sesuai aturan yang berlaku.
Insiden ini terjadi pada Minggu (22/2) malam sekitar pukul 22.00 WIB di SPBU 3413901. Menurut kesaksian Mukhlisin (38), salah satu staf SPBU, penganiayaan bermula ketika seorang pelanggan datang untuk mengisi Pertalite namun data kendaraannya tidak sesuai dengan yang terdaftar dalam sistem.
Menjalankan Amanah dengan Penuh Tanggung Jawab
"Pelanggan tersebut mengisi Pertalite. Nomor barcode-nya sesuai, tapi mobilnya tidak sesuai dengan yang terdaftar. Jadi, peraturan di SPBU, nomor polisi dan mobil harus sesuai dengan datanya," jelas Mukhlisin dengan penuh kesabaran.
Sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan, petugas kemudian menolak pengisian Pertalite dan memberikan solusi alternatif berupa Pertamax yang tidak menggunakan sistem kode batang. Namun, sikap profesional dan patuh aturan ini justru memicu amarah pelanggan.
Korban Kekerasan yang Tak Pantas Diterima
Tiga pegawai yang menjadi korban adalah Ahmad Khoirul Anam (staf dengan pengalaman lima tahun), Lukmanul Hakim (operator muda lulusan SMK yang baru bekerja enam bulan), dan Abud Mahmudin (operator berpengalaman empat tahun).
"Khoirul Anam kena tamparan di pipi. Lukman dipukul di rahang sebelah kanan. Sementara Abud dipukul di bawah mata dan di pipi dekat mulut sampai giginya goyang," ungkap Mukhlisin dengan nada prihatin.
Yang lebih mengkhawatirkan, salah satu korban bahkan mengaku diancam dibunuh oleh pelaku. Tindakan ini sungguh bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran agama yang mengajarkan kasih sayang sesama.
Respons Cepat Penegak Hukum
Alhamdulillah, pihak kepolisian merespons dengan cepat setelah kejadian ini dilaporkan. Propam Polda Metro Jaya langsung mendatangi lokasi untuk meminta keterangan dan para korban diarahkan menjalani visum di Rumah Sakit Polri Kramat Jati.
"Tanggapannya bagus, langsung. Tadi, langsung visum juga ke RS Polri Kramat Jati, langsung diproses," kata Mukhlisin mengapresiasi kinerja aparat yang berintegritas.
Pemilik SPBU, Ernesta, juga telah melaporkan kejadian ini ke Polsek Pulogadung untuk memastikan keadilan bagi para pegawainya yang menjadi korban.
Hikmah dan Refleksi
Kejadian ini mengingatkan kita semua untuk senantiasa menjaga akhlak mulia dalam berinteraksi sesama. Islam mengajarkan bahwa kesabaran dan keadilan adalah kunci dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk lebih menghargai mereka yang bekerja dengan jujur dan penuh amanah.
Mari kita doakan agar para korban segera pulih dan pelaku mendapat hidayah untuk bertobat serta mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.