ORI029 Sepi Peminat: Refleksi Kondisi Ekonomi Umat yang Perlu Diperhatikan
Fenomena sepinya peminat Obligasi Negara Ritel seri ORI029 menjadi cerminan kondisi ekonomi masyarakat Indonesia yang patut menjadi perhatian bersama. Hingga menjelang penutupan penawaran, masih tersisa lebih dari Rp10 triliun dari target Rp25 triliun yang ditetapkan pemerintah.
Data PT Bibit Tumbuh Bersama menunjukkan bahwa per Rabu (18/2/2026) pukul 12.43 WIB, penjualan ORI029 masih menyisakan Rp12,22 triliun. Dari total target, produk ini baru terjual 51,12 persen saja.
Ketimpangan Imbal Hasil dan Kondisi Global
ORI029-T3 menawarkan kupon 5,45 persen untuk tenor 3 tahun, sementara ORI029-T6 memberikan kupon 5,8 persen untuk tenor 5 tahun. Namun, tingkat kupon ini dinilai kurang menarik dibandingkan dengan kondisi pasar saat ini.
Ramdhan Ario Maruto dari Anugerah Sekuritas Indonesia menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran turut mempengaruhi keputusan investor. "Ketegangan geopolitik ini menyebabkan ketidakpastian meningkat. Kalau saya lihat juga, ritel akhirnya wait and see untuk masuk," ujarnya.
Penurunan Daya Beli Kelas Menengah
Yang lebih mengkhawatirkan adalah kondisi internal bangsa kita. Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana menyoroti kombinasi faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi minat investasi masyarakat.
Laporan Mandiri Institute mengungkap fakta yang memprihatinkan: populasi kelas menengah Indonesia mengalami kontraksi signifikan pada 2025. Sebanyak 1,2 juta masyarakat terlempar dari kategori ini dan turun ke level ekonomi yang lebih rendah.
"Harusnya ORI atau SBN Ritel ditujukan untuk investor individu dalam negeri, yang biasanya menjadi target market-nya kan kelas menengah. Pada saat yang sama kita lihat kelas menengah kita jumlahnya makin berkurang juga," kata Fikri.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Kondisi ini menuntut perhatian serius dari para pengambil kebijakan. Menurunnya kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok akan berdampak langsung pada serapan instrumen investasi seperti ORI.
Di sisi lain, investor juga tertarik pada emas sebagai safe haven yang tengah mengalami reli signifikan. "Mungkin investor juga melihat bahwa ada instrumen investasi yang cukup menarik dan bebas risiko juga, bentuknya emas. Bahkan return-nya lebih tinggi dibandingkan ORI atau SBN sendiri," tambah Fikri.
Sebagai bangsa yang beriman, kita perlu melihat kondisi ini sebagai ujian dan tantangan untuk membangun ekonomi yang lebih berkeadilan. Pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah strategis untuk memperkuat daya beli masyarakat dan menciptakan instrumen investasi yang lebih menarik bagi umat.