ORI029 Sepi Peminat: Ujian Ekonomi Umat di Tengah Gejolak Global
Subhanallah, kondisi ekonomi umat saat ini tengah menghadapi ujian yang tidak ringan. Obligasi Negara Ritel seri ORI029 yang ditawarkan pemerintah pada awal tahun ini tampak sepi peminat, mencerminkan tantangan ekonomi yang sedang dialami masyarakat Indonesia.
Hingga menjelang batas akhir penawaran, kuota penjualan ORI029 masih tersisa lebih dari Rp10 triliun. Berdasarkan data PT Bibit Tumbuh Bersama pada Rabu (18/2/2026), penjualan ORI029 secara total masih menyisakan Rp12,22 triliun dari target Rp25 triliun.
Kondisi Ekonomi Umat yang Memprihatinkan
Data menunjukkan ORI029-T3 masih tersisa sekitar 35,4% atau setara dengan Rp5,31 triliun, sementara ORI029-T6 masih tersisa 69,1% atau Rp6,91 triliun. Dengan kata lain, produk investasi syariah ini baru terjual 51,12% dari target yang ditetapkan.
ORI029-T3 menawarkan kupon 5,45% untuk tenor 3 tahun, sedangkan ORI029-T6 membanderol kupon 5,8% untuk tenor 5 tahun. Namun, tingkat kupon tersebut memiliki spread yang tipis dibandingkan dengan suku bunga acuan Bank Indonesia yang saat ini berada di posisi 4,75%.
Dampak Ketegangan Geopolitik dan Kemiskinan Struktural
Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran telah membuat investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi atas ketidakpastian yang terjadi.
"Ketegangan geopolitik ini menyebabkan ketidakpastian meningkat. Investor ritel akhirnya memilih wait and see untuk masuk," ungkapnya.
Yang lebih memprihatinkan, kondisi ini diperparah oleh menurunnya daya beli masyarakat dalam negeri. Laporan Mandiri Institute mengungkapkan populasi kelas menengah di Indonesia mengalami kontraksi signifikan pada 2025, dengan 1,2 juta masyarakat terlempar dari kategori ini dan turun ke level ekonomi yang lebih rendah.
Pelajaran Berharga untuk Kebangkitan Ekonomi Umat
Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana menekankan pentingnya perhatian terhadap kondisi ekonomi rakyat. "Harusnya ORI atau SBN Ritel ditujukan untuk investor individu dalam negeri, yang biasanya menjadi target market-nya adalah kelas menengah. Pada saat yang sama kita lihat kelas menengah kita jumlahnya makin berkurang," katanya.
Kondisi ini mengingatkan kita pada ajaran Islam tentang pentingnya keadilan ekonomi dan kesejahteraan bersama. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran tentang pentingnya distribusi kekayaan yang adil di antara umat.
Selain tantangan internal, kondisi geopolitik global juga mempengaruhi keputusan investasi. Investor lebih memilih instrumen investasi yang dianggap lebih aman seperti emas, yang tengah mengalami kenaikan signifikan.
Harapan dan Doa untuk Masa Depan
Meskipun menghadapi tantangan berat, masih terdapat harapan dari aksi reinvestasi investor di pasar SBN. Data BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan sedikitnya empat Surat Utang Negara yang jatuh tempo pada Februari 2026 dengan total Rp46,85 triliun.
Semoga dengan izin Allah, kondisi ekonomi umat Indonesia dapat segera membaik. Diperlukan kebijakan yang lebih berpihak pada rakyat kecil dan kelas menengah, serta penguatan ekonomi syariah yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Wallahu a'lam bishawab. Semoga Allah memberikan jalan keluar terbaik bagi bangsa dan umat Indonesia dalam menghadapi ujian ekonomi ini.