Santri Jadi Pemimpin Perubahan: Kunci Sekolah Sehat Bukan Cuma Fasilitas
Oleh: Ahmad Fadli
Mewujudkan sekolah sehat tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas yang memadai. Tantangan kesehatan peserta didik saat ini semakin kompleks, mulai dari pola makan yang kurang sehat, rendahnya aktivitas fisik, meningkatnya masalah kesehatan mental, hingga perundungan dan kepedulian terhadap lingkungan sekolah yang masih perlu diperkuat. Data nasional menunjukkan satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, sementara sekitar 20 persen anak laki-laki dan 25,4 persen anak perempuan usia 13-17 tahun pernah mengalami sedikitnya satu bentuk kekerasan dalam satu tahun terakhir. Kondisi ini menegaskan bahwa membangun sekolah sehat harus dimulai dari perubahan perilaku dan budaya di lingkungan sekolah.
Perubahan budaya tersebut tidak dapat hanya mengandalkan guru, tenaga kesehatan, atau kebijakan sekolah. Peserta didik juga perlu diberi ruang untuk menjadi pemimpin, mengenali persoalan di sekitarnya, dan mengambil peran dalam menyusun solusi yang dapat diwujudkan bersama. Semangat inilah yang mendorong Madrasah Ulumul Qur'an (MUQ) Pidie bersama Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) menyelenggarakan Upgrading FORSA dan Focus Group Discussion (FGD) Kader TaKasi-SeRa pada Selasa, 14 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 48 pengurus FORSA MUQ Pidie, sementara FGD melibatkan 15 kader TaKasi-SeRa, terdiri atas 7 santriwati dan 8 santriwan.
Gerakan Sekolah Sehat: Lebih dari Sekadar Kebersihan
Dalam kegiatan upgrading, materi disampaikan oleh Najwa Miftahul Jannah, S.Kep, Edukator GEN-A. Ia menjelaskan bahwa Gerakan Sekolah Sehat merupakan upaya bersama seluruh warga sekolah untuk meningkatkan kesehatan peserta didik melalui pembiasaan hidup sehat di lingkungan sekolah. Tujuannya bukan sekadar menciptakan sekolah yang bersih, tetapi membangun lingkungan belajar yang mampu mendukung tumbuh kembang peserta didik secara utuh.
Menurut Najwa, sekolah sehat memberikan manfaat yang jauh lebih luas daripada aspek kesehatan semata. Kebiasaan hidup sehat membantu peserta didik lebih fokus belajar, menjaga kebugaran tubuh, memperkuat kesehatan mental, menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, serta mendukung prestasi akademik maupun nonakademik. Karena itu, budaya hidup sehat perlu dibangun melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten oleh seluruh warga sekolah.
Ia menambahkan bahwa kebiasaan sederhana seperti mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara rutin, mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghargai teman, mencegah perundungan, hingga berani mencari bantuan ketika menghadapi masalah psikologis merupakan bagian penting dari upaya membangun sekolah sehat.
Peran Strategis FORSA dalam Membangun Budaya Sehat
Najwa juga menekankan bahwa FORSA memiliki peran strategis sebagai mitra madrasah dalam membangun budaya hidup sehat. Peran tersebut diwujudkan melalui pembiasaan perilaku hidup sehat, menjadi teladan dalam menjaga kebersihan lingkungan pesantren, mengampanyekan lima fokus Gerakan Sekolah Sehat kepada teman sebaya, serta menginisiasi berbagai kegiatan positif seperti kerja bakti, olahraga bersama, dan edukasi kesehatan.
Setelah sesi materi, peserta mengikuti Small Working Group (SWG). Berbeda dengan pelatihan yang hanya berfokus pada penyampaian materi, pendekatan ini melatih peserta untuk mengubah masalah menjadi aksi. Setiap kelompok mengidentifikasi persoalan nyata di lingkungan madrasah berdasarkan lima fokus Gerakan Sekolah Sehat, kemudian menganalisis penyebabnya dan menyusun solusi yang dapat dilaksanakan oleh FORSA bersama kader TaKasi-SeRa.
Beberapa gagasan yang lahir dari diskusi tersebut antara lain pemanfaatan botol plastik bekas menjadi produk kerajinan sebagai bagian dari pengelolaan sampah pada fokus Sehat Lingkungan, serta penyelenggaraan konseling minat dan bakat dan edukasi perencanaan karier bagi santri kelas akhir untuk mendukung Sehat Jiwa. Kelompok lain juga mengusulkan penguatan edukasi gizi, pembiasaan aktivitas fisik, serta kampanye perilaku hidup bersih dan sehat sebagai bagian dari upaya membangun budaya sekolah yang lebih sehat.
Refleksi dan Evaluasi: Kader TaKasi-SeRa Berbagi Pengalaman
Setelah rangkaian upgrading selesai, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) bersama kader TaKasi-SeRa. Forum ini menjadi ruang refleksi bagi para kader untuk mengevaluasi pelaksanaan edukasi sebaya, berbagi pengalaman dalam mendampingi teman, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi di lapangan, serta menyusun rekomendasi agar program kesehatan remaja di lingkungan madrasah dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Seluruh proses pembelajaran didampingi oleh tim fasilitator GEN-A yang terdiri atas Cutwan Annura Rezkina, Mina Shafira, Sitty Almatunira, dan Cut Diva Razaki, yang memfasilitasi diskusi kelompok, identifikasi masalah, hingga penyusunan rekomendasi program.
Harapan Ketua Dayah: Menjemput Takdir yang Lebih Baik
Ketua Dayah Madrasah Ulumul Qur'an Pidie, Tgk. Junaidi Ahmad, S.Ag., M.H., mengatakan bahwa membangun sekolah yang sehat merupakan bagian dari ikhtiar untuk membentuk generasi yang berkarakter. “Kegiatan kita hari ini adalah usaha kita untuk menjemput takdir yang lebih baik. Kita ingin sekolah ini menjadi sekolah yang baik dan sehat. Lebih dari itu, kita berharap para santri tumbuh menjadi pribadi yang baik, berakhlak mulia, serta jauh dari berbagai perilaku buruk dan menyimpang,” ujarnya dengan penuh hikmah.
Pesan Direktur GEN-A: Sekolah Sehat Lahir dari Budaya, Bukan Sekadar Program
Di akhir kegiatan, Direktur Eksekutif Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) sekaligus Duta Pemuda Indonesia 2025 Provinsi Aceh, Imam Maulana, menegaskan bahwa sekolah sehat tidak dibangun oleh satu kegiatan, melainkan oleh budaya yang tumbuh dari partisipasi seluruh warga sekolah. Pesan ini menjadi pengingat bahwa perubahan sejati dimulai dari kesadaran kolektif dan keteladanan, bukan sekadar proyek sesaat.
FAQ: Sekolah Sehat dan Peran Santri
Apa itu Gerakan Sekolah Sehat?
Gerakan Sekolah Sehat adalah upaya bersama seluruh warga sekolah untuk meningkatkan kesehatan peserta didik melalui pembiasaan hidup sehat di lingkungan sekolah. Fokusnya meliputi gizi, aktivitas fisik, kesehatan mental, lingkungan bersih, dan pencegahan perundungan.
Mengapa kepemimpinan pelajar penting dalam sekolah sehat?
Karena perubahan budaya tidak bisa hanya bergantung pada guru atau kebijakan. Pelajar yang menjadi pemimpin mampu mengenali masalah di sekitarnya, menjadi teladan, dan menggerakkan teman-temannya untuk hidup sehat secara berkelanjutan.
Apa hasil konkret dari kegiatan di MUQ Pidie?
Peserta menghasilkan gagasan seperti pemanfaatan botol plastik bekas menjadi kerajinan, konseling minat dan bakat untuk santri kelas akhir, serta kampanye perilaku hidup bersih dan sehat. Semua ini dirancang untuk diimplementasikan oleh FORSA dan kader TaKasi-SeRa.
Featured Image: Santri MUQ Pidie berdiskusi dalam kegiatan Upgrading FORSA dan FGD Kader TaKasi-SeRa. (Foto: Serambi Indonesia)