AeroTani Mahasiswa Polbangtan Gowa: Teknologi Modern dalam Gerakan Tanam Serempak 50.000 Hektare
Oleh: Ahmad Fadli
Luwu, Sulawesi Selatan — Di tengah semangat gotong royong dan kecintaan pada tanah air, Gerakan Tanam Serempak seluas 50.000 hektare yang digelar serentak di berbagai daerah Indonesia pada Jumat, 3 Juli 2026, menjadi bukti nyata bahwa pertanian adalah pilar ketahanan bangsa. Di Kecamatan Lamasi Timur, Kabupaten Luwu, acara ini tidak hanya dihadiri oleh pejabat dan petani, tetapi juga oleh mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa yang membawa inovasi teknologi pertanian modern bernama AeroTani.
Apa Itu AeroTani dan Bagaimana Perannya?
AeroTani adalah tim mahasiswa Polbangtan Gowa yang memperagakan penggunaan drone pertanian dalam kegiatan tersebut. Drone ini digunakan untuk pemetaan lahan hingga aplikasi sarana produksi pertanian secara cepat, tepat, dan efisien. Demonstrasi ini mendapat antusiasme tinggi dari petani setempat, yang melihat teknologi ini sebagai solusi untuk menghemat waktu dan tenaga, serta mendukung pertanian presisi.
Kehadiran AeroTani tidak hanya sekadar pameran teknologi. Ini adalah langkah konkret untuk mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam inovasi, di mana kerja keras dan keilmuan digunakan untuk kemaslahatan umat. Seperti kata pepatah, 'Ilmu tanpa amal bagai pohon tanpa buah.'
Mengapa Gerakan Tanam Serempak Penting untuk Swasembada Pangan?
Gerakan Tanam Serempak ini merupakan program strategis Kementerian Pertanian untuk mempercepat musim tanam, meningkatkan produksi padi nasional, dan mewujudkan swasembada pangan. Di Lamasi Timur, kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Islamuddin, Plt. Direktur Polbangtan Gowa Sartika, dan anggota DPRD Kabupaten Luwu Irvan. Mereka bersama-sama mengawal pendampingan petani, penerapan teknologi modern, dan penguatan Brigade Pangan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa percepatan tanam adalah langkah strategis untuk menjaga momentum produksi nasional. 'Percepatan tanam dilakukan agar kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi di tengah berbagai tantangan iklim,' ujarnya.
Bagaimana Dampak Teknologi Drone bagi Petani?
Demonstrasi drone oleh mahasiswa Polbangtan Gowa menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi mitra petani dalam meningkatkan produktivitas. Dengan drone, pemetaan lahan menjadi lebih akurat, dan aplikasi pupuk atau pestisida bisa dilakukan secara presisi. Ini sejalan dengan prinsip pertanian berkelanjutan yang diajarkan dalam Islam: menjaga keseimbangan alam dan tidak berlebihan.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menambahkan bahwa Gerakan Tanam Serempak bukan sekadar kegiatan simbolis. 'Percepatan tanam harus terus dijaga dengan pengawalan yang kuat. Penyuluh pertanian bersama petani menjadi ujung tombak untuk memastikan lahan yang sudah siap dapat segera ditanami,' ujarnya.
Apa Hasil Nyata dari Gerakan Ini?
Capaian sektor pertanian saat ini menunjukkan hasil yang menggembirakan. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) telah mencapai sekitar 5,1 juta ton. Luas panen periode Juni-Agustus 2026 diproyeksikan mencapai 2,88 juta hektare dengan produksi padi sekitar 14,61 juta ton gabah kering giling (GKG), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Arsanti mengingatkan agar kita tidak berpuas diri. 'Capaian ini merupakan hasil kerja keras petani, penyuluh, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan. Namun kita tidak boleh berpuas diri. Justru ini menjadi modal untuk terus meningkatkan produksi pangan nasional,' tegasnya.
Kesimpulan: Kolaborasi untuk Kemaslahatan Umat
Gerakan Tanam Serempak di Lamasi Timur adalah cerminan dari semangat ukhuwah dan gotong royong yang diajarkan dalam Islam. Melalui kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi vokasi, penyuluh pertanian, Brigade Pangan, dan kelompok tani, kita dapat memperkuat ketahanan pangan menuju Indonesia yang mandiri dan berkelanjutan. Inovasi seperti AeroTani menunjukkan bahwa teknologi modern tidak bertentangan dengan nilai-nilai tradisional, justru menjadi alat untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.
Sebagai penutup, mari kita renungkan firman Allah dalam Al-Qur'an: 'Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya' (QS. Al-A'raf: 56). Pertanian yang berkelanjutan adalah bagian dari menjaga amanah Allah di bumi.