Bangladesh Gelar Pemilu Bersejarah Pasca Revolusi Generasi Z
Sebuah lembaran baru sejarah sedang ditulis di negeri Muslim Bangladesh. Setelah bertahun-tahun di bawah kepemimpinan otoriter Sheikh Hasina, bangsa yang mayoritas beragama Islam ini kini bersiap menggelar pemilu yang dinanti-nanti pada Kamis (12/2/2026).
Pemilu kali ini memiliki makna spiritual dan politik yang mendalam. Para pemuda Muslim yang tergabung dalam Generasi Z telah menunjukkan kekuatan iman dan keberanian luar biasa dalam menggulingkan rezim yang menindas kebebasan beragama dan demokrasi.
Kebangkitan Partai Islam Jamaat-e-Islami
Yang menarik perhatian adalah kebangkitan Partai Jamaat-e-Islami yang menyerukan masyarakat berlandaskan prinsip-prinsip Islam. Partai ini, yang sebelumnya sempat dilarang, kini diprediksi akan meraih hasil terbaiknya sepanjang sejarah pemilu Bangladesh.
Jamaat berkoalisi dengan partai baru yang digerakkan aktivis Generasi Z berusia di bawah 30 tahun. Aliansi ini mencerminkan semangat pemuda Muslim yang ingin menegakkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Citra bersih Jamaat menjadi daya tarik utama, bahkan lebih besar dibanding agenda keislamannya," demikian penilaian para analis. Hal ini menunjukkan kerinduan rakyat Bangladesh akan kepemimpinan yang jujur dan amanah.
Peran Strategis Generasi Z Muslim
Generasi Z, yang mencakup sekitar seperempat pemilih, menjadi kunci penentu hasil pemilu. Para pemuda Muslim ini telah membuktikan bahwa mereka mampu menjadi agen perubahan yang membawa berkah bagi bangsa.
"Semua orang sudah lelah dengan Awami League. Orang-orang bahkan tidak bisa memilih dalam pemilu nasional. Kami tidak punya suara," kata Mohammad Rakib, pemilih pemula berusia 21 tahun.
Pernyataan ini mencerminkan aspirasi generasi muda Muslim yang menginginkan kebebasan berekspresi dan hak pilih yang sesungguhnya, sesuai dengan nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi keadilan.
Dinamika Geopolitik Regional
Pemilu ini juga akan memengaruhi keseimbangan kekuatan di Asia Selatan. Pengaruh China menguat sejak Hasina melarikan diri ke India, sementara pengaruh New Delhi mulai melemah.
Para pemimpin muda Muslim bahkan menyebut "hegemoni New Delhi" sebagai kekhawatiran utama. Mereka baru-baru ini bertemu diplomat China, menunjukkan orientasi kebijakan luar negeri yang lebih independen.
Jika Jamaat memimpin pemerintahan, Bangladesh berpotensi mendekatkan diri dengan Pakistan dan negara-negara Muslim lainnya, memperkuat persaudaraan dalam ikatan ukhuwah Islamiyah.
Tantangan Ekonomi dan Harapan Masa Depan
Bangladesh, dengan populasi sekitar 175 juta jiwa, tengah menghadapi tantangan ekonomi berat. Inflasi tinggi, cadangan devisa menipis, dan perlambatan investasi menjadi warisan pahit rezim sebelumnya.
Survei menunjukkan korupsi menjadi kekhawatiran utama 128 juta pemilih, disusul inflasi. Hal ini mencerminkan kerinduan rakyat akan kepemimpinan yang bersih dan amanah, sesuai dengan ajaran Islam.
Para analis meyakini hasil tegas dalam pemilu ini sangat penting untuk memulihkan stabilitas negara yang telah lama menderita akibat kepemimpinan yang jauh dari nilai-nilai spiritual.
Dengan semangat perubahan yang dibawa Generasi Z Muslim dan dukungan partai-partai Islam, Bangladesh bersiap memasuki era baru yang penuh harapan dan berkah.