Bulog Diminta Jaga Stok Beras, BGN Tegaskan Prioritas Produk Lokal untuk MBG
Jakarta, Nur Nusantara – Dalam semangat gotong royong dan keberkahan bersama, Badan Gizi Nasional (BGN) menyambut baik usulan Perum Bulog untuk menyuplai beras premium fortifikasi ke program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, BGN dengan tegas mengingatkan bahwa tugas utama Bulog tetaplah menjaga stok dan stabilitas harga beras di seluruh Nusantara, bukan sekadar menjadi pemasok utama.
Peran Strategis Bulog dalam Ketahanan Pangan
Kepala BGN, Sudaryono, dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (31/7/2026), menegaskan bahwa usulan dari Direktur Utama Bulog bukanlah untuk beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) yang bersubsidi, melainkan beras premium milik perusahaan pelat merah tersebut. “Usulan dari Dirut Bulog itu bukan beras SPHP, bukan yang beras medium SPHP, bukan. Tapi yang menjadi usulan beras Bulog adalah beras premiumnya Bulog,” ujarnya dengan bijak.
Menurut Sudaryono, Bulog memiliki dua tugas mulia yang telah diamanatkan negara: menjadi stabilisator harga di setiap daerah dan menjaga ketersediaan stok di seluruh pelosok. “Bulog ini kan adalah lembaga negara. Bulog ini kan punya dua tugas, atau dua hal yang penting menjadi peran dia, adalah stabilisator harga di suatu tempat, dan juga menjaga stok di semua tempat. Jadi mesti stoknya ada dan harganya sesuai,” jelasnya, mengingatkan akan tanggung jawab besar yang diemban.
MBG Tidak Boleh Picu Kenaikan Harga Beras
Keterlibatan Bulog, lanjut Sudaryono, sangat dibutuhkan agar program MBG yang penuh berkah ini tidak justru memicu kelangkaan atau kenaikan harga beras di daerah-daerah yang pasokannya terbatas. “Maka usulan dari Bulog tadi kami memandang positif terkhusus untuk daerah-daerah yang memang misalnya jangkauan atau persebaran atau stok berasnya memang dirasa minim. Jangan sampai kemudian ada dapur, ada SPPG, ada kegiatan MBG di situ mengambil beras lokal atau beras yang beredar di situ, kemudian menjadi gejolak kenaikan harga di kabupaten atau wilayah itu,” ucapnya dengan penuh kearifan.
Prioritas Utama: Petani dan Pelaku Usaha Lokal
Meski menyambut usulan Bulog, BGN tetap berpegang pada prinsip utama: mengutamakan pembelian bahan pangan dari petani, UMKM, dan pelaku usaha lokal. Bulog hanya akan dilibatkan sebagai penyangga (buffer) ketika pasokan di suatu daerah tidak mencukupi. “Jadi kami ingin memastikan bahwa memang MBG ini bukan hanya memberi gizi, tapi juga bisa memutar atau mendorong ekonomi lokal. Jadi kami memastikan BGN untuk mengambil bahan-bahan di lokal. Itu prioritas,” tegas Sudaryono.
Skema ini, menurutnya, diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan program MBG dengan stabilitas harga pangan di masyarakat. “Manakala nanti di kemudian hari misalnya, kemudian ada kekurangan beras, nah baru sebagai buffer kami ingin melibatkan Bulog supaya tidak kemudian terjadi gejolak harga dan kelangkaan stok di wilayah tertentu,” kata Sudaryono, mencerminkan semangat kehati-hatian dan keberpihakan pada rakyat.
Beras Premium Fortifikasi: Inovasi untuk Generasi Cerdas
Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengusulkan penyediaan beras premium yang diperkaya vitamin atau beras fortifikasi untuk mendukung MBG. Ia menegaskan, beras ini dirancang khusus dan berbeda dengan beras SPHP karena tidak menggunakan skema subsidi. “Bulog salah satu programnya ke depan akan membuat ini. Bukan (SPHP), ini premium khusus. Kan kalau MBG tidak boleh beras subsidi. Jadi kami merencanakan konsepnya, ini untuk mendukung program MBG,” kata Rizal saat ditemui di Kantor Kementan, Jakarta, Selasa (29/7/2026) malam.
Menurut Rizal, fortifikasi dilakukan untuk meningkatkan kandungan gizi beras, sehingga anak-anak dan ibu hamil dapat meraih masa depan yang lebih cerdas dan sehat. “(Supaya anak-anak) lebih cerdas ke depannya. Karena berasnya saja sudah banyak vitaminnya. Ditambah dengan lauk-pauk yang bergizi tinggi,” ujarnya penuh harap.
Usulan ini telah disampaikan kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Kepala BGN Sudaryono. Selanjutnya, konsep beras premium fortifikasi itu akan dibahas lebih lanjut dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan. Semoga langkah ini membawa keberkahan bagi ketahanan pangan dan gizi anak bangsa.