Sejumlah hoaks yang dikaitkan dengan Bandara Soekarno Hatta kembali beredar di media sosial pada Oktober 2026, menyasar tokoh politik, tarif parkir, hingga isu demonstrasi. Menurut Liputan 6, klaim-klaim palsu itu muncul dalam beragam tema dan tersebar cepat di kalangan pengguna internet, sehingga masyarakat diminta lebih cermat sebelum mempercayai dan meneruskan pesan berantai.
Bagi kita yang hidup di era informasi serba cepat, kabar bohong bukan lagi gangguan kecil. Ia bisa merusak reputasi orang, memecah belah umat, dan menanamkan kebencian tanpa dasar. Islam sejak awal mengajarkan untuk memverifikasi sebelum menyampaikan, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al Hujurat ayat 6 agar tidak menerima kabar dari orang fasik begitu saja.
Video Palsu Penangkapan Nusron Wahid oleh KPK
Hoaks pertama yang menarik perhatian publik adalah video yang mengklaim KPK menangkap Menteri ATR/BPN Nusron Wahid di Bandara Soekarno Hatta. Postingan itu mulai beredar sejak awal pekan ini, salah satunya diunggah akun Facebook pada 20 Oktober 2026.
Dalam video tersebut terlihat sosok yang disebut sebagai Nusron Wahid, memakai kemeja putih dan berpeci hitam, keluar dari sebuah gedung sambil dikawal menuju mobil. Akun pengunggah menambahkan narasi menyebut sang menteri mangkir sehingga dijemput paksa.
Kendati demikian, Tirto.ID melaporkan bahwa KPK telah membantah narasi tersebut. Rekaman yang beredar bukan video Nusron Wahid dijemput paksa oleh KPK di bandara. Kabar ini menjadi pengingat betapa mudahnya potongan video diberi judul sensasional lalu diterima sebagai kebenaran oleh ribuan orang.
Kabar Bohong Tarif Parkir Rp 150 Ribu per 30 Menit
Hoaks kedua menyasar kantong masyarakat. Sebuah pesan berantai beredar sejak pekan lalu, salah satunya diunggah di Facebook pada 26 September 2025, mengklaim biaya parkir di Bandara Soekarno Hatta naik menjadi Rp 150 ribu per 30 menit.
Postingan itu menampilkan foto area bandara dengan papan bertuliskan tarif lajur premium untuk drop off dan pick up. Pengunggah bahkan menambahkan kalimat yang menggambarkan keheranan masyarakat atas tarif yang disebutnya makin gila.
Klaim tersebut tidak benar. Pesan berantai seperti ini biasanya menunggangi kegelisahan publik soal biaya hidup, lalu membesar-besarkan angka agar cepat viral. Sebelum meneruskan pesan serupa kepada kerabat, ada baiknya kita membaca sumber resmi pengelola bandara terlebih dahulu.
Klaim Video Demo di Bandara Soetta
Hoaks ketiga berupa video yang diklaim sebagai aksi demonstrasi di Bandara Soekarno Hatta. Video itu diunggah salah satu akun TikTok pada 31 Agustus 2025 dan menampilkan sejumlah orang berdiri di dalam ruangan, sebagian memegang koper, dengan tulisan menyiratkan orang yang ingin kabur dari kerusuhan demo di Jakarta ternyata bertemu demo lagi di bandara.
Video itu diberi keterangan mengaitkannya dengan aksi demo terhadap DPR pada 30 Agustus 2025. Namun klaim tersebut tidak dapat diterima begitu saja, sebab konteks dan lokasi video belum tentu sesuai dengan narasi yang menyertainya.
Kasus serupa pernah terjadi pada insiden hilangnya dua cincin milik Sarah Azani usai pemeriksaan X-ray di bandara yang sama. TV One News menurunkan laporan bahwa InJourney Airports telah menyampaikan hasil penelusuran CCTV terkait insiden itu. Artinya, jawaban atas keraguan publik selalu ada bagi yang mau mencari dari sumber yang jelas, bukan dari unggahan anonim.
Mengapa Verifikasi Itu Bagian dari Akhlak
Dalam tradisi Islam, menyampaikan kabar tanpa mengecek kebenarannya termasuk perbuatan yang dilarang. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa cukuplah seseorang disebut pendusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar tanpa menyaringnya. Hadis riwayat Muslim ini menjadi cermin bagi kita di zaman media sosial, tempat satu jempol bisa menyebarkan kabar ke ribuan orang dalam hitungan detik.
Nusantara kita dianugerahi tradisi keilmuan yang menjunjung kejujuran. Para ulama terdahulu membangun sanad, rantai periwayatan yang ketat, justru untuk memastikan setiap kabar sampai melalui jalur yang jelas dan terpercaya. Semangat itulah yang kini diterjemahkan dalam bentuk literasi media dan cek fakta.
Tim Cek Fakta Liputan6.com sendiri telah aktif memberikan literasi media sejak 2018. Sejak 2 Juli 2018, kanal tersebut bergabung dalam International Fact Checking Network dan menjadi mitra Facebook, serta menjadi bagian dari inisiatif cekfakta.com.
Langkah Sederhana Sebelum Meneruskan Pesan
Ada beberapa kebiasaan baik yang bisa kita tanamkan agar tidak terjebak hoaks:
- Periksa sumber kabar, apakah berasal dari media kredibel atau akun anonim tanpa jejak.
- Cocokkan tanggal dan konteks video atau foto, sebab seringkali materi lama diputar ulang dengan narasi baru.
- Cari klarifikasi resmi dari pihak yang disebut dalam kabar, seperti institusi pemerintah atau pengelola bandara.
- Menahan diri untuk tidak meneruskan pesan saat ragu, karena menahan kabar lebih baik daripada menyebarkan kebatilan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Benarkah Nusron Wahid ditangkap KPK di Bandara Soetta?
Tidak benar. KPK telah membantah narasi penjemputan paksa tersebut, dan video yang beredar bukan rekaman penangkapan Nusron Wahid di bandara.
Apakah tarif parkir Bandara Soekarno Hatta naik jadi Rp 150 ribu per 30 menit?
Tidak benar. Klaim itu beredar lewat pesan berantai sejak akhir September 2025 dan telah ditelusuri oleh tim cek fakta.
Apakah benar ada demo di Bandara Soekarno Hatta pada Agustus 2025?
Klaim video demo di bandara tersebut diunggah akun TikTok pada 31 Agustus 2025, namun narasi yang menyertainya tidak dapat diverifikasi dan tidak boleh diterima begitu saja.
Ke mana kita bisa melaporkan hoaks yang ditemukan?
Liputan6.com menyediakan kanal cek fakta yang dapat dihubungi melalui surel cekfakta.liputan6@kly.id maupun chatbot WhatsApp di 0811-9787-670.
