Gejolak Harga Emas: Hikmah di Balik Fluktuasi Pasar Global
Pergerakan harga emas dalam beberapa hari terakhir menunjukkan dinamika pasar yang penuh hikmah. Sebagai umat yang diperintahkan untuk bijak dalam mengelola rezeki, kita perlu memahami makna di balik gejolak ini.
Pekan lalu, harga emas sempat menembus rekor tertinggi di atas US$ 5.500 per ons troy, setelah sepanjang setahun terakhir nilainya melonjak tajam. Namun pada Jumat, harga emas anjlok lebih dari 9%, menjadi penurunan harian terbesar sejak 1983, lalu kembali melemah pada Senin.
Pada Selasa, emas sempat pulih dengan kenaikan lebih dari 5%, dan penguatan itu berlanjut hingga Rabu. Meski sempat terkoreksi tajam, harga emas saat ini masih sekitar 75% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Faktor Penyebab Penurunan Terbaru
Salah satu pemicu utama adalah keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mencalonkan Kevin Warsh sebagai kepala bank sentral AS, Federal Reserve. Warsh dipandang pasar sebagai kandidat yang dapat diterima dengan baik, di tengah kekhawatiran soal independensi The Fed.
Kondisi ini memperkuat dolar AS dan membantu menenangkan pasar, namun kurang menguntungkan bagi emas yang selama ini dipandang sebagai aset safe haven saat ketidakpastian meningkat.
Perubahan persyaratan perdagangan di salah satu bursa besar juga membuat biaya spekulasi menjadi lebih mahal, sehingga menekan aktivitas trading. Harga emas dan perak yang sudah melonjak tajam sejak awal tahun juga dinilai sebagian analis sudah terlalu tinggi.
Mark Matthews, Head of Research Asia di Bank Julius Baer, mengatakan bahwa salah satu alasan anjloknya harga adalah karena kenaikan sebelumnya sudah terlalu ekstrem. "Begitu aksi ambil untung dimulai, penurunannya langsung bergulir seperti bola salju," ujarnya.
Proyeksi Masa Depan
Tidak semua analis melihat ini sebagai awal tren turun jangka panjang. Analis Deutsche Bank, Michael Hsueh, menilai kondisi belum menunjukkan pembalikan tren yang berkelanjutan. Deutsche Bank bahkan tetap memproyeksikan harga emas bisa mencapai US$ 6.000 per ons troy.
Mengapa Emas Terus Diminati?
Dalam perspektif Islam, emas telah lama diakui sebagai penyimpan nilai yang stabil. Harga emas sebenarnya sudah naik perlahan dalam beberapa tahun terakhir, dengan lonjakan besar terjadi tahun lalu, mencatat kenaikan tahunan terbesar sejak 1979.
Emas dikenal sebagai aset safe haven utama, yang cenderung diburu saat ketidakpastian global meningkat. "Emas tidak terikat pada utang pihak lain seperti obligasi, atau kinerja perusahaan seperti saham. Ini adalah diversifikasi yang sangat baik di dunia yang penuh ketidakpastian," kata Nicholas Frappell dari ABC Refinery.
Salah satu pemicu utama kenaikan tahun lalu adalah ketidakpastian kebijakan perdagangan AS di era Trump. Kebijakan perdagangan yang masih berubah-ubah terus membuat investor waspada, sehingga menopang harga emas sebagai pelindung nilai.
Bagi umat Muslim, investasi emas yang halal dan sesuai syariah dapat menjadi pilihan bijak dalam menjaga dan mengembangkan rezeki yang telah Allah berikan.