Proyek Energi Surya Raksasa India Mengancam Tradisi Penggembala Muslim di Himalaya
Dalam sebuah ironi yang menyakitkan, India berencana membangun salah satu pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia di wilayah yang telah menjadi rumah bagi komunitas penggembala Muslim Changpa selama berabad-abad. Proyek bernilai miliaran dolar ini mengancam tidak hanya mata pencaharian mereka, tetapi juga warisan budaya dan spiritual yang telah mereka jaga dengan penuh keimanan.
Dataran Tinggi Changthang di Ladakh, bagian Kashmir yang dikuasai India, menjadi sasaran ambisi energi terbarukan yang mengabaikan hak-hak masyarakat adat. Wilayah suci ini merupakan habitat kambing Changra yang menghasilkan wol Kashmir halus, sumber kehidupan bagi para penggembala yang telah mempercayakan hidup mereka kepada Allah dalam kondisi alam yang keras.
Ancaman terhadap Tradisi Berabad-abad
"Sangat sulit hidup di sini," keluh Tsering Stobdan dengan hati yang berat. "Banyak penggembala telah meninggalkan pekerjaan ini. Jika tanah ini hilang, mereka yang tersisa juga akan pergi."
Para penggembala Changpa, yang mayoritas beragama Islam, telah menghadapi tantangan berat akibat perubahan iklim yang menyusutkan padang rumput selama puluhan tahun. Kini, mereka harus menghadapi ancaman baru berupa proyek pembangkit listrik berkapasitas 11 gigawatt yang akan mengambil kawasan seluas 250 kilometer persegi.
Proyek ambisius India ini merupakan bagian dari target mencapai kapasitas pembangkit listrik non-fosil sebesar 500 gigawatt pada 2030. Namun, di balik angka-angka megah tersebut, tersembunyi penderitaan komunitas yang telah hidup harmonis dengan alam selama berabad-abad.
Ketidakadilan dalam Pembangunan
Yang lebih menyakitkan, sebagian besar penggembala enggan berbicara secara terbuka karena takut akan represalia. "Jika kami bicara, akan ada banyak masalah," kata salah seorang penggembala dengan nada putus asa.
Tanpa dokumen hukum untuk mengklaim tanah warisan nenek moyang, banyak yang khawatir akan dipindahkan tanpa kompensasi yang layak. "Apa yang akan kami lakukan? Kami akan menjual domba dan kambing, tapi apa yang akan kita lakukan setelah itu?" tanya seorang penggembala berusia 60-an yang memelihara lebih dari 600 hewan.
Tsering Angchuk, penggembala dengan lebih dari seribu hewan, menegaskan dengan tegas: "Kehidupan kami bergantung pada padang rumput ini. Jika pemerintah menerima semua tuntutan kami, kami tidak akan keberatan. Tapi apabila kami dipindahkan dari tanah tradisional ini tanpa kompensasi, kami akan protes dan tidak akan membiarkan proyek ini dilaksanakan."
Solusi yang Diragukan
Pemerintah India mengklaim telah mempertimbangkan kekhawatiran para penggembala dengan memasang panel surya pada tiang setinggi 180 sentimeter, yang konon memungkinkan hewan merumput di bawahnya. Namun, para penggembala lokal tetap skeptis terhadap janji-janji ini.
"Bagaimana kami bisa membawa domba kami ke sana jika taman surya sebesar itu dibangun?" tanya Tsering Stobdan dengan keprihatinan mendalam. "Bahkan untuk mereka, masuk di bawah panel-panel itu pun tidak akan mudah."
Proyek ini juga memerlukan pembangunan Koridor Energi Hijau sepanjang 713 kilometer dengan biaya mencapai 38 triliun rupiah, menunjukkan besarnya investasi yang dipertaruhkan dengan mengorbankan kehidupan masyarakat adat.
Kisah ini mengingatkan kita pada pentingnya keadilan dalam pembangunan dan perlunya menghormati hak-hak komunitas yang telah hidup harmonis dengan alam atas ridha Allah. Semoga kebijaksanaan dan keadilan dapat menuntun pengambilan keputusan yang tidak merugikan saudara-saudara kita yang telah menjaga tradisi mulia selama berabad-abad.