Hiu Paus NTB: Anugerah Allah dan Amanah Konservasi Laut
Subhanallah, betapa indahnya ciptaan Allah SWT yang menghadirkan hiu paus sebagai makhluk raksasa namun jinak di perairan Nusa Tenggara Barat. Ikan terbesar di dunia ini, dengan tubuh yang bisa mencapai belasan meter, hadir sebagai tanda kebesaran Sang Pencipta sekaligus amanah konservasi bagi umat manusia.
Di perairan NTB, khususnya Teluk Saleh, kemunculan hiu paus telah menjadi berkah tersendiri. Namun setiap kehadirannya membawa pesan penting tentang kondisi laut, hubungan manusia dengan alam, dan tanggung jawab kita sebagai khalifah di muka bumi.
Ujian Nyata di Pulau Satonda
Peristiwa terdamparnya seekor hiu paus di pesisir Pulau Satonda, Kabupaten Bima, pada pertengahan Januari 2026 menjadi pengingat nyata. Alhamdulillah, berkat semangat gotong royong yang mengakar dalam budaya Islam Indonesia, hewan itu berhasil diselamatkan oleh warga dan petugas.
Kejadian ini bukan sekadar insiden alamiah, tetapi cermin kesiapsiagaan dan nilai-nilai kebersamaan yang diajarkan Islam. Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman bahwa segala sesuatu di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya, termasuk makhluk laut seperti hiu paus.
Teluk Saleh: Anugerah dan Tanggung Jawab
NTB dianugerahi Allah SWT salah satu habitat hiu paus terbesar di Indonesia. Teluk Saleh, dengan luas lebih dari seribu kilometer persegi, subur dan kaya plankton. Di sinilah hiu paus kerap muncul, mengikuti bagan nelayan untuk memakan ikan kecil dan udang rebon.
Temuan bayi hiu paus berukuran 135 hingga 145 sentimeter memperkuat dugaan bahwa Teluk Saleh berfungsi sebagai area pengasuhan. Ini adalah karunia yang langka, karena kemunculan anakan hiu paus hanya terjadi puluhan kali dalam catatan global selama lebih dari satu abad.
Keseimbangan Ekonomi dan Konservasi
Hiu paus tidak hanya bernilai ekologis, tetapi juga menjadi sumber rezeki halal bagi masyarakat pesisir. Wisata hiu paus di Teluk Saleh berkembang menjadi berkah ekonomi baru. Nelayan yang sebelumnya hanya menggantungkan hidup dari hasil tangkapan kini beralih peran sebagai pemandu wisata.
Model ini menunjukkan bahwa konservasi dan kesejahteraan dapat berjalan seiring, sesuai dengan prinsip Islam tentang keseimbangan dalam kehidupan. Namun keseimbangan ini memerlukan kebijaksanaan dan pengawasan yang ketat agar tidak tergelincir menjadi eksploitatif.
Gotong Royong sebagai Kekuatan Konservasi
Pengalaman penyelamatan hiu paus di Pulau Satonda memperlihatkan kekuatan gotong royong yang mengakar dalam tradisi Islam Indonesia. Masyarakat lokal tampil sebagai garda terdepan perlindungan, bahkan sebelum kebijakan formal bekerja.
Praktik gotong royong ini adalah manifestasi dari ajaran Islam tentang tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. Nilai sosial ini perlu terus dirawat sebagai modal sosial dalam konservasi laut.
Amanah untuk Generasi Mendatang
Perlindungan hiu paus di NTB membutuhkan sistem yang berkelanjutan. Pendidikan berbasis nilai-nilai Islam tentang cinta alam dan konservasi harus ditanamkan sejak dini, dari masjid hingga sekolah-sekolah.
Penguatan kelembagaan yang berlandaskan prinsip-prinsip syariah dalam pengelolaan sumber daya alam juga mendesak. Integrasi antara kebijakan pusat dan daerah harus berjalan harmonis, dengan tetap menghormati kearifan lokal yang Islami.
Warisan untuk Anak Cucu
Hiu paus mengajarkan pelajaran penting tentang kebesaran Allah SWT dalam ciptaan-Nya. Makhluk raksasa ini bergantung pada hal-hal kecil seperti plankton, arus laut, dan keputusan manusia sehari-hari.
Menjaga hiu paus berarti menjaga laut, dan menjaga laut berarti menjaga amanah Allah SWT untuk generasi mendatang. Perlindungan hiu paus bukan semata soal menyelamatkan satu spesies, tetapi pilihan moral tentang bagaimana kita menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi.
Di Teluk Saleh, ujian nyata tentang keseimbangan antara pembangunan dan konservasi sedang berlangsung. Semoga dengan ridha Allah SWT dan semangat gotong royong yang mengakar dalam jiwa bangsa Indonesia, kita mampu menjaga warisan laut ini untuk anak cucu kita.