Humaniora Tetap Penting di Tengah Kecanggihan AI
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) hari ini mampu menulis ringkasan, menerjemahkan bahasa, bahkan menyusun puisi hanya dalam hitungan detik. Kemampuannya dalam mengolah informasi berkembang begitu pesat. Kondisi ini wajar memunculkan pertanyaan: masih pentingkah humaniora di tengah dunia yang semakin otomatis?
Namun, kemampuan mengolah informasi tidak selalu berarti kemampuan memahami kehidupan. Semakin canggih sebuah sistem dalam menghitung, semakin penting pula bagi kita untuk bertanya: apa sebenarnya yang sedang dihitung, dan apa yang justru luput dari perhitungan tersebut?
Esai ini tidak hendak menolak kehadiran AI. Menolak AI sama saja dengan menutup mata terhadap kenyataan yang sedang berlangsung di hadapan kita. Pertanyaan yang ingin saya telusuri justru lebih mendasar: manusia macam apa yang sedang kita bentuk ketika teknologi tumbuh semakin kuat?
Pertanyaan tersebut akan saya telusuri melalui beberapa persoalan yang saling berkaitan, yaitu relasi AI dengan etika, empati, bias data, seni, dan hukum.
AI Mengolah Data, Manusia Menentukan Arah
Ada cara berpikir yang sederhana, tetapi keliru, dalam melihat hubungan antara AI dan etika: menganggap AI sebagai wilayah data, sedangkan etika sepenuhnya menjadi wilayah manusia, seolah-olah keduanya berjalan di jalur yang terpisah.
Kenyataannya jauh lebih rumit. AI memiliki kemampuan komputasional yang luar biasa untuk mengenali pola, membuat prediksi, dan melakukan optimasi. Namun, kemampuan tersebut tidak pernah berdiri sendiri. Manusialah yang menentukan data apa yang digunakan untuk melatih sistem, konteks dan tujuan apa yang hendak dicapai, hingga siapa yang harus bertanggung jawab ketika hasilnya memberikan dampak terhadap kehidupan orang lain.
AI mengolah data, tetapi manusialah yang menentukan arah. Kerangka etika AI internasional pun bergerak ke arah yang sama. UNESCO, melalui Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence yang disahkan pada 2021, menegaskan bahwa pengawasan manusia, akuntabilitas, dan penghormatan terhadap martabat manusia harus menjadi fondasi setiap sistem AI, bukan sekadar fitur tambahan (UNESCO, 2021).
Artinya, humaniora bukanlah lawan dari teknologi. Humaniora justru menjadi cara bagi manusia untuk memahami untuk apa sebuah teknologi digunakan dan manusia macam apa yang hendak dibentuk oleh teknologi tersebut.
Empati yang Disimulasikan
Chatbot saat ini mampu merespons curahan hati dengan kalimat yang terdengar hangat, bahkan menenangkan. Namun, mengetahui tidak selalu berarti memahami. Sebuah sistem dapat mengenali pola kata yang lazim muncul ketika seseorang sedang sedih, kemudian menyusun respons yang secara statistik paling mungkin dianggap menenangkan.
Proses tersebut tentu berbeda jauh dari pengalaman ikut merasakan kesedihan orang lain. Pertanyaan apakah AI memiliki perasaan sebenarnya sudah cukup jelas untuk dijawab. Yang lebih mengganjal justru pertanyaan berikutnya: apakah menghasilkan respons yang menyerupai empati sama dengan benar-benar mengalami empati?
Empati manusia lahir dari tubuh yang pernah terluka, dari ingatan tentang kehilangan, dan dari waktu yang pernah dihabiskan untuk menemani orang lain. Sementara itu, respons AI lahir dari triliunan parameter yang dilatih untuk memperkirakan kata berikutnya.
Keduanya mungkin terdengar serupa di permukaan, tetapi berasal dari proses yang secara mendasar berbeda. Di sinilah kita perlu berhati-hati agar tidak menyamakan simulasi empati dengan pengalaman manusia yang sesungguhnya.
Siapa yang Tercatat, Siapa yang Tidak Terlihat
Data sering kali dianggap objektif karena hadir dalam bentuk angka. Padahal, angka-angka tersebut berasal dari kehidupan manusia. Di dalamnya terdapat berbagai keputusan: apa yang dicatat, siapa yang dicatat, bagaimana sesuatu dikategorikan, dan pengalaman siapa yang justru tidak pernah masuk ke dalam sistem.
Karena itu, pertanyaan tentang siapa yang tercatat dan siapa yang tidak terlihat menjadi penting. Jawabannya turut menentukan wajah sebuah algoritma bahkan sebelum algoritma tersebut mulai melakukan perhitungan.
Dalam perspektif keislaman, kita diajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang dimuliakan dengan akal dan hati. Teknologi hanyalah alat, sedangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kasih sayang tetap menjadi ruh yang harus menghidupi setiap kemajuan. Di tengah gemuruh kecanggihan AI, humaniora menjadi kompas moral yang menjaga kita tetap berada di jalan yang lurus, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an yang mengingatkan bahwa manusia diciptakan sebaik-baiknya bentuk (QS At-Tin: 4).
Nusantara dengan tradisi keilmuan dan keislamannya yang kuat memiliki modal besar untuk menjawab tantangan ini. Kita tidak perlu takut pada teknologi, tetapi kita juga tidak boleh lupa bahwa teknologi diciptakan untuk melayani manusia, bukan sebaliknya. Dengan memadukan kecerdasan teknologi dan kedalaman humaniora, kita dapat membangun peradaban yang maju tanpa kehilangan jati diri.