Industri Alas Kaki Tumbuh 11,3%, Bukti Nyata Kekuatan Ekonomi Umat
Jakarta, Nur Nusantara – Di tengah gejolak ekonomi global yang tak menentu, industri alas kaki Indonesia justru menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan. Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) melaporkan bahwa sektor ini tumbuh 11,30% secara tahunan pada kuartal II/2026. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata bahwa kekuatan ekonomi bangsa, yang berakar pada nilai-nilai keislaman dan kerja keras, tetap kokoh.
Mengapa Industri Alas Kaki Bisa Tumbuh Pesat?
Pertumbuhan ini jauh melampaui sektor industri pengolahan nonmigas yang hanya tumbuh 5,32% dan ekonomi nasional sebesar 5,29%. Sekretaris Jenderal Aprisindo, Yoseph Billie Dosiwoda, menyebutkan bahwa permintaan yang kuat, aktivitas produksi yang stabil, dan daya saing yang terjaga menjadi kunci utama. “Pertumbuhan dua digit ini menunjukkan bahwa industri alas kaki nasional bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga terus berkembang,” ujarnya.
Bagaimana Dampaknya terhadap Tenaga Kerja dan Kesejahteraan?
Pertumbuhan ini juga membawa berkah bagi masyarakat. Pada Februari 2026, sektor ini menyerap sekitar 966.147 tenaga kerja, meningkat 4,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 87,5% merupakan pekerja formal, menandakan terciptanya lapangan kerja yang terstruktur dan berkelanjutan. “Setiap peningkatan pesanan dan kapasitas produksi akan berpengaruh pada penyerapan tenaga kerja, pendapatan rumah tangga, serta aktivitas ekonomi di wilayah industri,” jelas Billie.
Apakah Pasar Domestik dan Ekspor Sama-sama Kuat?
Pasar domestik tetap menjadi penopang utama. Konsumsi rumah tangga untuk sandang, termasuk alas kaki, mencapai Rp103,72 triliun pada kuartal II/2026, tumbuh 3,52% secara tahunan. Sementara itu, ekspor juga menjadi mesin pertumbuhan. Nilai ekspor alas kaki Indonesia pada 2025 mencapai US$7,98 miliar, meningkat 9,54% dari tahun sebelumnya. Indonesia kini menjadi salah satu eksportir alas kaki terbesar di dunia, dengan surplus perdagangan ke Amerika Serikat mencapai US$1,49 miliar pada awal 2026.
Investasi Meningkat Hampir 70%, Apa Artinya?
Optimisme pelaku usaha tercermin dari realisasi investasi yang melonjak. Pada 2025, investasi di sektor ini mencapai Rp25,83 triliun, naik hampir 70% dari tahun sebelumnya. Investasi ini digunakan untuk pembangunan kapasitas produksi, modernisasi mesin, dan pengembangan fasilitas industri. “Ini menunjukkan keyakinan bahwa industri kita memiliki masa depan yang cerah,” tambah Billie.
Apa Tantangan yang Harus Dihadapi?
Meskipun tumbuh pesat, Aprisindo mengingatkan perlunya penguatan daya saing. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan meliputi kepastian akses pasar ekspor, ketersediaan bahan baku, efisiensi logistik dan energi, serta pengawasan terhadap produk impor ilegal dan sepatu tiruan. Sertifikasi halal juga harus diantisipasi agar tidak menjadi hambatan baru bagi industri. Perluasan akses melalui perjanjian perdagangan seperti IEU-CEPA dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu.
Bagaimana Prospek ke Depan?
Dengan kebijakan yang mendukung daya saing dan komitmen industri untuk terus meningkatkan produktivitas, Aprisindo yakin semester II/2026 dapat menjadi periode konsolidasi sekaligus ekspansi. “Kami optimis, industri alas kaki nasional akan terus menjadi pilar kekuatan ekonomi umat dan bangsa,” pungkas Billie.
“Pertumbuhan dua digit ini menunjukkan bahwa industri alas kaki nasional bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga terus berkembang di tengah ketidakpastian perdagangan global.” – Yoseph Billie Dosiwoda, Sekretaris Jenderal Aprisindo