KH Zulfa Mustofa Siap Pimpin NU Lewat Mekanisme AHWA di Muktamar ke-35
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-30 Agustus 2026, memasuki babak akhir. Nama Wakil Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa, mencuat sebagai salah satu kandidat kuat calon Ketua Umum PBNU. Ulama kelahiran Jakarta, 7 Agustus 1977 ini, secara terbuka menyatakan kesiapannya menerima amanah melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang dipilih mayoritas muktamirin.
Siap Ditugaskan di Mana Saja
KH Zulfa menegaskan bahwa sebagai kader NU, dirinya siap ditugaskan di posisi apa pun. Pernyataan ini disampaikannya di hadapan awak media di halaman venue Sidang Gedung Serbaguna (GSG) KH Hasbullah Said, Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada Minggu (30/8/2026).
“Sebagai bagian dari kader NU, saya selalu menyatakan bahwa kami siap untuk ditugaskan di mana pun. Itulah kaderannya. Ditugaskan di mana pun kami siap,” ujar Kyai Zulfa.
Ia menambahkan, apabila nantinya dipercaya melalui mekanisme yang telah ditetapkan para muktamirin, termasuk jika PC-PC menulis namanya, maka itu merupakan sebuah penghormatan besar yang siap diembannya.
Profil dan Rekam Jejak Keilmuan KH Zulfa Mustofa
KH Zulfa Mustofa merupakan putra dari pasangan KH Muqarrabin dan Nyai Hj Marhumah Latifah. Dari garis keturunan ibunya, ia memiliki hubungan kekerabatan dengan Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia, KH Ma'ruf Amin.
Tradisi keilmuan pesantren yang melekat pada dirinya ditempa di berbagai wilayah Nusantara:
- Pendidikan Pesantren: Menempuh pendidikan di Pekalongan, lalu melanjutkan belajar agama di Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah.
- Guru Utama: Di Kajen, ia berguru langsung kepada KH MA Sahal Mahfudh dan KH Rifai Nasuha.
- Kiprah Dakwah: Setelah lulus Madrasah Aliyah pada 1996, rencana studinya ke Timur Tengah (Al-Azhar/Makkah) batal karena sang ayah wafat. Di usia 19 tahun, ia langsung meneruskan dakwah ayahnya dengan mengajar di sekitar 15 majelis taklim.
- Pendiri Majelis: Pada tahun 2000, ia mendirikan Majelis Taklim Darul Mustofa.
- Gelar Akademik: Meraih gelar Doktor Honoris Causa di bidang Ilmu Arudl (kesusastraan Arab) dari UIN Sunan Ampel Surabaya.
Komunikasi Intensif dengan PCNU dan PWNU
Dalam konsolidasi struktur, KH Zulfa mengaku telah menjalin komunikasi intensif dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) selama enam bulan terakhir. Selama lima tahun mengemban jabatan sebagai Wakil Ketua Umum PBNU Bidang Keagamaan, ia tercatat telah mengunjungi lebih dari 400 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.
“Saya hampir setengah tahun ini intensif berkomunikasi dengan baik. Di samping memang selama lima tahun ini saya juga keliling. Saya hampir mendatangi lebih dari 400 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia,” katanya.
Dukung Mekanisme AHWA dan Fokus Pembenahan
Terkait sistem pemilihan Ketua Umum PBNU, KH Zulfa menegaskan dukungannya terhadap keputusan mayoritas muktamirin yang memilih mekanisme AHWA. Menurutnya, mekanisme ini memberikan porsi dan ruang lebih besar kepada jajaran Syuriah sebagai pimpinan tertinggi organisasi.
“Mayoritas menginginkan pemilihan ketua umum lewat mekanisme AHWA terbukti. Tadi malam kita lihat penghitungan menunjukkan mayoritas muktamirin menginginkan pemilihan ketua umum lewat mekanisme AHWA,” jelasnya.
Jika terpilih memimpin PBNU, KH Zulfa membeberkan beberapa fokus pembenahan yang akan dilakukannya, terutama di bidang internal: memperbaiki tata kelola organisasi, memperkuat hubungan PBNU dengan PWNU dan PCNU, menata komunikasi antarpimpinan, memperjelas pembagian tugas, serta mengoptimalkan peran lembaga dan badan otonom (banom) NU.
Semangat kebersamaan dan keikhlasan dalam berkhidmat untuk umat menjadi modal utama dalam setiap langkah. Semoga Muktamar ke-35 ini melahirkan pemimpin yang amanah dan membawa keberkahan bagi seluruh warga NU di Nusantara.