Tren Kecantikan Ekstrem: Suntik Jaringan Mayat Demi Kulit Awet Muda
Di tengah hiruk pikuk industri kecantikan global, muncul sebuah tren yang mengundang decak kagum sekaligus tanda tanya. Klinik-klinik kecantikan di Seoul, Korea Selatan, kini ramai menawarkan perawatan kulit anti-penuaan menggunakan produk bernama Re20. Yang membuatnya kontroversial, bahan baku utama produk ini berasal dari jaringan tisu mayat manusia.
Re20, singkatan dari 'Return to Your 20s', diproduksi oleh L&C Bio Co, perusahaan bioteknologi Korea Selatan. Perawatan ini melibatkan penyuntikan 6 mililiter matriks ekstraseluler (ECM) yang berasal dari kulit manusia yang telah diproses, langsung ke wajah dan leher pasien. Tujuannya jelas: mengembalikan kemudaan kulit yang mulai menua.
Apa Bedanya dengan Perawatan Biasa?
Berbeda dengan penguat kulit konvensional seperti Rejuran (suntikan DNA salmon) atau Laetigen (kolagen babi), Re20 tidak sekadar merangsang produksi kolagen. Ia memberikan kerangka dermal instan yang mengisi garis halus, mengencangkan pori-pori, dan menjadi tempat bagi sel-sel tubuh sendiri untuk tumbuh. Ini adalah pendekatan yang membangun kembali, bukan sekadar merangsang.
Kim Han-saem, Kepala Dermatolog Klinik Dermatologi DoD Seoul, menjelaskan bahwa Re20 hanyalah jaringan kulit yang telah dihilangkan seluruh selnya. Hal ini untuk mencegah penolakan imun dan efek samping alergi. 'Ketika Anda menyuntikkannya ke kulit yang menua atau rusak, Anda tidak merangsang tetapi membangun kembali,' ujarnya kepada Bloomberg.
Popularitas yang Melonjak dan Harga yang Menggoda
Permintaan untuk perawatan ini telah melampaui kapasitas produksi sejak tahun lalu. Pasien rela menunggu hingga satu bulan untuk mendapatkan janji temu. Dokter kulit memasang tarif 600.000 won hingga 800.000 won (sekitar Rp 7,24 juta hingga Rp 9,65 juta) per sesi, jauh lebih tinggi dibandingkan penguat kulit konvensional yang berkisar 200.000 won hingga 300.000 won per sesi.
Kulit yang digunakan dalam Re20 berasal dari jaringan yang disumbangkan di Amerika Serikat dan disertifikasi oleh Association for Advancing Tissue and Biologics (AATB). Perusahaan Korea lainnya, seperti Hans Biomed Corp. dan CG Bio Co., juga mengembangkan produk serupa.
Fenomena Global: Dari Hollywood hingga Asia
Tren ini tidak hanya terjadi di Korea. Di Amerika Serikat, produk bernama Renuva yang terbuat dari lemak manusia donor juga viral di kalangan selebriti Hollywood. Bedanya, Renuva berfungsi sebagai kerangka bagi sel-sel lemak pasien sendiri untuk mengembalikan volume wajah tanpa operasi.
CEO L&C Bio Co, Lee Whan Chul, mengakui bahwa pertanyaan dari seluruh dunia terus berdatangan, didorong oleh popularitas K-beauty. Perusahaan sudah mengekspor Re20 ke Singapura dan Jepang, dan berencana memasuki pasar Australia, Hong Kong, Malaysia, Rusia, Thailand, dan Amerika Serikat tahun depan.
Bisnis yang Menggiurkan di Balik Tren
Kinerja keuangan L&C Bio pun melesat. Laba operasi kuartal pertama meningkat 917% dari tahun sebelumnya menjadi 6 miliar won. Perusahaan saat ini memproduksi 80.000 vial Re20 per bulan dan menargetkan 150.000 vial pada paruh kedua tahun ini, serta 300.000 dalam beberapa tahun ke depan.
Menurut laporan Precedence Research, pasar produk anti-penuaan global diperkirakan mencapai US$ 150 miliar pada 2035. Asia akan memimpin ekspansi ini, didorong oleh meningkatnya pendapatan, pengaruh media sosial, dan populasi yang menua dengan cepat. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan pada tahun 2050, satu dari lima orang di dunia akan berusia di atas 60 tahun.
Sebagai umat yang beriman, kita diajak untuk merenung. Kecantikan sejati bukanlah sekadar kulit yang kencang dan bebas kerut. Ada nilai-nilai spiritual yang lebih dalam: menjaga kehormatan jenazah, menghargai ciptaan Allah, dan tidak tergoda oleh gemerlap dunia yang fana. Semoga kita selalu diberi petunjuk untuk memilih jalan yang diridhai-Nya.