Sembilan sekolah dasar di wilayah pesisir Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, menggelar simulasi evakuasi mandiri pada 28 hingga 30 Oktober 2026 sebagai bagian dari peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Anak-anak dilatih menyelamatkan diri sendiri sekaligus membimbing temannya, sebuah pelajaran hidup yang membentuk karakter dan keberanian sejak dini.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Save the Children Indonesia bersama mitra pelaksana Yayasan CIS Timor Indonesia, dengan dukungan pendanaan dari Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia melalui Australian NGO Cooperation Program. Menurut Pos Kupang, kegiatan ini mengusung semangat Anak Siaga, Sekolah Tangguh, Generasi Siap Menghadapi Bencana.
Mengapa Kupang Pilih Sekolah Pesisir
Wilayah pesisir Kabupaten Kupang menghadapi rangkaian ancaman bencana terkait iklim yang tidak bisa dianggap enteng. Banjir rob, gelombang pasang, abrasi pantai, angin kencang, dan cuaca ekstrem menghantui keseharian warga. Dalam situasi seperti inilah kesiapsiagaan anak menjadi urusan bersama, bukan sekadar tugas sekolah.
Imelda Adu S.P, Project Manager Program GENRE-CIS Timor, dalam rilis yang dikirim ke Pos Kupang pada Rabu 28 Oktober 2026 menjelaskan bahwa simulasi ini menjadi momentum memperkuat kesiapsiagaan warga sekolah. Yosep Molan Tapun menjabat sebagai Program Manager GENRE Save the Children.
Simulasi digelar serentak di sembilan sekolah dampingan Program GENRE, termasuk satu Sekolah Luar Biasa, di Kecamatan Kupang Barat, Kecamatan Semau, dan Kecamatan Semau Selatan. Salah satu kegiatan utama berlangsung di Desa Tablolong pada 30 Oktober 2026.
Simulasi yang Melatih Kepemimpinan Anak
Yang membedakan kegiatan ini dari pembelajaran kebencanaan biasa adalah anak-anak tidak hanya duduk mendengarkan materi. Mereka mempraktikkan langsung langkah penyelamatan diri, mulai dari mengenali tanda peringatan dini, memahami jalur evakuasi, melindungi diri, hingga bergerak tertib menuju titik kumpul yang aman.
Ada satu hal yang layak direnungkan. Anak-anak dilibatkan langsung dalam kepemimpinan kesiapsiagaan sekolah melalui peran Kapten Evakuasi Kelas. Mereka dilatih mengarahkan teman-temannya, terutama siswa kelas bawah, agar mengikuti prosedur evakuasi dengan aman dan tertib.
Pendekatan ini juga membuka ruang bagi kepemimpinan anak perempuan serta memastikan kesiapsiagaan dapat diakses semua anak, termasuk anak penyandang disabilitas dan anak yang membutuhkan pendampingan khusus. Dalam Islam, menjaga nyawa adalah salah satu maqashid syariah yang paling utama. Melatih anak menyelamatkan diri dan melindungi sesamanya adalah amal yang bernilai ibadah.
Kolaborasi Warga dan Pemerintah Desa
Simulasi ini melibatkan BPBD Kabupaten Kupang, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, komite sekolah, pemerintah desa dan kecamatan, masyarakat sekitar, serta unsur relawan kebencanaan. Sekolah model di Desa Tablolong menghubungkan Tim Siaga Bencana Sekolah dengan warga melalui Forum Pengurangan Risiko Bencana dan relawan Desa Tangguh Bencana.
Kolaborasi semacam ini mengingatkan kita pada tradisi gotong royong yang mengakar di negeri ini. Keselamatan anak bukan tanggung jawab sekolah semata, melainkan amanah seluruh komunitas. Sebagaimana Victory News melaporkan, sembilan sekolah dampingan GENRE di Kabupaten Kupang mengikuti simulasi evakuasi mandiri tersebut pada 28 hingga 30 Oktober 2026.
Gerakan Kesiapsiagaan dari Rumah Ibadah
Semangat serupa tumbuh di berbagai penjuru Nusantara. Di Banten, seminar nasional dalam rangkaian Bulan PRB 2026 mendorong kesiapsiagaan bencana berbasis rumah ibadah, menggeser penanggulangan dari sekadar penanganan darurat menuju pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan, sebagaimana diberitakan VIVA.co.id.
Tidak jauh berbeda, Dompet Dhuafa menggelar program Sekolah Siaga Bencana di sebuah sekolah Islam dan pondok pesantren di Serang, Banten, memadukan momen Bulan PRB dengan Hari Santri Nasional. Santri dilatih siaga bencana sekaligus menjaga negeri, sebuah bukti bahwa pesantren terus berperan mencetak generasi yang tangguh lahir dan batin.
Dari Timor hingga Banten, pesannya satu: bangsa ini belajar dari bencana, dan anak-anak adalah garda terdepan perubahan itu.
Dari Seremoni Menjadi Budaya Keselamatan
Program GENRE berharap simulasi bencana tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Yang dicita-citakan adalah praktik rutin yang dijalankan secara mandiri oleh sekolah, sehingga pengetahuan dan keterampilan anak terus diasah dan menjadi bagian dari budaya keselamatan di sekolah maupun di rumah.
Ada hikmah besar dalam semua ini. Kesiapsiagaan bukan hanya soal mengetahui apa yang harus dilakukan saat bencana datang. Ia juga soal memastikan setiap anak punya kesempatan menyelamatkan diri dan berperan melindungi sesamanya. Anak yang siap menghadapi bencana hari ini adalah generasi tangguh di masa depan.
Di pesisir Kupang, pelajaran itu kini dipraktikkan dengan kaki menjejak tanah Timor, tangan saling merangkul, dan hati yang dijaga iman.
Pertanyaan Umum
Kapan simulasi evakuasi di Kabupaten Kupang dilaksanakan?
Simulasi digelar pada 28 hingga 30 Oktober 2026 di sembilan sekolah dasar pesisir Kabupaten Kupang, dengan kegiatan utama di Desa Tablolong pada 30 Oktober 2026.
Siapa penyelenggara program ini?
Save the Children Indonesia bersama Yayasan CIS Timor Indonesia, didukung pendanaan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia melalui Australian NGO Cooperation Program.
Apa itu Kapten Evakuasi Kelas?
Peran yang diberikan kepada anak-anak untuk memimpin dan mengarahkan teman-temannya, terutama siswa kelas bawah, mengikuti prosedur evakuasi dengan aman dan tertib.
