IHSG ditutup turun 1,99% ke level 5.266,13 pada perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026, namun di tengah tekanan pasar itu tiga emiten tetap mencatatkan kabar menggembirakan. RATU dan ERAL membukukan pertumbuhan laba yang pesat, sementara Bank Syariah Indonesia (BRIS) menyiapkan buyback saham senilai maksimal Rp500 miliar.
Pelipur lara di tengah bursa yang merah itu datang dari berbagai arah, dan salah satunya justru dari bank syariah. Menurut laporan detik Finance, langkah BRIS meneguhkan keyakinan bahwa keuangan syariah di Tanah Air bukan sekadar bertahan, melainkan tumbuh percaya diri.
IHSG tertekan, begini rincian pergerakannya
Tekanan jual di bursa domestik tidak bisa dipisahkan dari rebalancing indeks WisdomTree yang mengeluarkan 23 emiten, termasuk TLKM, PTBA, PGAS, dan BREN. ETF EIDO turun 1,71%, sementara indeks MSCI Indonesia melemah 1,33%.
Investor asing masih mencatatkan penjualan bersih. Di pasar reguler net sell mencapai Rp700,88 miliar, sedangkan di seluruh pasar tercatat Rp668,26 miliar.
Dari 11 sektor yang diperdagangkan, 10 sektor berakhir melemah. Sektor energi turun paling dalam dengan koreksi 3,33%. Hanya sektor industri yang menguat, yakni 1,43%.
Meski demikian, sejumlah saham masih menjadi penopang indeks. UNTR naik 6,00%, ASII menguat 1,54%, sementara BOGA mencatat kenaikan 22,88%. Di sisi lain, TLKM turun 4,89%, AMMN melemah 5,05%, dan BYAN terkoreksi 4,10%.
Menariknya, bursa AS justru bergerak positif. Dow Jones naik tipis 0,03% ke level 52.377, S&P 500 menguat 0,60% ke 7.722, dan Nasdaq bertambah 1,18% ke 26.477.
BRIS siapkan buyback Rp500 miliar
Di tengah gejolak itulah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mengambil langkah yang menarik perhatian. Bank pelat merah milik negara ini menyiapkan pembelian kembali saham atau buyback dengan dana maksimal Rp500 miliar yang berasal dari kas internal perseroan.
Buyback dilakukan tanpa RUPS dalam kondisi pasar yang mengalami fluktuasi signifikan. Pelaksanaannya berlangsung melalui Bursa Efek dengan menggunakan satu anggota bursa, pada periode 27 Oktober 2026 hingga 26 Januari 2027, sebagaimana dilaporkan Kontan.
Secara proforma, aksi tersebut membuat total aset BRIS menjadi Rp464,01 triliun, turun tipis dari posisi sebelumnya Rp464,51 triliun. Total ekuitas diproyeksikan menjadi Rp50,54 triliun dari sebelumnya Rp51,04 triliun. Rasio kecukupan modal atau CAR diperkirakan menjadi 20,19%, dibandingkan sebelumnya 20,41%.
Langkah BRIS menyusul jejak bank pelat merah konvensional lainnya. Menurut IDNFinancials, BMRI, BBRI, dan BBNI telah melakukan langkah serupa di tengah gejolak pasar saham. Bahkan, menurut MediaKompeten, anjloknya IHSG terjadi saat asing mencatat jual bersih, sehingga buyback BRIS bisa dibaca sebagai bentuk keyakinan manajemen terhadap nilai sahamnya sendiri.
RATU catat lonjakan laba 113%
PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) membukukan lonjakan laba bersih 113,20% secara tahunan menjadi USD 25,09 juta hingga sembilan bulan pertama 2026, dari sebelumnya USD 11,77 juta. Total laba periode berjalan juga meningkat 170,90% menjadi USD 32,12 juta.
Meski begitu, kenaikan laba tersebut belum sepenuhnya berasal dari pertumbuhan pendapatan usaha. Pendapatan RATU hanya tumbuh 7,20% menjadi USD 40,31 juta.
Kontribusi besar datang dari bagian laba entitas asosiasi yang melonjak 345,20% menjadi USD 19,24 juta, ditambah keuntungan satu kali dari pembelian dengan diskon sebesar USD 3,91 juta.
Akuisisi Blok Madura ubah wajah RATU
Kinerja tersebut berkaitan dengan langkah RATU mengakuisisi 20% saham Husky-CNOOC Madura Limited (HCML), operator Blok Madura. Aksi korporasi ini menambah portofolio participating interest RATU yang sebelumnya mencakup Blok Cepu, Jabung, dan Kasuri.
Ekspansi tersebut membuat skala neraca perseroan meningkat pesat. Total aset RATU naik 212,30% menjadi USD 237,38 juta, sementara investasi pada entitas asosiasi melonjak 1.626,70% menjadi USD 130,12 juta.
Namun jalan menuju pertumbuhan selalu menuntut pengorbanan. Pendanaan akuisisi melalui utang membuat beban keuangan meningkat 351,10%, dan total liabilitas RATU naik 702,50% menjadi USD 155,79 juta.
ERAL: laba naik 55%, otomotif jadi motor
PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) atau Erajaya Active Lifestyle juga mencatat pertumbuhan kinerja hingga kuartal III 2026. Laba bersih perseroan mencapai Rp193,84 miliar, naik 55,08% dari Rp124,99 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penjualan ERAL tumbuh 44,71% menjadi Rp6,21 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang bisnis otomotif yang mencatat kenaikan luar biasa.
Pendapatan segmen otomotif melonjak 784% menjadi Rp1,99 triliun dari sebelumnya Rp225,24 miliar. Kontribusinya kini mencapai sekitar 32% dari total penjualan ERAL, mengubah komposisi bisnis yang sebelumnya lebih banyak berasal dari segmen aksesoris dan IoT sebesar Rp2,36 triliun serta fashion apparel sebesar Rp1,25 triliun.
Dari sisi profitabilitas, laba kotor ERAL tumbuh 47,54%. Namun ekspansi juga diikuti kenaikan biaya. Beban penjualan dan distribusi naik 61,24%, sedangkan beban keuangan meningkat 68,78%. Kinerja segmen otomotif selanjutnya perlu diperhatikan, terutama dari sisi efisiensi biaya dan kemampuan mempertahankan margin.
Rekomendasi saham hari ini
- ERAL: Buy 310-314, TP 320-326, SL 294
- INTP: Buy 5.850-5.900, TP 6.050-6.125, SL 5.500
- PWON: Buy 288-294, TP 298-304, SL 278
- ASGR: Buy 2.430-2.450, TP 2.500-2.550, SL 2.310
- ISSP: Buy 460-464, TP 474-484, SL 436
Tanya jawab
Berapa dana buyback yang disiapkan BRIS?
BRIS menyiapkan buyback saham dengan dana maksimal Rp500 miliar yang berasal dari kas internal perseroan, berlangsung 27 Oktober 2026 hingga 26 Januari 2027.
Berapa kenaikan laba bersih RATU?
Laba bersih RATU naik 113,20% menjadi USD 25,09 juta hingga sembilan bulan pertama 2026, terutama didorong akuisisi 20% saham HCML, operator Blok Madura.
Berapa laba bersih ERAL di kuartal III 2026?
Laba bersih ERAL mencapai Rp193,84 miliar, naik 55,08% dari Rp124,99 miliar, dengan penjualan Rp6,21 triliun yang ditopang lonjakan segmen otomotif 784%.
