Porsi simpanan nasabah yang memperoleh bunga di atas tingkat bunga penjaminan (TBP) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) naik menjadi 36,06 persen pada September 2026, meningkat dari 34 persen pada bulan sebelumnya. Menurut laporan kontan.co.id, kondisi ini mencerminkan persaingan ketat antarbank dalam menghimpun dana pihak ketiga, dan permintaan bunga khusus atau special rate diperkirakan masih bertahan hingga akhir 2026.
Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu mengatakan kenaikan tersebut terutama berasal dari simpanan nasabah korporasi swasta dan badan usaha milik negara (BUMN). Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada Selasa, 3 November 2026.
"LPS terus mencermati perkembangan tersebut, terutama dalam kaitannya dengan persaingan penghimpunan dana dan dampaknya terhadap kondisi masing-masing bank," ungkap Anggito dikutip kontan.co.id.
Mengapa persaingan dana perbankan masih ketat?
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai permintaan special rate dari deposan besar masih relatif tinggi, meskipun mulai terlihat upaya penyesuaian bertahap. Persaingan dana dinilai ketat karena pertumbuhan kredit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga. Pada September 2026, kredit perbankan tumbuh 13,26 persen secara tahunan, sedangkan dana pihak ketiga hanya tumbuh 8,22 persen.
Kesenjangan ini membuat bank masih membutuhkan dana untuk mendukung ekspansi kredit. Di sisi lain, pemilik dana besar memiliki daya tawar yang kuat karena dapat memindahkan simpanannya ke bank lain maupun instrumen investasi alternatif. CNBC Indonesia juga mencatat kenaikan rasio simpanan bunga di atas LPS rate dari 34 persen menjadi 36,06 persen pada September 2026.
Namun, Josua menegaskan tekanan bunga khusus tidak serta-merta menunjukkan industri perbankan kekurangan likuiditas secara keseluruhan. Rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) masih memadai di level 24,08 persen.
"Persoalan utamanya adalah konsentrasi dana pada deposan besar yang memiliki kemampuan memindahkan simpanan antarbank," jelas Josua.
Kelompok deposan besar itu didominasi korporasi swasta, disusul rekening pemerintah, BUMN, lembaga keuangan nonbank, serta individu berkekayaan besar. Bagi korporasi, penempatan deposito adalah bagian dari strategi pengelolaan kas, sehingga imbal hasilnya akan dibandingkan dengan surat berharga negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), maupun instrumen pasar uang lainnya.
Strategi bank mengurangi ketergantungan dana mahal
Untuk mengurangi ketergantungan pada deposito berbunga tinggi, bank perlu memperbesar penghimpulan dana murah atau current account and savings account (CASA). Caranya antara lain memperkuat layanan transaksi, penggajian atau payroll, pengelolaan kas korporasi, serta pembiayaan rantai pasok.
Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan masyarakat kini punya banyak alternatif menempatkan dana, seperti obligasi ritel ORI, SBN, hingga SRBI. Namun bagi masyarakat luas, tabungan dan deposito tetap menjadi pilihan karena nilai penempatannya relatif kecil.
"Maka fokus kami tetap di CASA untuk dana yang lebih murah. Lewat payroll, operating account, cash management, dan memang pengelolaan likuiditas yang lebih efisien menjadi semakin penting. Melihat NIM akan tetap challenging," ujar Lani.
Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo mengatakan persaingan dana masih menjadi tantangan utama perbankan, baik dengan bank konvensional, sesama bank digital, maupun instrumen investasi ritel seperti SBN. Kemampuan menabung masyarakat, terutama segmen menengah ke bawah, juga masih dipengaruhi daya beli.
"Keempat, mengelola pricing simpanan secara dinamis dan selektif berdasarkan tenor dan segmen. Dengan pendekatan ini, kami optimistis dapat menutup tahun 2026 dengan struktur pendanaan yang lebih kuat," kata Destya.
Sementara itu, Direktur Network & Retail Funding BTN Rully Setiawan mengatakan tren pemberian special rate di BTN secara umum menunjukkan penurunan seiring arahan regulator dan kondisi pasar likuiditas yang lebih stabil. BTN memperkuat penghimpunan tabungan dan transaksi melalui aplikasi Bale, Bale Bisnis, dan Bale Korpora, serta menawarkan instrumen lain seperti obligasi dan layanan wealth management.
Pelajaran bagi umat: kehati-hatian dalam mengelola amanah
Dari sudut pandang keimanan, fenomena ini menjadi pengingat bahwa harta adalah amanah yang harus dikelola dengan bijak. Islam mengajarkan umatnya untuk tidak sekadar mengejar imbal hasil setinggi mungkin, tetapi juga memperhatikan keberkahan dan kehati-hatian. Bagi nasabah Muslim, kehadiran beragam instrumen termasuk keuangan syariah membuka ruang menempatkan dana sesuai prinsip yang diyakini.
Survei perbankan memperkirakan biaya dana rupiah meningkat dari sekitar 4,17 persen pada kuartal III menjadi 4,39 persen pada kuartal IV 2026. Bisnis.com mencatat net interest margin (NIM) perbankan masih menghadapi tekanan karena biaya dana yang terus meningkat hingga akhir tahun ini.
Dengan strategi penguatan CASA, pengelolaan pricing yang selektif, dan pemanfaatan layanan digital, perbankan diharapkan dapat menekan biaya dana serta menjaga ruang pertumbuhan margin bunga bersih, sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat yang menitipkan dananya di bank.
Pertanyaan yang sering diajukan
Berapa rasio simpanan dengan bunga di atas LPS pada September 2026?
Rasio simpanan dengan bunga di atas tingkat penjaminan LPS mencapai 36,06 persen pada September 2026, naik dari 34 persen pada Agustus 2026.
Apakah special rate diperkirakan masih bertahan?
Ya. Chief Economist Permata Bank Josua Pardede memperkirakan penggunaan bunga khusus masih bertahan hingga akhir 2026, tetapi penerapannya semakin selektif.
Apakah kenaikan special rate menandakan bank kekurangan likuiditas?
Belum tentu. Rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga masih memadai di level 24,08 persen. Persoalan utamanya adalah konsentrasi dana pada deposan besar yang mudah memindahkan simpanan.
Apa strategi bank untuk mengurangi dana mahal?
Bank memperbesar penghimpulan dana murah (CASA) melalui layanan payroll, cash management, aplikasi digital, serta pengelolaan pricing simpanan yang dinamis dan selektif.
