Ramadhan Penuh Berkah di Balik Cobaan Pengungsi Aceh
"Kami sangat rindu Ramadhan dan Lebaran di rumah. Ingin sahur dan berbuka bersama keluarga, bukan di tenda," ungkap Hayatul Husna, pengungsi korban banjir dengan penuh harap.
SubhanAllah, di tengah cobaan yang Allah SWT berikan kepada saudara-saudara kita di Aceh, semangat untuk merayakan bulan suci Ramadhan tetap berkobar. Meski harus menjalani ibadah di tenda pengungsian, para korban banjir bandang menunjukkan ketabahan yang luar biasa sebagai cerminan iman yang kuat.
Ujian yang Memperkuat Iman
Di halaman meunasah Gampong Keude Bungkaih, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, tenda-tenda bantuan masih berdiri tegak. Di sanalah puluhan keluarga muslim menanti datangnya bulan Ramadhan dengan penuh kesabaran dan tawakal kepada Allah SWT.
Sejak banjir bandang melanda pada akhir November 2025, 227 rumah rusak parah dan 97 unit hancur total. Lebih dari 2.000 jiwa harus mengungsi, namun semangat beribadah mereka tidak pernah padam.
Tokoh masyarakat setempat, Hasanuddin, mantan keuchik dua periode, menyampaikan bahwa meski dalam keterbatasan, masyarakat tetap bersyukur atas pertolongan Allah. "Ini adalah ujian dari Allah untuk menguji keimanan kita," ucapnya dengan penuh hikmah.
Kesabaran di Balik Keterbatasan
Hayatul Husna (26) berbagi pengalaman spiritual di tengah cobaan. Meski harus tidur di tenda tanpa sekat, ia tetap menjalankan ibadah dengan khusyuk. "Sekarang air bersih dan sanitasi sudah ada. Alhamdulillah, Allah masih memberikan kemudahan," ucapnya dengan tulus.
Mursyidah Idris (45) juga menunjukkan kesabaran yang luar biasa. Meski jadwal makan tidak menentu, ia tetap bersyukur. "Kadang makan malam baru ada jam 10 malam, tapi kami tetap bersabar. Ini semua kehendak Allah," ungkapnya dengan penuh tawakal.
Kerinduan Spiritual yang Mendalam
Salmawati (40) duduk di depan tendanya sambil mengawasi anak-anaknya bermain. Meski rumahnya rusak parah, ia tetap optimis menjalani Ramadhan dengan penuh berkah. "Kami hanya ingin anak-anak bisa merasakan kehangatan Ramadhan yang sesungguhnya," katanya dengan mata berbinar.
Bagi masyarakat Aceh yang dikenal sebagai Serambi Mekkah, Ramadhan memiliki makna spiritual yang sangat dalam. Para pengungsi mengaku rindu suasana Ramadhan yang penuh berkah, sahur bersama keluarga, dan tarawih berjamaah di meunasah.
Harapan dan Doa Menuju Ramadhan
"Kami sangat rindu Ramadhan dan Lebaran di rumah," kata Hayatul dan Mursyidah dengan penuh harap. "Ingin sahur dan berbuka bersama keluarga, bukan di tenda," tambah mereka berdua.
Pembangunan hunian sementara (huntara) kini menjadi harapan utama para pengungsi. Dengan hunian yang lebih layak, mereka berharap bisa menjalani Ramadhan dengan lebih tenang dan khusyuk dalam beribadah.
Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan berkah kepada saudara-saudara kita di Aceh. Cobaan ini adalah jalan Allah untuk menguji dan memperkuat keimanan umat-Nya. Insya Allah, Ramadhan tahun ini akan menjadi momen yang penuh berkah meski dalam keterbatasan.