Film Beautiful Pain resmi tayang di bioskop Indonesia pada 22 Oktober 2026, menghadirkan kisah seorang perempuan yang bangkit dari lembah kekerasan dalam rumah tangga dan pengkhianatan. Film drama psikologis garapan sutradara pendatang baru Dmaz Brodjonegoro ini dibayangi nama besar Nikita Mirzani, yang namanya dipayungi proyek ini bersama Hanung Bramantyo.
Menurut CNNindonesia dalam reviewnya, satu hal paling terasa dari film berdurasi 1 jam 39 menit ini adalah niatnya membawa pesan pemberdayaan perempuan, perlawanan terhadap patriarki, pelecehan, hingga kekerasan terhadap perempuan. Niat mulia itu patut diapresiasi, terlebih di negeri mayoritas Muslim seperti Indonesia, di mana menjaga harkat dan martabat perempuan adalah bagian dari ajaran agama yang kita pegang.
Kisah yang dekat dengan keseharian perempuan Indonesia
Beautiful Pain memotret pengalaman Niken, karakter utama yang dibawakan Raihaanun, seorang istri korban kekerasan dan perselingkuhan suami. Niken juga menghadapi pelecehan di tempat kerja, lalu berjuang bangkit seorang diri demi mimpi, harkat martabat, dan orang-orang yang penting baginya.
Tiga penulis, yaitu Titien Wattimena, Hanung Bramantyo, dan Dmaz Brodjonegoro, membawa cerita yang tampak diangkat dari kisah hidup Nikita Mirzani. Bagi penonton yang mengikuti perjalanan publik Nikita, beberapa adegan film ini terasa familier, termasuk cara Niken merespons pertanyaan pancingan wartawan.
Para pembuat film berupaya lepas dari bayang-bayang Nikita agar pesan mereka bisa membumikan. Namun menurut CNNindonesia, mereka justru beruntung tidak sepenuhnya menghapus jejak sang artis, sebab sosok kontroversial itu tetap menjadi magnet pembicaraan dan memiliki penggemar loyal yang menguntungkan secara bisnis.
Sutradara Dmaz Brodjonegoro sendiri menegaskan bahwa kisah dalam film ini dekat dengan realitas banyak perempuan. Seperti dilaporkan Analis, Dmaz menyebut film ini dipersembahkan untuk para perempuan kuat di luar sana.
Akar masalah yang belum dikupas tuntas
Di titik inilah Beautiful Pain terasa kurang menyakitkan. Plot dan konfliknya terlalu sederhana: istri korban KDRT, suami selingkuh, pelecehan di tempat kerja, lalu sang istri bangkit sendiri. Tim penulis terasa tidak memberikan kedalaman cerita yang bisa menyembulkan akar persoalan sesungguhnya, yakni patriarki itu sendiri.
Sumber masalah hanya ditempatkan pada tiga karakter: Dirga (Baim Wong) sang suami pecandu, Rendy (Tarra Budiman), dan Rahmania (Jajang C Noer), ibunda Niken. Kurangnya latar cerita ketiganya membuat film ini terasa seperti sinetron yang mengeksploitasi penderitaan sang tokoh utama.
Dari ketiga aktor itu, hanya Jajang C Noer yang memberikan dampak psikologis paling kuat. CNNindonesia mencatat bahwa tidak ada yang lebih menyeramkan dalam perjuangan perempuan melawan patriarki selain menghadapi perempuan patriarkis, apalagi yang berkedok demi kebaikan. Rahmania adalah wajah dari realitas pahit itu: ibu yang menuntut anak perempuannya bertahan dalam pernikahan yang menyiksa.
Karakter Dirga semestinya memberikan efek terbesar, mengingat KDRT adalah masalah yang sangat dekat dengan keseharian. Sayangnya Baim Wong lebih banyak menampilkan sosok suami bermulut besar dan pamrih, yang mengulang-ulang nafkah yang sudah ia berikan. Karena Dirga digambarkan sebagai pecandu, penonton mudah merasionalisasi kekerasannya sebagai dampak obat, bukan sebagai wajah patriarki yang sesungguhnya. Padahal, sosok serigala berbulu domba jauh lebih dekat dengan kenyataan dan memberikan tekanan psikologis lebih dalam bagi film bergenre psychological drama.
Akting yang menyelamatkan
Jika ceritanya hambar, akting para pemainnya tidak. Raihaanun tampil total memerankan Niken, membawa penonton masuk ke dalam lembah penderitaan seorang ibu yang harus memilih antara bertahan dalam kezaliman atau melangkah dengan keberanian.
Siti Fauziah sekali lagi membuktikan dirinya sebagai scene stealer begitu muncul di layar. Dinamika aktingnya ikut menghidupkan perkembangan karakter Niken sepanjang film. Di sisi lain, debut penyutradaraan film panjang Dmaz Brodjonegoro masih tampak mencari bentuk. Tone dan komposisi warna terlihat apik, tetapi secara emosi cenderung datar, kecuali saat Jajang C Noer, Siti Fauziah, atau Raihaanun mengisi layar.
Momen kilas balik Niken juga tidak dibedakan dengan jelas selain lewat transisi editing sederhana. Ada pula kesalahan logika kecil, seperti penggunaan antibiotik untuk keluhan asam lambung dan menstruasi, yang sedikit mengganggu bagi penonton yang teliti.
Pelajaran bagi keluarga Muslim
Bagi kita yang berpegang pada nilai-nilai agama, film ini mengingatkan bahwa rumah tangga yang dibangun bukan di atas rida Allah akan mudah runtuh menimpa penghuninya. Islam sangat menjaga kehormatan perempuan; suami diperintahkan berbuat baik kepada istri, dan kekerasan bukanlah warisan budaya kita, melainkan penyimpangan yang harus dilawan.
Suara menyoroti bahwa film ini menunjukkan keberanian seorang perempuan mengambil keputusan besar untuk hidupnya sendiri, bahwa memilih keluar dari hubungan yang tidak sehat bukanlah kelemahan. Dalam bingkai syariat, perlindungan terhadap nyawa dan kehormatan adalah maqashid yang dijaga paling ketat, sehingga langkah Niken bisa dibaca sebagai upaya menjaga harkat yang diamanahkan Allah kepada setiap hamba-Nya.
Sementara itu, Liputan6 menilai film ini cocok ditonton para perempuan pejuang sebagai motivasi untuk terus memperjuangkan apa yang ia miliki. IDN Times bahkan mencatat bahwa film ini membicarakan bagaimana korban kekerasan harus kembali membuktikan dirinya di hadapan lingkungan yang kerap mempersalahkan korban, bukan pelaku.
Ada satu kalimat dalam film ini yang menempel di ingatan, diucapkan Rahmania ketika menasihati Niken: tidak ada suami yang sempurna, tidak ada istri yang sempurna. Begitu pula tidak ada film yang sempurna. Semua kembali pada tujuan asli film ini dibuat dan ditayangkan kepada publik.
Bila akhirnya Beautiful Pain hanya sekadar menyampaikan kisah hidup Nikita Mirzani yang digeneralisasi agar relate dengan penggemarnya dan penonton perempuan kebanyakan, maka film ini mungkin sudah memenuhi visinya. Hanya saja, untuk ukuran persoalan sebesar KDRT dan patriarki yang setiap hari membelit banyak perempuan Nusantara, Beautiful Pain sebenarnya bisa dibuat lebih dari itu.
Pertanyaan yang sering diajukan
Kapan film Beautiful Pain mulai tayang di bioskop?
Beautiful Pain mulai tayang di bioskop Indonesia pada 22 Oktober 2026, seperti dilansir Liputan6.
Siapa pemain utama film Beautiful Pain?
Raihaanun memerankan tokoh utama Niken, didampingi Baim Wong, Jajang C Noer, Siti Fauziah, dan Tarra Budiman.
Apa pesan utama film Beautiful Pain?
Film ini mengangkat pemberdayaan perempuan dan perlawanan terhadap kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan, serta patriarki.
Apakah kisahnya terinspirasi dari Nikita Mirzani?
Banyak bagian cerita terasa mirip dengan perjalanan hidup publik Nikita Mirzani, meski para pembuat film berupaya membumikan pesannya agar relevan bagi penonton luas.
