Saham GOTO Dilepas MSCI, Analis Sarankan Reverse Stock Split demi Selamatkan Likuiditas
Jakarta, Nur Nusantara - Kabar kurang menggembirakan datang dari PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), resmi mengeluarkan saham perusahaan teknologi pelat merah ini dari MSCI Global Standard Indexes. Keputusan ini tentu menjadi ujian bagi GOTO untuk membuktikan ketangguhannya di tengah dinamika pasar modal.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, mengungkapkan bahwa langkah MSCI ini menghilangkan potensi katalis re-rating bagi saham GOTO. Menurutnya, perseroan perlu menyelesaikan persoalan likuiditas terlebih dahulu sebelum berpeluang kembali masuk ke dalam indeks bergengsi tersebut.
Minat institusional makin terbatas karena banyak fund dengan mandat berbasis MSCI-tracking yang tidak bisa menahan saham yang bukan lagi konstituen indeks, jelas Wafi kepada Kontan, Jumat (14/8/2026).
Apa yang Terjadi dengan Harga Saham GOTO?
Harga saham GOTO memang masih bertahan di level Rp50 per saham, meski perseroan telah membukukan laba. Namun, Wafi menyoroti adanya disparitas harga yang mencolok antara pasar nego dan pasar reguler. Transaksi di pasar nego tercatat di level Rp30 per saham sejak awal Agustus 2026, jauh di bawah harga pasar reguler.
Kondisi ini disebut Wafi sebagai liquidity trap yang semakin dalam. Perbedaan harga tersebut menjadi sinyal bahwa permintaan terhadap saham GOTO sangat terbatas. Penjual yang membutuhkan exit cepat terpaksa menerima diskon signifikan dari harga Rp50.
Pasar reguler dengan volume offer yang hanya berkisar ratusan juta rupiah membuat sulit bagi investor untuk keluar dari posisi dalam jumlah besar. Pasar negosiasi pun menjadi alternatif, namun dengan opportunity cost yang harus diterima, tutur Wafi.
Mengapa Reverse Stock Split Menjadi Solusi yang Bijak?
Wafi menegaskan, tanpa adanya aksi korporasi seperti reverse stock split atau langkah company action lainnya, kondisi liquidity trap ini berpotensi terus bertahan. Ia pun menyarankan agar regulator dapat memfasilitasi opsi ini atau meninjau ulang mekanisme trading khusus untuk kasus semacam ini.
Namun, Wafi mengingatkan bahwa intervensi yang terlalu jauh, seperti dukungan harga secara artifisial (artificial price support), justru bersifat kontraproduktif dan bertentangan dengan prinsip pasar yang tengah direformasi menuju price discovery yang sehat.
Saran paling prudent adalah mendorong solusi di level perusahaan seperti reverse stock split, dibandingkan intervensi regulasi yang lebih invasif, ujar Wafi.
Langkah ini dinilai dapat memulihkan eligibilitas GOTO untuk kembali masuk MSCI jika metrik likuiditas mengalami perbaikan. Selain itu, Wafi juga menyoroti pentingnya kelanjutan pencapaian kinerja laba (continued earnings delivery) yang secara genuine mengonfirmasi narasi turnaround perusahaan, serta resolusi terhadap overhang regulasi lain, termasuk dampak Peraturan Presiden (Perpres) 27/2026 terhadap sektor mobility.
Apa Kata Analis Lain tentang Masa Depan Saham GOTO?
Secara terpisah, Co-Founder Alphagate Capital dan mantan Chief Indonesia Strategist J.P. Morgan, Henry Wibowo, juga memperkirakan tekanan jual terhadap saham GOTO berpotensi meningkat setelah pengumuman tersebut. Namun, saat ini harga saham GOTO masih bertahan di batas harga minimum Rp50 per saham.
Henry melihat transaksi di pasar negosiasi terjadi pada kisaran Rp30-Rp45 per saham. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan antara harga di pasar reguler dan tingkat harga yang terbentuk melalui mekanisme negosiasi.
Menurut kami, penting bagi GOTO dan regulator untuk mencari mekanisme yang dapat memberikan solusi bagi seluruh pemangku kepentingan, sekaligus memungkinkan proses price discovery yang lebih baik dan meningkatkan likuiditas saham, papar Henry.
Selain reverse stock split, Henry menyarankan opsi lain seperti berdiskusi dengan Bursa Efek Indonesia mengenai kemungkinan penyesuaian batas harga minimum Rp50 per saham. Alternatif lainnya adalah GOTO melakukan pembelian kembali saham di sekitar Rp50 per saham untuk memberikan tambahan likuiditas kepada pasar.
Secara neraca, perusahaan memiliki kapasitas yang cukup kuat untuk mempertimbangkan langkah tersebut, dengan posisi kas bersih lebih dari US$1 miliar, tambah Henry.
Apa Pelajaran yang Bisa Kita Petik dari Kasus GOTO?
Kasus GOTO ini mengajarkan kita tentang pentingnya kehati-hatian dan perencanaan matang dalam setiap langkah bisnis. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan keadilan, kita tentu berharap GOTO dapat melewati ujian ini dengan baik. Semoga langkah-langkah yang diambil ke depannya membawa berkah dan kemaslahatan bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat luas yang selama ini menggunakan layanan GOTO.
Kita juga berharap regulator dan semua pihak terkait dapat bekerja sama dengan bijak, mencari solusi yang tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi juga menjaga stabilitas pasar modal Indonesia secara keseluruhan. Dengan demikian, pasar modal kita dapat terus tumbuh menjadi pilar kekuatan ekonomi bangsa yang berkeadilan.
Wallahu a'lam bish-shawab.